Sekolah ini sedang dilanda gerimis, tatkala kamu sedang asik duduk dengan dia yang menjadi pilihanmu. Ada matamu yang pertama kali berbicara, bahwa dengan dia separuh hatimu masih mampu memanggil-manggil namaku.
Aku tidak ingin pergi. Hanya sekedar memalingkan beberapa penglihatan dari yang tidak aku inginkan. Bahkan saat tangannya menggenggam tanganmu, aku masih sanggup memasang mimik baik-baik saja. Meski begitu, bagiku kamu adalah istimewa, melebihi apa yang sebelumnya digambarkan sang pencipta. Tidak, aku bukannya menentang ciptaan-Nya. Aku hanya menghiperbolakan dirimu saja, seperti aku mengagumimu.
Tanpa menoleh ke arahmu, aku lanjutkan langkahku menyusuri lorong sekolahan yang lantainya sedikit basah sebab cipratan air hujan mengisyaratkan kesedihan. Setelah peristiwa yang terjadi kala itu. Aku egois terhadap perasaanku. Bersumpah tanpamu aku masih mampu baik-baik saja.
Namun sialnya, sebuah senyuman dan tatapan yang begitu hangat mampu membuatku mengingat bagaimana saat pertama kali aku jatuh hati padamu. Dan naasnya aku selalu menjadi korban rinduku yang mencekik seluruh hatiku.
Keesokan harinya pagi datang lagi, mentari masih saja enggan untuk menyapa bumi, katanya ini masih jam 4 pagi. Masih ada perasaan sama antara masa ini dan masa itu, yang menunggu kamu untuk sekedar membuat status tentangku. Dan lagi-lagi imajinasi menertawakanku karena selalu berhasil menemuimu dalam ingatanku.
Aku menyukai bola matamu yang coklat dan begitu hangat, dengan mata itu kau mampu membuatku tak bisa berkata-kata. Aku menyukai senyumanmu yang mempunyai zat adiktif. Dan suaramu yang membangunkan dari kesedihan yang mengistirahatkan.
Kalau saja aku mampu, akan kurebut kamu dari pacarmu, hanya untuk menunjukan beberapa pengorbanan untuk seseorang yang memang bagiku pantas untuk mendapatkan pengorbanan. Tapi, aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan tanpa berhenti mendoakan.
Aku siap untuk menjadi menjadi tempat keluh disaat kamu ingin, menjadi tempat istirahat di saat kamu lelah menghadapai dunia yang menurutmu begitu penat, sungguh aku ingin.
Terkadang sekelibat bayangmu sesekali melintas dalam pikiranku, berputar-putar riang dan aku yang selalu setia mengikutinya. Kadang, aku ingin saja sekali melihat apa yang ada dalam pikiranmu, apa yang kamu rasa dalam hatimu. Tak jarang aku juga ingin bertanya adakah aku disana? Pernahkah kamu merindukanku walau sesaat? Dan ketika rindu itu menghampiri, aku pandang foto konyolmu di galeri. Tatkala aku juga berpikir, kenapa kita harus di pertemukan jiga pada akhirnya dengannya kamu berikatan.
Dan, menyayangimu adalah keikhlasan. Bukan keikhlasan karena aku melepasmu, keikhlasan bahwa aku merelakanmu untuk tak bahagia denganku. Aku harap hari ini kau baik-baik saja. Aku harap kau mengerti arti ini. Tenang, aku mampu mencintaimu tanpa berpikir bagaimana jika kamu memang bukan untukku. Aku mengakhiri tulisan ini dengan rasa ketidakpastian yang menyelimuti kesedihan yang kini lambat-laun mulai menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah perjalanan
Novela Juvenil[KUMPULAN PUISI] Inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi dan Hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
