Awalnya rindu, tapi tak sedikitpun kabar tentangmu mampir ke telingaku. Bagaimana tidak rindu? Nyaris lima puluh hari dalam bulan-bulan yang lalu, sepasang mata ini melihat sosoknya berhadapan di ruang temu.
Aku menyingkirkan gengsi yang sudah sedari tadi bilang permisi, karena aku memikirkan hati. Jadi secepat tupai melompat aku mencari ke setiap tempat terdekat dimana aku bisa menemukanmu tiba-tiba lewat.
Perlahan-lahan mata pun mencari objeknya. Tapi ia lupa, justru disitulah terlahir luka. Jari beraksi seperti taksi membawa aku ketempat dimana segala kata dalam percakapanmu terasa istimewa buatnya. Mata pun jadi saksi, kini posisiku mulai terganti. Dari yang ada hadirnya terasa, kini menghilang dalam setiap ruang. Seketika kecewa mengudara, terjadilah unjuk rasa. Aku tau segalanya akan berujung pada sakit hati.
Seandainya bisa meredam mata dan jemari untuk tak mulai mencari.Tapi sepertinya jika soal dirinya, mata dan jemari punya seribu kaki untuk berlari mencari.
Buat apa menemukan, jika luka yang kau temukan. Buat apa mencari jika sesampainya disana kau hanya bisa gigit jari meratapi? Buat apa bertemu kalau yang kau lihat hanya tubuhnya saja? Mungkin, segala sifat dan jiwanya terbang diculik makhluk luar angkasa. Seandainya bisa memesan kau yang dulu pada Tuhan. Karena bertemu bukan solusi untuk mematikan rindu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah perjalanan
Novela Juvenil[KUMPULAN PUISI] Inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi dan Hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
