Berhentilah untuk menjadi satu-satunya suara yang kudengar dalam bisingnya diam, berhentilah untuk menjadi satu-satunya cahaya yang kulihat dalam gelapnya pejam, Dan berhentilah untuk menjadi satu-satunya nama dan rindu yang kutangisi.
Berhentilah menjadi roda kenangan yang masih berputar dalam kepala, biar kini benci yang kupeluk. Haruskah kita menipu diri?
Sesekali masih ada sorot mata memandang pasrah, usapan lembut bertanya-tanya perihal kabar dan kebahagiaan. Namun diam adalah pilihan yang kejam, berpura-pura lupa. Haruskah kita menipu diri?
Saling menatap satu ruang obrolan yang sudah lama sunyi, tak ada lagi yang dibagi, takjuga berpenghuni. Sudah sangat lama, sehingga lupa bagaimana rasanya tertawa berdua, berbagi rindu agar segera reda. Kita sama saja, egois. Memaksa rasa agar lupa dan jangan merindu, sebab temu tak akan lagi ada padahal rindu masih merana. Haruskah kita menipu diri?
Malam sebelum lelap dan pejam, ada dua doa yang terpanjat dan tercatat. Namun, sama-sama tidak akan berujung pengabulan.
Sebab, Tuhanmu berkata tidak begitupula dengan Tuhanku. Kita pasrah, sebab sudah kalah.
Jangan lagi menipu diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah perjalanan
Teen Fiction[KUMPULAN PUISI] Inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi dan Hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
