Chapter 20

450 34 5
                                        

Suasana kantin sedang ramai-ramainya sekarang. Hampir seluruh penghuni Sky High membawa kakinya ke tempat ini baik untuk mendapat sebotol air atau sekedar bercengkerama. Termasuk meja berhak paten The Romeo's yang kini telah menambah anggota baru, siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo. Soo Hyun sudah mulai melibatkan Myungsoo ke dalam lingkup pergaulannya dimulai dari geng nya. Awalnya Woohyun dan Sungyeol menolak keras ide itu tapi berakhir dengan diam dengan sendirinya. Soo Hyun pantas dijuluki muka tembok bila berhadapan dengan dua sahabat sejak kecilnya tersebut. Woohyun dan Sungyeol sudah bicara panjang kali lebar melebihi panjang sungai Han tapi yeoja itu tidak sedikit pun peduli atau membalasnya barang sekali. Soo Hyun terus bicara pada Myungsoo seakan Woohyun dan Sungyeol tidak ada. Myungsoo sendiri tampak acuh karena yang ia pedulikan hanya bisa dekat dengan Soo Hyun.

Seperti biasa, Woohyun selalu memulai pertengkaran dimeja makan tersebut. Entah menjahili Dongwoo atau mengambil daging milik Sungyeol, atau juga menggoda Soo Hyun yang memang menjadi hobinya. Woohyun juga tidak sungkan mengembat daging Myungsoo tanpa embel-embel permisi atau merasa bersalah. Woohyun berkata, "Anggap saja itu pajak duduk dimeja ini.". Woohyun seakan kebal dengan rentetan sumpah serapah yang ditujukan kepada dirinya karena terus membuat masalah. Contohnya, ketika Woohyun pertama kali mengendarai motor pemberian Yaze ke sekolah. Namja itu berlagak seperti raja jalanan dan membuat semua guru geram akibat suara bisik dari knalpot motornya. Jika diperbolehkan, mereka akan melepas knalpot itu dan melemparnya ke kepala sang pemilik. Dasar berandal!

Tiba-tiba Sungyeol yang semenjak tadi asik dengan ponselnya kini mendongak dan bicara, "Kenapa kau terus menatap sepupuku seperti itu? Kau jatuh cinta padanya?", guraunya.

Myungsoo tersenyum setengah sembari beralih menatap Sungyeol. "Ehm, Aku sangat terpesona sampai rasanya aku ingin melenyapkannya dari dunia ini.", jawabnya dingin, lebih dingin dari biasanya.

Semua orang mendongak menatap Myungsoo aneh. Mereka tahu kalau Myungsoo tidak pernah bersikap baik kepada Woohyun, tapi kali ini ucapan Myungsoo terasa sedikit berbeda.

Woohyun tersenyum tipis seraya melanjutkan makan siangnya. "Sayang sekali. Padahal aku sudah mulai terbiasa denganmu.", ujarnya datar. Tak tahu itu tulus atau tidak. Membuat yang lain hanya berkedip beberapa kali selama beberapa saat sebelum akhirnya salah tiga di antara mereka tertawa garing guna mencairkan hawa yang tiba-tiba terasa sesak.

Beberapa saat hening sampai Woohyun kembali memulai aksi jahilnya. Namja itu bersikap seakan tidak pernah terjadi ketegangan dimeja tersebut. Sehingga baik Sungyeol maupun Soo Hyun juga tampak biasa saja. Berbeda dengan Dongwoo yang selalu luar biasa aktif. Namja bermarga Jang itu tak henti-hentinya tertawa tiap kali Woohyun mengambil makanan sahabatnya sedikit demi sedikit sedangkan makanannya sendiri dibiarkan.

Myungsoo berdecih pelan lalu bangkit dari tempat duduknya. "Aku sudah selesai.", pamitnya yang ditujukan hanya pada Soo Hyun yang kemudian membalas dengan anggukan kepala.

Woohyun melirik sekilas Myungsoo kemudian ikut bangkit dan meninggalkan meja makan. "Aku mau ke toilet.", pamitnya.

Tidak sesuai dengan ucapannya, Woohyun justru terus melangkah melewati lorong menuju toilet dan terus berjalan lurus. Diam-diam Woohyun mengikuti Myungsoo sampai ke kelas namja itu dan duduk di sampingnya, dikursi milik Sungyeol, namun tak bicara apapun dan hanya membuka bolak-balik buku sepupunya yang berada dikolong meja. Mengabaikan tatapan tak senang dari Myungsoo.

"Apa yang kau inginkan?", tanya Myungsoo tanpa basa-basi. Terlalu lama berada dalam satu radar bersama Woohyun membuat Myungsoo ingin meledak.

Woohyun menutup bukunya serentak dengan kepalanya bergerak menghadap Myungsoo, lalu tersenyum puas. "Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu?", sahutnya membuat Myungsoo mengernyit tak paham. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, bukan!? Sejak kemarin kau terus menatapku seakan-akan kau ingin memakanku hidup-hidup. Waeyo?"

THAT TIMETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang