Sungyeol menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu menginjakkan kaki di rumah. Hari berbeda dengan rutinitas yang sama, sendirian. Membosankan. Si sulung ini terkenal dengan teman yang luar biasa banyak, di semua tempat tanpa terkecuali. Tapi siapa yang mengira jika malam tiba Sungyeol selalu merasa kesepian, baik di rumah yang sepi atau di club yang luar biasa ramai. Mungkin benar kata orang, kekayaan tidak selamanya menjamin kebahagiaan seseorang. Sungyeol mengedarkan pandangan, meneliti setiap sudut rumahnya. Ada begitu banyak gambar tentang keluarga, entah yang menempel pada dinding atau yang berdiri di atas nakas. Ada juga yang berada di rak. Semuanya terlihat sempurna dalam bingkai kayu, dan tentu dalam beberapa waktu khusus.
"Aku merindukan mereka!", gumamnya lirih. Ada sinar kebahagiaan pada sorot mata Sungyeol, tapi nada suaranya berkata sebaliknya.
Lee Sungyeol. Lahir dari keluarga kaya membuat Sungyeol mendapatkan yang ia inginkan dengan mudah. Tapi semua itu tidaklah gratis seperti yang orang pikirkan. Sungyeol harus membayar mahal atas apa yang didapatkannya sejak lahir. Yaitu merelakan Appa dan sang Eomma tidak di sisinya. Di saat semua anak bermain dengan orang tuanya, maka Sungyeol hanya akan bermain dengan uangnya, uang yang dihasilkan kedua orang tuanya. Sungyeol akan menghabiskan uang dengan membeli begitu banyak mainan untuk dirinya sendiri. Memahami sedalam mungkin kesibukan orang tuanya yang seolah tak ada habisnya. Mempunyai Appa yang bekerja sebagai kontraktor sekaligus seorang arsitek sungguh hal yang sangat membanggakan. Lalu ada sang Eomma yang notabene seorang ketua organisasi pendidikan sekaligus pemilik Sky High. Karena itulah Sungyeol sangat dikenal di sini. Selain anak pemilik Sky High, Sungyeol juga kapten tim basket, mantan ketos, kaya, tampan, tinggi, dan baik hati. Lengkap sudah penilaiannya untuk menyandang predikat sempurna.
"Haruskah aku mengajak Dongwoo-Hyung ke Club?", tanyanya pada diri sendiri. Sedetik kemudian namja itu sudah meletakkan ponselnya ke telinga, menunggu panggilannya terjawab. Namun, tak ada jawaban apapun dari seberang sana kecuali suara operator.
Di sisi lain, kesepian juga menghinggapi namja bermarga Jang. Anggota tertua The Romeo's itu disambut dengan tamparan telak begitu menginjakkan kaki di rumahnya. Jika ditanya apa kesalahan namja itu, maka jawabannya adalah namja itu sendiri. Karena semua yang Dongwoo lakukan selalu saja salah dimata Appa-nya. Memiliki seorang Appa yang terlalu banyak menuntut membuat Dongwoo menjadi seorang pemberontak.
"Dasar anak tidak berguna! Apa kau hanya bisa menyusahkan Appa-mu saja, hah! Jika kau tidak mau melakukan apa yang aku perintahkan, setidaknya jangan lakukan apapun!!", cecar pria tersebut setelah menampar anak tunggalnya.
"Appa sudah selesai?", tanya Dongwoo datar. "Kalau begitu aku pergi dulu.", ucapnya membungkuk 90°, mengambil tas ranselnya yang terjatuh dan beranjak pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban.
Pria tua itu beralih berkacak pinggang pada wanita yang hanya duduk di tempatnya sejak tadi selaku istrinya. "Kau lihat putramu itu! Semakin hari dia semakin kurang ajar! Apa kau tidak bisa mendidiknya dengan benar, hah?!!"
Wanita berlipstik merah merona itu langsung berdiri, menaruh tangannya ke sisi pinggang dengan mata membesar. "Lalu bagaimana denganmu? Dia itu putramu! Jangan lupa kalau kau adalah ayahnya! Sedangkan aku hanyalah ibu pengganti baginya! ......"
Di dalam kamar, Dongwoo hanya bisa menghela nafas. Mendengarkan semua cemoohan kedua orang tuanya sambil mengganti seragam sekolahnya menjadi jaket kulit dan celana jeans kurang tambalan. Tak lupa menyelipkan ponselnya ke saku jaket. Saat ini Dongwoo berharap telinganya tuli hingga ia tidak perlu mendengar hinaan terlebih dari orang tuanya sendiri. Untuk ke sekian kalinya Dongwoo merasa iri pada mereka yang tidak bisa mendengar. Dongwoo sudah terlalu muak dengan keluarganya sendiri sampai-sampai hatinya mati rasa untuk mereka.
Dongwoo keluar dari kamar dan melintas begitu saja di depan orang tuanya dengan acuh. "Dongwoo-ya, mau ke mana?", tanya Nyonya Jang.
Dongwoo tidak menjawab dan terus berjalan. Menutup pintu pelan dan menaiki motor ninja nya ala-ala memakai mobil sport terbarunya. Membawa kendaraan beroda dua itu turun ke jalanan dalam kecepatan tinggi. Menulikan telinga dari para pengendara lain akibat ulahnya yang ugal-ugalan dan dapat membahayakan nyawa sendiri dan orang lain. Sebulir air jernih melesat dari ujung matanya, tertiup angin karena kaca helm-nya yang tidak diturunkan. Bersamaan itu, namja yang seharusnya duduk dibangku kuliah mengingat usianya yang hampir genap 20 tahun itu menambah kecepatan di atas 100. Bagi Dongwoo ini adalah rumahnya, jalanan. Dongwoo merasa bebas ketika keluar dari rumah yang memiliki bentuk itu. Dongwoo selalu merasa sesak di rumahnya sendiri. Jalanan terasa lebih baik daripada rumahnya walau terasa dingin. Lebih baik dingin tapi menyegarkan daripada hangat tapi menyesakkan.
Saat ini Appa Dongwoo sedang dalam masa kampanye sebagai calon menteri luar negeri Negara ini. Karena itulah ada begitu banyak pemberitaan menyangkut Appa-nya di televisi maupun koran dan majalah. Jadi mau tidak mau Dongwoo juga akan ikut terseret dalam pertempuran sang Appa. Dongwoo bukanlah anak yang bisa dibanggakan oleh Appa-nya ke depan media. Sedari kecil Dongwoo tumbuh dalam pertengkaran antara Ayah dan Ibunya. Hingga remaja pun Dongwoo semakin liar. Selain selalu membolos, Dongwoo juga dekat dengan obat-obatan terlarang dan minuman keras. Oleh sebab itu, Tuan Jang menyembunyikan Dongwoo dari Dunia. Awalnya semuanya berjalan baik saat Dongwoo dengan patuh menuruti perintah sang Appa yang menyuruhnya tuk tinggal di luar negeri sampai masa kampanye selesai. Tapi semuanya berubah kacau saat Dongwoo memutuskan kembali ke Korea tanpa pemberitahuan apalagi izin dari Appa-nya, yang mana Sempat menggegerkan publik. Beruntung masalah itu sudah teratasi sekarang. Tapi masalah yang datang dari masa lalu Dongwoo tidaklah cukup sampai di sana. Belum lagi Dongwoo yang selalu membuat ulah di manapun namja itu berada. Mulai dari jalanan, bar, sekolah, kedai kopi, bahkan sampai kantor polisi. Beruntung Dongwoo bertemu dengan seseorang yang membuatnya keluar dari lingkaran setan tersebut dan mempertemukan dirinya dengan Sungyeol dan Soo Hyun sehingga ia kini kembali ke jalan yang benar.
Di lain rumah, Soo Hyun sibuk mengurus pekerjaan rumah menggantikan sang Eomma yang kurang sehat. Bersama beberapa pelayan lainnya, yeoja bermarga Kang itu bahu-membahu membersihkan rumah utama, belum lagi rumah tamu yang berada di sebelah yang hanya dipisahkan oleh jalan berbatu sepanjang 100 meter. Berganti dari seragam sekolah menjadi celana pendek dan kaos oblong, Soo Hyun pun mengerjakan tugas seorang pelayan. Tugas yang dulu terlarang untuknya.
"Soo, bisakah kau membawakan teh untuk Nyonya? Tiba-tiba perutku sakit!?", tanya seorang wanita berseragam hitam-putih khas pelayan sambil membawa sebuah nampan.
Soo Hyun tersenyum mengangguk. Mengambil alih nampan berisi secangkir teh hijau dan roti kering tersebut tanpa sepata kata. Soo Hyun naik ke lantai 2 dan berhenti di ruangan paling ujung. Meletakkan sejenak nampan di meja samping pintu lalu mengetuk papan kayu tersebut. Tapi sebelum itu, Soo Hyun mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. "Nyonya, teh anda.", ujarnya sopan.
"Masuk!", suara dari dalam membalas.
Kembali melangkah, Soo Hyun menegakkan punggung dan mengangkat kepala. Lalu memindahkan menu bawaannya dengan hati-hati ke atas meja. "Kau menggantikan Eomma-mu?", tanya Nyonya Nam sembari mengamati pekerjaan Soo Hyun.
"Benar, Nyonya. Eomma sedang tidak enak badan. Jadi beliau sedang istirahat sekarang.", jawabnya sopan. "Kalau tidak ada hal lain lagi saya permisi.", sambungnya, tak lupa membubuhkan segaris lurus dibibirnya.
"Tunggu!", seru Nyonya besar begitu Soo Hyun hendak berbalik melangkah. "Kalau kau mau, kau bisa menggantikan posisi Eomma-mu di sini? Aku dengar Komisaris juga akan segera memberhentikan pelayan Kang. Dan dengan kondisi pelayan Kang sekarang, aku tidak yakin dia bisa terus bekerja."
Soo Hyun mencengkeram nampan ditangannya untuk menahan amarah yang siap meledak. Sambil tetap tersenyum seperti orang bodoh Soo Hyun pun pamit undur diri dari jangkauan mata sang Nyonya. "Terimakasih atas kemurahan hati Nyonya. Kalau begitu saya permisi!"
Soo Hyun langsung bersandar pada dinding setelah menutup pintu ruangan Nyonya Nam. Memejamkan, menstabilkan nafasnya yang memburu karena amarah. Rasanya Soo Hyun ingin sekali menjambak rambut wanita yang ia dan 2 anggota lainnya panggil dengan sebutan penyihir itu meski sekali seumur hidupnya. Jika bukan karena Eomma-nya mungkin Soo Hyun sudah lama melakukan itu. Soo Hyun lelah terus berpura-pura.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
THAT TIME
FanfictionWaktu adalah segalanya. Ibarat 2 sisi koin, waktu bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan hati seseorang. Tapi Waktu juga bisa menjadi penyakit yang paling mematikan. Tergantung kepada siapa pemilik waktu tersebut. Bagaikan 2 sisi bilah pedang...
