[Follow dulu sebelum baca]
❝ 𝙄 𝙡𝙤𝙫𝙚 𝙮𝙤𝙪 𝙨𝙩𝙞𝙡𝙡. 𝙄 𝙖𝙡𝙬𝙖𝙮𝙨 𝙬𝙞𝙡𝙡, 𝙚𝙫𝙚𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙪𝙜𝙝 𝙮𝙤𝙪 𝙖𝙧𝙚 𝙬𝙧𝙤𝙣𝙜. ❞ - Hericane, LANY
Mereka bilang, banyak yang lebih baik.
Mereka bilang, kamu itu bencana.
Mereka bilang, aku hanya...
Wkwkwk ada yg nungguin Gulma ga sih? Aku update cepet gatau knp lagi pengen ajaaa🙈
Semoga kalian suka yaa💕
Jgn lupa divote^^
Jeremy Passion- Lemonade
X
Green Day - Platypus
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LANGKAH Estrella terhenti persis di depan jendela studio musik. Ia terdiam melihat sosok laki-laki berambut gondrong, yang tengah duduk sendirian di kursi piano, namun kali ini ia tidak memainkan piano. Tetapi saxophone.
Terlihat, posisi duduk laki-laki itu membelakangi piano, tangannya dengan mahir mengatur tootssaxophone. Pembawaannya tenang, melankolis, dan romantis.
Jauh berbeda dengan sifatnya.
Tetapi, bagi Estrella dia adalah definisi indah yang sesungguhnya.
Satu tangan Estrella mempererat cengkraman pada ransel ungunya saat melihat Widura masih meniupkan saxophone-nya.
Sebelum Widura berhenti dan memergoki keberadaannya, Estrella buru-buru bersembunyi dibalik pilar pembatas toilet untuk menelepon sosok itu. Saat ponselnya berdering, Widura berhenti memainkan saxophone-nya.
Namun tidak seperti yang dibayangkan Estrella— Widura akan me-reject panggilannya seperti biasa. Dibalik pilar, Estrella masih bisa mengintip. Ia bisa melihat lelaki itu menatap ponselnya sebentar, sebelum menempelkan benda itu di telinganya.
"Apa?" Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Widura.
Jantung Estrella berdebar-debar sendiri. Perutnya mendadak bergolak. Mulut gadis itu terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Halo?" Tegur yang laki-laki.
"A— Ada yang mau aku omongin ke kamu," Estrella memelankan suaranya sambil berjongkok.
"Soal kemaren?" Tembaknya, saklek.
"Ng— banyak pokoknya yang mau aku omongin." Estrella meringis pelan. Tidak dapat menyembunyikan kegugupannya. "Bisa?"
"Yaudah buruan gue tunggu di studio musik tiga."
"Sekarang?"
"Taun depan."
Suara Widura terdengar begitu dingin sebetulnya, namun tetap manis untuk Estrella. "Ok, on my way!" Estrella tak sadar jika suaranya meninggi.
Ya Tuhan.
Estrella ingin sekali berteriak sekarang!
Gadis itu memasukkan benda pipih ber-case ungu ke saku sambil mengulur waktu untuk masuk ke studio yang sebetulnya hanya berjarak seratus meter kurang dari tempatnya sekarang. Setidaknya lima menit lagi, lah ia baru berjalan, biar Widura gak curiga.