[Follow dulu sebelum baca]
❝ 𝙄 𝙡𝙤𝙫𝙚 𝙮𝙤𝙪 𝙨𝙩𝙞𝙡𝙡. 𝙄 𝙖𝙡𝙬𝙖𝙮𝙨 𝙬𝙞𝙡𝙡, 𝙚𝙫𝙚𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙪𝙜𝙝 𝙮𝙤𝙪 𝙖𝙧𝙚 𝙬𝙧𝙤𝙣𝙜. ❞ - Hericane, LANY
Mereka bilang, banyak yang lebih baik.
Mereka bilang, kamu itu bencana.
Mereka bilang, aku hanya...
Aku kemaren bener2 blank parah. Semoga kalian ga kapok ya ramein ini. Maaf udah buat menunggu☹️
Grace Carter - Why Her Not Me X Queen - Love of My Life
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara pintu yang digedor berkali-kali membuat Widura meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menuju sumber suara. Ia mengintip lewat lubang kecil di pintu, dan melihat Mayang bersama Eja di depan.
"Ngapain?"
"Gitu cara lo perlakuin kakak?"
Seketika pintu terbuka, Eja langsung menarik Mayang ke dalam. Widura memutar matanya dan duduk di sofa, sedangkan .
"Gue tuh khawatir tau sama lo!" Mayang duduk di sebelah Widura. Eja yang tadinya duduk di sisi yang lain, berdiri dan menjauh beberapa langkah sampai ia duduk di atas meja dekat jendela.
Sementara Widura memilih diam. Tangannya terlipat di depan dada saat ia memerhatikan Mayang yang bergeser mendempet kepadanya.
"Kenapa sih lo, dek selalu ngebuat gue khawatir?" Mayang mengulang pertanyaan.
Bukannya menjawab, Widura malah diam seribu bahasa. Ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Setiap napas yang ia ambil terasa berat mengetahui bahwa ia sebenarnya berada satu langkah di depan semua orang.
"Ck, dek!"
"Gue gak kenapa-napa! Emang gue kenapa?"
"Yaudah kalo gitu pulang!"
Eja mengusap wajahnya seraya bangkit berdiri.
"Pulang ke mana? Gue gak punya rumah!"
Tangan Eja berhenti bergerak setelah pernyataan itu keluar dari mulut Widura. Ia melirik Mauang yang duduk di sofa, yang sedang menatap lurus ke arah adiknya.
"Dek. Masih ada papa sama gue." Mayang berusaha tenang.
Widura membenarkan kunciran rambutnya ke belakang. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu menatap adiknya tak percaya.
"Daripada lo kesini bikin emosi doang mending—"
"Pulang!" suara Mayang meninggi.
"Ini. Rumah. Gue," sahut Widura penuh penekanan.
Eja melangkah satu kali, menuju sahabatnya.
"May,"
"That house is ours. It'll always be."
"Can you stop?" Widura beranjak dari tempatnya dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.
"I can if you join us." Mayang kembali berdiri menghadap Widura. Nada suaranya pelan, namun tidak ada intonasi bercanda di sana. Ia mengatakannya dengan serius.