part 24

21K 1.2K 67
                                    

" Fiyuhh Mas Bima kalau lagi cemburu nyeremin "
Nita bercerita dengan menggebu - gebu.
Setelah beberapa kali Mas Bima terlihat di mini market tempatku kerja dan selanjutnya antar jemput aku, Anita dengan jiwa detektifnya mengorek informasi padaku tentang siapa Mas Bima.

" Hah ? Jadi Mas Bima itu mantan suami Mbak ?! Ya ampun pantesan tatapannya ke Mbak Kalila kayak gitu banget "
Tapi aku tidak mengatakan detail kenapa kami bisa bercerai.
"Mbak Kalila beruntung banget ya  dikelilingi cowok - cowok ganteng . Dulu Mas Bagus, sekarang Mas Bima ... "

" Nggak usah kaget gitu. Emang dia serem kalau marah - marah. Nggak perlu nunggu cemburu juga. Emangnya kapan kamu ketemu Bima "
" Itu...pas Pak Reino ngajakin ngobrol  Mbak "
Aku berusaha untuk mengingat.

" Mungkin dia lagi ada masalah di kerjaannya. Bisa jadi kan "
Aku mencocokkan catatan di tanganku dengan barang yang ada di rak. Sedang Anita menata ulang beberapa barang yang tidak beraturan letaknya.
" Nggak kok Mbak. Aku diem - diem buntutin Mas Bima ke kasir. Beneran ternyata wajahnya garang waktu lihat Pak Reino. Masak Mbak nggak nyadar sih ? "
Aku mengedikkan bahu.

" Ck..ck...Nit..Nit..kamu ini bener - bener deh. Sempet - sempetnya gitu nguntit orang "
Aku menggelengkan kepala.
" Aku cuma penasaran aja Mbak. Kayaknya feelingku bener deh Mas Bima masih suka sama Mbak "

❤❤❤

" Mau langsung pulang ? "
Pak Reino mensejajari langkahku.
" Eh..nggak sih Pak. Mau ke mall sebentar. Nyari kado "
Saat di kerjaan aku memang memanggilnya Pak, kalau di luar dia memintaku memanggilnya Mas.
Kata teman - teman kerjaku sepertinya Pak Reino berusaha mendekati aku karena menyukaiku. Ah mana ada bujang menyukai janda beranak tiga sepertiku.

" Lho siapa yang ulang tahun "
" Anak saya yang nomer tiga "

" Oh. Kalau gitu kita ke mall bareng saja. Saya juga ada keperluan "
" Nggak usah Pak. Saya berangkat sendiri saja "

" Lebih hemat bareng Kalila. Lagipula enak kan kalau jalan ada temen ngobrolnya "
Akhirnya aku mengalah. Kami berangkat memakai grand livina putih-nya.

Kami berjalan beriringan.
" Jadi, mau beli kado yang seperti apa ? "
" Belum tahu Pak "

" Ini udah di luar kerja lho. Masih manggil Pak ? "
" Eh iya maaf ...Mas "
Agak gimana gitu manggil atasan Mas. 

" Kamu malam minggu ini ada acara nggak ? "
" Eum nggak sih "

" Jalan yuk "
Aduh gimana ya caranya nolak. Malam minggu kan me time-nya aku sama anak - anak. Kalau aku pergi sama Reino, anak-anak gimana ? Masak malam - malam minta tolong nitipin ke Ibu. Mbak Pam yang biasa jagain Nino bisanya juga pagi sampai sore saja.

" Aduh maaf... Kalau malam minggu kayaknya nggak bisa. Anak - anak kalau malam nggak ada yang jagain "
Hatiku kurang sreg jalan dengan Reino. Aku tidak mau memberi harapan padanya seandainya yang dibilang teman - teman kalau dia suka sama aku itu benar. Lagipula aku juga memikirkan Mas Bima. Apa jadinya aku menolaknya tapi malah kencan dengan laki - laki lain ya meskipun sebenarnya tidak masalah karena aku dan dia tidak terikat apapun kecuali sebagai mantan suami istri.

Kami masuk ke toko kado. Memilih mainan yang kira - kira cocok buat Nino.
" Cowok atau cewek ? "
" Cowok baru dua tahun "

" Kalau kamu kerja, anak - anak sama siapa ? "
" Di rumah ibu mertua. Di sana ada mbak yang bantuin Ibu jaga anak - anak "

" Oo.."
Reino mengangguk.
" Misal Minggu pagi berarti bisa ya.."
Aku menoleh. Ngebet juga dia ternyata. Minggu kalau tidak salah waktunya Mas Bima pulang dari Ibu Kota. Aku juga tidak tahu tepatnya jam berapa. Tidak ada informasi apapun dari Mas Bima. Bukan berarti aku menunggunya juga.
Selama ini Mas Bima yang selalu menghubungiku duluan, kalau tidak ada sesuatu yang mendesak aku tidak mendahului untuk menghubungi.

Cinta Lama Bersemi Kembali ( S E L E S A I )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang