"...yah, M-Power, langsung aja ini dia Ost. Rumput Tetangga-"
Pagi ini Airin menghibur diri di kafe milik Arlan, mendapat kopi gratis sebelum pria itu pergi bersama Gyandra untuk urusan pekerjaan. Pagi hari mendengarkan radio sambil menikmati kopi adalah kombinasi yang pas sebelum memulai hari. Airin memutuskan tak ingin lagi mengurung diri dalam kamarnya.
Bulan berganti namun Airin masih belum sembuh dari patah hatinya. Ia mengutuk diri sendiri yang masih sering tergoda menguntit sosial media Pandji. Normal untuk orang yang baru putus tapi sebenarnya sebuah penyakit karena menyiksa diri. Pandji tidak pernah menuangkan isi hatinya di sosial media, yang Airin dapati hanyalah aktivitas kiriman rekan kerjanya di beranda.
Hingga pagi ini Airin mendapati pria itu menulis status hanya satu kata yakni 'Satu', tentu saja hal itu mengundang rasa penasarannya. Otaknya berusaha keras mengartikan sebuah kata berjuta makna dan hanya Pandji yang tahu.
Satu apa? Satu istri saja cukup? Satu bulan kita putus? Kan belum sebulan, Mas... Airin terlalu percaya diri bahwa Pandji masih memikirkan dirinya.
Sosial media Kartika pun tak luput dari pengawasannya. Semua tentang Kartika membuat Airin iri dan tidak percaya diri: elegan, stylish, tapi juga ayu lemah lembut saat diperlukan. Sungguh tidak adil.
Hingga ia menemukan postingan yang ia cari, postingan yang menusuk hatinya dengan sangat dalam. Berjudul: 'Definisi Kalau Jodoh Tak Kemana' dengan foto pertunangan Pandji dan Kartika entah jaman kapan, keduanya tampak begitu muda dan bahagia, yang diunggah kembali oleh Kartika beberapa hari lalu.
"Aduh ini lagu apaan sih!" dengan kesal Airin menyeka air matanya yang jatuh lagi. Di kafe pun tak membuatnya berhasil menahan diri agar tidak menangis. Sudah saatnya move on, Rin...
***
Menemui Danuarta hari ini layaknya uji nyali, terlebih saat Pandji begitu yakin bahwa dosen itu menaruh minat padanya.
"Kenapa tiba - tiba?"
Airin bisa melihat aura berkuasa Danuarta saat duduk di dalam kubikelnya, pria itu seperti sedang berada di atas awan karena Airin kembali menemuinya dan menanyakan lowongan sebagai asisten dosen.
"Setelah saya pikir - pikir, saya tertarik dengan tawaran Pak Danu," Airin memilih jawaban paling aman.
Lantas Danuarta bersandar pada kursinya, memandang Airin dengan sorot paling skeptis.
"Kalian putus ya?"
Arah pandang Airin turun ke atas meja dan itu cukup menjawab pertanyaan Danuarta.
"Ya sudah kalau begitu," pria itu tampak lebih bersemangat, "nanti saya buatkan rekomendasi. Yang perlu kamu siapkan sekarang adalah esai sebaik skripsi kamu."
Kepala Airin tersentak naik, "esai sebaik skripsi saya, Pak?"
Mata Danuarta memicing tipis, "memangnya kenapa?"
"Saya usahakan, Pak. Tapi saya butuh bimbingan Pak Danu," butuh banget, Pak, saya nggak punya gambaran mau bikin esai apa, yang buatin skripsi saya aja udah hancurin hati saya.
Danuarta memandangnya cukup lama hingga buat Airin hampir salah tingkah. Tapi kemudian pria itu menghela napas panjang, "nanti saya buatkan esainya."
"Oh, bukan begitu, Pak-" Airin menggeleng cepat. Pipinya merona malu.
"Terus?"
"Terus..." suaranya menghilang, karena dibuatkan esai jauh lebih efektif daripada ia berusaha sendiri, ia cukup tahu kemampuan otaknya, masih lebih baik kinerja pinggulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Rhapsody
RomanceGenre cerita ini romance 21+ dengan sentuhan kearifan lokal. Tentang seorang darah biru bernama Raden Pandji pria yang dianugerahi semua unsur kelaki-lakian tak kurang satu apapun: rupawan, maskulin, bergairah, berstrata tinggi, cerdas, pemikat. Yan...
