Aku menatap lembaran kertas yang terkumpul di dalam in-tray dan mulai menghitung dalam hati, memperkirakan waktu yang akan dihabiskan untuk menyelesaikan semua tumpukan dokumen tersebut. Setelah yakin sekitar setengah jam saja seharusnya waktu yang dibutuhkan, tiba-tiba ada dokumen baru yang diletakkan di puncak tumpukan.
Tanpa sadar aku langsung menggemeretakkan gigi-gigiku dan melempar tatapan tajam ke pelaku penumpuk dokumen.
"Ketinggalan, Riss," jawab pelaku, seperti tahu maksudku. " Titipan dari IT, minta tolong sekalian diproses. Tanggal lima kalau bisa sudah cair. Gue hanya menyampaikan ya," lanjutnya seraya bergerak meninggalkan area meja kerjaku sebelum aku sempat mengeluarkan koleksi kata-kata cantikku.
"Bok," colekku ke bahu Leon yang tengah mengamati hasil kerjanya di layar laptop. Meja kerjaku dan Leon benar-benar bersebelahan, dan saking terbukanya area kerja kami, beberapa dokumenku pun menginvasi meja kerja Leon. "Ingat enggak waktu gue pertama masuk, lo bilang kerjaan gue apa?"
"Apa?" tanya Leon balik tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop.
"Yah, gue kan tanya," ujarku sebal dan mulai melambaikan tangan kananku di depan wajah Leon untuk menarik perhatiannya.
"Aduh Ris," sentak Leon berusaha menepis tanganku untuk kembali melihat layar laptop. "Gue harus selesaikan part ini sebelum makan siang, lo kan kasih deadline jam dua kan. Masih ada dua layer lagi yang harus gue tambahakan."
"Nah, persis," balasku dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari ucapanku sebelumnya. "Pekerjaan gue kan koordinator compositor yang makes sure lo semua menyelesaikan pekerjaan sesuai timeline," tunjukku pada Leon dan empat orang lainnya yang tersebar di sekitar aku dan Leon. "Sekarang kenapa gue harus mengerjakan ini semua?" gerutuku sambil melempar pandangan ke arah tumpukan dokumen yang baru saja berkembang biak tepat di depan mataku.
Satu bulan bekerja di Coridel Live, tugasku tidak jauh dari perjanjian sesuai kontrak kerja, memastikan para compositor menyerahkan pekerjaannya berdasarkan deadline. Deadline yang aku buat tentu saja berdasarkan timeline dari VFX produser, karena produser yang pada akhirnya bertanggung jawab memastikan integrasi semua adegan 3D yang dikerjakan compositor. Setiap harinya aku bertugas membuat catatan harian, lalu membagikannya ke semua anggota tim dan memperbarui schedule. Selama satu bulan itu aku sangat menikmati pekerjaanku, apalagi tim yang aku pegang sebenarnya mudah diajak koordinasi.
Namun memasuki bulan kedua sampai sekarang sudah empat bulan bergabung dengan Coridel Live, entah mengapa tugasku berkembang biak. Dimulai dari membantu proses reimbursement perjalanan dinas Leon untuk mengikuti training di luar kota, kemudian melakukan koordinasi untuk pesan peralatan kantor untuk timku, sampai mengirimkan absensi bulanan. Hal yang terakhir memang agak mengejutkan, karena sebelumnya aku pikir bekerja di start-up company, waktu kerjanya akan fleksibel. Nyatanya, walaupun tidak kaku harus nine to five, tetap saja ada absensi yang harus dilaporkan untuk memastikan para karyawan bekerja minimal delapan jam per hari. Kalau mereka tidak bekerja di kantor, maka aku harus memiliki bukti kalau mereka tetap bekerja walau bukan di area kantor.
"Bok, komentar dong," ujarku gemas karena Leon tidak juga membalas pertanyaan-pertanyaanku sedari tadi. Aku mulai menusuk-nusuk pinggang Leon dengan pulpen yang sebelumnya aku pakai untuk mengoreksi kuitansi-kuintasi rembuirsement.
"Riss, berhenti, astaga," Leon mulai goyah dan tidak bisa menahan tawanya. Ia lalu melepas kacamatanya dan akhirnya, memutar kursi kerjanya ke arahku. "Satu-satunya yang mau gue kasih komentar adalah panggilan 'bok' dan tingkah laku lo," ujar Leon sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kayaknya waktu hari pertama masuk, lo yang insist panggil gue 'mas' karena gue lebih senior."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
