Bandara Internasional Incheon adalah salah satu bandara tersibuk di dunia. Bandara yang selalu bersaing ketat dengan Changi dan Narita untuk berebut posisi sebagai yang terbaik di dunia setiap tahunnya ini, menjadi lebih sibuk lagi di awal bulan November seperti sekarang ketika musim gugur tengah berjalan. Saat ini adalah salah satu waktu terbaik mengunjungi Seoul atau area mana saja di Korea, ketika dedaunan musim gugur mulai berubah warna menjadi keemasan dan membuat kota-kota menjadi cantik memikat.
Padatnya bandara Incheon sudah terasa sejak proses imigrasi dilakukan, antrean begitu panjang dan mengular. Aku melirik jam tanganku dan kembali menghembuskan napas yang tertahan, sembari berpikir berapa lama lagi akan tiba di salah satu konter imigrasi.
"Riss, lihat sini," Leon yang berbaris tepat di belakang mencolek bahuku.
Aku sontak menoleh dan seketika itu juga menangkap wajahku muncul di kamera ponsel milik Leon.
"Senyum dong, Riss. Akhirnya kita sampai juga," ujar Leon mencoba mengulang proses pengambilan gambar.
Aku membuat tanda V dengan jari telunjuk dan tengah tangan kananku, lalu memaksakan seulas senyum keluar ketika wajahku kembali muncul di layar ponsel milik Leon.
"Memangnya boleh berfoto di area imigrasi?" bisikku setelah semua aktivitas melelahkan tadi selesai. Menurutku, harus memunculkan senyuman saat tubuh lelah sekali seperti tadi sungguh menguras energi.
"Kita kan masih jauh dari konter, tidak apa-apa kalau sebentar saja. Habis lo enggak mau foto di tulisan Incheon tadi sih, kita kan harus menyimpan momen."
"Bok, ini waktu kita mepet sekali karena pakai penerbangan murah, lo masih sempat-sempatnya ajak selfie. Sekarang gue mulai khawatir ketinggalan AREX* terakhir ini." Aku mendongakkan kepala untuk melihat ujung antrean imigrasi yang sepertinya tidak mengalami perubahan berarti.
"Tenang, masih ada airport bus kok yang beroperasi 24 jam. Kita naik itu saja."
"Mahal, kita harus menghemat budget. Kemarin kita sudah cek jadwal AREX terakhir jam setengah dua belas malam kan? Masih ada 40 menit. Lepas dari imigrasi, kita langsung lari ke area AREX."
Leon tidak membalas ocehanku lagi, sepertinya mulai paham kalau apa yang kubicarakan adalah keputusan final yang tidak menerima perdebatan lebih lanjut. Budget yang diberikan perusahaan untuk perjalanan ke Seoul ini memang sangat-sangat terbatas, sehingga kami harus banyak berhemat. Aku sudah membuat catatan untuk rencana pengeluaran kami sampai beberapa hari ke depan, sebuah tugas yang otomatis membuatku berperan sebagai bendahara dalam perjalanan ini. Leon memang lebih teliti, tapi selama di Coridel Live sudah banyak data perjalanan bisnis yang dikerjakan, sehingga aku lebih terbiasa untuk melakukan peran ini.
Antrean akhirnya bergerak juga, dan untung saja beberapa konter imigrasi yang sebelumnya hanya melayani paspor untuk warga negara Korea akhirnya boleh dipakai oleh siapa saja. Sepertinya pihak bandara juga menyadari langkah tercepat yang harus diambil untuk mengatasi kepadatan bandara di malam hari ini, karena beberapa petugas kemudian terlihat berjalan menyebar untuk mengecek antrean. Mereka memastikan para pengantre telah mengeluarkan paspor dan mengisi kartu imigrasi dengan lengkap. Untung saja aku dan Leon telah mengisi kartu imigrasi kami saat masih di dalam pesawat sebelumnya.
Tidak salah memang kalau bandara ini adalah salah satu yang terbaik di dunia, mengingat antrean sepanjang itu akhirnya terkikis dalam waktu kurang dari setengah jam. Lepas dari imigrasi, aku langsung menarik tangan Leon untuk memintanya mempercepat langkah. Pria itu masih sempat-sempatnya mengambil gambar di beberapa sudut bandara yang kami lewati.
"Riss, tengok sini sebentar," panggil Leon untuk kesekian kalinya.
"Ya ampun Leon, nanti saja. Kita tinggal punya waktu 20 menit ini untuk sampai di peron," tolakku untuk kesekian kalinya juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
