Belum juga sampai di meja kerja, aku melihat ada kotak berwarna biru cerah diletakkan tepat di sebelah in-tray. Aku memicingkan sebelah mataku ketika akhirnya dapat melihat kotak tersebut dari dekat. Sebuah nama kafe terkenal tertulis di atas tutup kotak, bisa jadi isi di dalam kotak ini berupa makanan.
Aku membuka pita emas yang membungkus kotak tersebut dengan hati-hati, sayang banget kalau dibuka serampangan, bagus sekali kotaknya. Aku sudah berpikir bisa dipakai ulang untuk meletakkan post-it dan klip yang sekarang bertebaran di atas meja. Saat pita sudah terurai dan tutup kota baru terbuka setengah, aroma harum khas kue yang baru saja dipanggang langsung menyeruak keluar. Air liurku seketika menetes, pas sekali belum sempat makan pagi.
"Kayaknya enak, Riss," seru seseorang dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati beberapa anggota tim ternyata sudah sampai kantor sepagi ini. Biasanya, hanya aku yang sudah sampai kantor sebelum pukul sembilan pagi.
"Siapa yang kasih ini?" tanyaku balik sambil menunjuk kotak kue yang ternyata berisikan kue bolu cokelat jadul yang sekarang kembali hits.
"Sudah ada di meja lo waktu gue datang," jawab Antoni sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tapi benar buat gue kan ini?" tanyaku ragu sambil mencari-cari kartu ucapan atau tanda lain yang menandakan kue ini tidak salah kirim.
"Itu ada nama lo di pitanya," balas Antoni cepat. "Bagi dong, enak banget itu baunya," lanjutnya yang sontak disetujui oleh anggota tim lain.
Aku mengiyakan permintaan mereka dengan enggan, cepat sekali anak-anak ini minta jatah kalau ada gratisan. Aku menemukan namaku benar tertera di pita emas, yang baru saja kusingkirkan ke pinggir meja. Sambil memotong-motong kue dengan perlahan, aku mencoba berpikir siapa yang berbaik hati mengirimkan kue pagi-pagi begini.
Eh, masak aku punya stalker? Pikirku seram setelah gigitan pertama. Pelan-pelan aku meletakkan kembali potongan kue bolu yang baru saja digigit ke dalam kotak, memikirkan kemungkinan ada seseorang yang bermaksud jahat mengirimiku kue.
"Tahan makannya," teriakku ke anggota tim lain yang otomatis menghentikan proses mengunyah bolu, kemudian melihatku dengan pandangan kosong. "Bagaimana kalau kue ini ternyata kiriman seseorang yang mau berbuat jahat ke gue?" tanyaku dengan tatapan sengit.
"Memang lo punya musuh?" tanya Antoni yang terlihat paling sebal karena kenikmatannya mengunyah terpaksa dihentikan.
"Siapa tahu kan? Memangnya semua orang suka sama gue?"
"Ada yang suka sama lo?" tanya anggota tim lain yang terlihat semakin bingung mendengar pertanyaanku.
"Bukan itu intinya," potongku kesal. "Tapi pengirim kue ini enggak jelas, siapa tahu ada yang berniat jahat sama gue."
"Siapa yang berniat jahat sama lo?"
Aku berpaling cepat, sudah pasti ini suara Leon. Akhirnya datang juga makhluk satu ini. Dia pasti setuju dengan pemikiranku. Sebelum aku sempat menjelaskan duduk perkaranya, perhatian Leon tertuju pada kotak kue.
"Sudah terima ya kuenya? Enak nggak?" tanya Leon santai sambil membuka jaket hitamnya kemudian meletakkan tas laptop ke atas meja. Selepas mendengar pertanyaan Leon, melalui ekor mataku, aku melihat anggota tim lain melanjutkan aktivitas mengunyah kue dengan tenang.
"Eh, kue ini dari lo? Dalam rangka apa?" tanyaku balik dengan nada suara keheranan.
"Ucapan terima kasih," jawab Leon semringah. Senyum khas ala Leon dengan bibir melebar menjadi super tipis terpampang jelas.
"Untuk?" tanyaku makin bingung.
"Semalam gue dipanggil meeting dadakan bareng Pak Irwan dan Mas Deni, ternyata ada informasi baru dari klien proyek animasi. Karena lo sudah balik, mereka minta gue wakilkan sebentar. Klien memuji hasil kerja kita, terutama part gue. Part yang kemarin sempat telat dikasih ke Mas Deni itu lho," jelas Leon yang sepertinya tahu aku masih mencerna semua penjelasannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
