04. Moments of Truth

4.9K 351 14
                                        

Dalam hal salah satu pihak melakukan pemutusan hubungan kerja ini sebelum berakhirnya Perjanjian Kerja diluar ketentuan yang tercantum dalam pasal V, maka pihak tersebut diwajibkan membayar kepada pihak lainnya sampai waktu seharusnya berakhirnya Perjanjian Kerja ini.

Aku membaca ulang pasal yang tertera, mencoba memahami kata demi kata. Selepas makan siang dengan Vira dan menyerahkan deadline jam dua siang ke Mas Deni, aku langsung mencari kontrak kerjaku. Untung saja HR sempat mengirimkan soft copy kontrak kerja ke surel, karena dokumen fisiknya sudah pasti tersebar tidak jelas di dalam kamarku, entah di tumpukan sebelah mana.

"Salah satu pihak melakukan pemutusan," belum selesai aku membaca ulang pasal terkait Pemutusan Hubungan Kerja di kontrak kerja, telepon mejaku berbunyi.

"Rissa," jawabku enggan saat mengangkat telepon.

"Riss, semua dokumen reimburse, terutama yang terkait perjalanan bisnis, tolong jam empat sudah masuk semua ya ke gue. Hari ini Pak Irwan datang, sekalian mau minta approval semua."

Aku menahan gerutu dalam hati mendengar Linda, dari bagian keuangan, melanjutkan penjelasannya mengapa semua dokumen harus diselesaikan hari ini beserta semua kelengkapan yang harus dilampirkan. Pak Irwan adalah Managing Director Coridel Live, tentu saja orang terakhir yang memastikan semua pengeluaran sesuai anggaran. Coridel Live bukan perusahaan besar, benar-benar start-up yang baru berkembang, karyawan total pun tidak sampai 100 orang. Wajar saja kalau MD turun tangan memantau semua pengeluaran.

Kembali seperti ceritaku pada Vira siang tadi, entah mengapa aku ketumpahan pekerjaan sebagai PIC semua dokumen reimburse sebelum masuk ke tim keuangan. Leon sempat cerita kalau fungsi kerja sebagai koordinator mencakup hal itu, tapi aku cek ke tim compositor lainnya, ternyata tidak ada yang pekerjaannya bertambah seperti aku. Dua koordinator tim compositor lainnya, hanya berkutat di seputar timeline dan perbaharui jadwal, job desc asli koordnator.

"Lin, penasaran deh," selaku ketika Linda berhenti berbicara, entah sedang menyiapkan informasi baru untuk dilemparkan atau menungguku bereaksi. "Kenapa sih gue ketiban tugas ini? Gue cek para koodinator compositor lain, enggak ada yang dapat tugas tambahan seperti ini," tanyaku merujuk pada semua tugas pengecekan dokumen keuangan.

"Loh? Memang lo belum tahu? Pak Irwan sendiri yang minta, Riss. Menurut dia, formulir yang sudah lo cek itu rapi, dia minta semua bagian kirim ke lo dulu jadinya sebelum ke gue."

"Kok bisa? Itu kan bukan pekerjaan gue."

"Yah, Riss, namanya kerja di start-up slash family company seperti ini, apa itu job desc? Gue saja pegang payroll sekalian kok, karena katanya lebih oke hitungan gue dari HR." Linda menutup pembicaraan setelah tidak lupa mengingatkan kembali untuk waktu penyerahan dokumen.

Aku menatap gagang telepon dengan pandangan kosong. Mudah sekali ternyata menambah serta mengurangi pekerjaan di tempat ini, selama ada titah langsung dari pimpinan. Apa itu job desc? Fakta baru yang kutemukan ini, semakin membulatkan tekad untuk segera hengkang dari sini.

Tidak cukup dengan panggilan telepon, Linda juga mengirim pesan melalui whatsapp. Aku yang tengah membuka whatsapp di laptop, mau tidak mau terganggu dengan notifikasi whatsapp yang terus masuk dan akhirnya terpaksa menyelesaikan tugas pengecekan dokumen terlebih dahulu. Perkara pasal pengunduran diri terlupakan sementara, sampai menjelang malam ketika aku bersiap-siap pulang.

"Antoni resign, Riss," ujar Leon sembari mendorong kursi kerjanya mendekatiku. Padahal tanpa dia mendekatiku saja, jarak di antara kami sudah cukup untuk pembicaraan rahasia tanpa perlu didengar orang lain.

Kick Me Out!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang