17. Moments of Dreaming

2K 175 6
                                        


Sudah dua jam aku dan Leon menelusuri jagat internet, mencoba mencari studio asal Korea Selatan yang bisa menjadi salah satu kandidat partner untuk Coridel Live. Mataku sampai perih, kemudian harus melepas pakai kacamata berkali-kali, saking terus-menerus menatap layar komputer tanpa henti.

"Ada satu yang oke nih," seru Leon tiba-tiba sambil mencolek bahuku. Aku menoleh dan mengikuti ekor matanya. "Ada beberapa cabang di Korea, kantor pusat di Seoul sepertinya cukup sentral lokasinya. Mereka punya beberapa lini bisnis, dari mulai VFX seperti kita, virtual reality sampai Kids park dengan basis augmented reality. Mereka juga punya tim R&D sendiri," lanjut Leon sambil memutar sedikit posisi layar laptopnya ke arahku.

"Lengkap juga ya," gumamku pelan kemudian mengambilalih tetikus yang dipegang Leon, untuk melihat-lihat lebih jauh situs studio yang dibicarakan Leon. "Apa nih namanya? Enggak kebaca gue," keluhku setelah gagal membaca nama perusahaan yang tertulis dalam aksara Korea.

"Ya ampun, itu pelajaran enggak ada yang tertinggal di otak lo?" Leon menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Susah banget, apa sih ini bacanya... mai ke.. mai... ke, ro apa ru ini?"

"Micro Graph," koreksi Leon. Ini garis vertikalnya di bawah, jadi bacanya o, bukan u," tunjuk Leon ke arah aksara Korea yang peletakannya sering tertukar cara bacanya di aku.

"Astaga, Micro Graph. Aneh-aneh saja sih Korea ya Bok, kenapa enggak ditulis Micro Graph saja biasa sih, pakai huruf latin gitu."

"Lah, kan perusahaan Korea, yang kerja orang Korea, yang baca orang Korea juga. Pelafalannya disesuaikan lah," balas Leon sambil menatapku macam ada tanduk yang baru saja keluar dari kepalaku.

"Padahal kalau lihat contoh-contoh hasil kerja sebelumnya, ada beberapa poster film Hollywood yang dia pegang juga," ujarku tidak mau kalah, menunjukkan halaman situs yang menjabarkan semua proyek yang pernah dilakukan oleh Micro Graph. "Berarti kan mereka perusahaan skala internasional juga, harus lebih global dong pemikirannya."

"Pernah dengar istilah 'think global, act local' enggak?" tanya Leon tiba-tiba.

"Apa tuh?"

"Maksudnya mereka tetap mempertahankan identitas lokal mereka walaupun sudah bekerja secara internasional, karena itu kekuatan mereka. Salah satu alasan kenapa gue setuju banget Coridel shifting kiblat dari Amerika ke Korea karena menurut gue, Korea tuh keren banget bisa go international dengan budaya mereka sendiri. Bukan ikutan arus, tapi justru menciptakan tren. Seperti BTS yang lo kasih contoh saat melempar ide ini, mereka terkenal di dunia barat dengan lagu berbahasa Korea. Ada sih kata-kata dalam bahasa inggris, namun sekitar 10% saja maksimal."

Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Leon, baru tersadarkan juga dengan informasi yang sebelumnya hanya aku tulis asal-asalan saja. BTS saja aku tahu dari pacar adikku yang sangat mengidolakan grup itu, yang kalau sedang berkunjung ke rumah bisa dengan semangatnya menceritakan BTS kepadaku.

"Jadi kita coba hubungi studio ini berarti ya, pakai bahasa Inggris kan ya nanti gue kirim surelnya?" tanyaku tidak yakin, melihat 80% situs Micro Graph dalam bahasa Korea.

"Seharusnya bisa sih, tapi supaya lebih tepat sasaran, pakai bahasa Korea saja mungkin lebih enak," jelas Leon mengambilalih tetikus untuk membuka halaman yang berisikan kontak yang dapat dihubungi. Terus terang saja aku bingung membaca isi halaman itu karena semuanya dalam bahasa Korea, untung saja standar penulisan alamat surel sama di seluruh dunia.

"Siapa yang mau menuliskan bahasa Koreanya?" tanyaku gusar. Aksara korea saja aku masih tertukar-tukar, bisa mati aku kalau sampai harus merangkai kata dalam bahasa Korea. Surel bisnis pula.

Kick Me Out!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang