Beberapa saat setelah membuka mata, aku memijat-mijat kening dengan tangan kanan sembari mencari-cari letak ponselku yang baru saja mengeluarkan suara super keras. Setengah menguap, akhirnya aku memaksakan diri untuk bersandar pada pinggiran ranjang dan melepas kenikmatan yang ditawarkan sang kasur.
"Astaga, di mana sih?" gerutuku mencari-cari sumber suara yang sangat memekakkan telinga. Aku langsung menyesali keputusan memasang lagu paling keras yang tersimpan di ponsel sebagai nada dering alarm. Sekarang efeknya benar-benar menyebalkan, membuat kepalaku semakin pening saja.
Setelah kurang lebih mencari sekitar lima menit di sekitar tempat tidur, ponsel kutemukan terselip di antara sarung bantal. Entah bagaimana benda itu bisa ada di sana, aku pun tak paham. Sekarang, saat ponsel telah terbebas dari belitan sarung bantal, suaranya lebih keras dan membahana. Aku sampai ingin ikut berteriak rasanya
"Sudah bangun, Riss?" Leon tiba-tiba memunculkan kepalanya di pintu masuk kamar tidur yang sedikit terbuka.
Aku tersentak, hampir saja ponsel yang sudah berada dalam genggamanku terjatuh. Leon tampak sudah berganti pakaian, pakaian yang ia kenakan berbeda dengan tadi malam. Semalam ia memakai sweter biru muda, aku ingat sekali karena beberapa serat-serat sweter itu masih menempel di turtle-neck putih yang masih kukenakan saat ini. Ingatan akan aktivitas yang terjadi, hingga serat sweter Leon menempel membuat pipiku seketika memanas.
"Eh, lo sakit, Riss? Terlalu dingin? Heater-nya kurang hangat ya?" Leon buru-buru mengecek panel pemanas ruangan yang terletak dekat dengan pintu. "Suhunya sudah pas sih," ujar Leon sembari mengerutkan keningnya setelah selesai mengecek suhu ruangan. "Untung saja malam ini kita balik Jakarta, kecapean kali ya lo."
Leon berjalan mendekat ke arahku, kemudian menggeser beberapa bantal dan selimut yang menutupi kasur untuk akhirnya duduk hanya tersisa beberapa sentimeter dariku. Melihat Leon sedekat ini, peristiwa semalam otomatis terputar ulang dalam pikiranku. Semalam jarak di antara kami kurang lebih seperti sekarang, sebelum entah siapa yang akhirnya memutuskan untuk menutup ruang kosong.
"Mr Jung mengirim surel pagi ini, memastikan tidak ada detail yang terlewat. Gue sudah jawab tadi sesuai catatan terakhir saja. Gue enggak tanya lo dulu, karena enggak mau ganggu tidur lo. Capai sekali sepertinya, enggak tega mau membangunkan lo," seru Leon sembari menyodorkan ponselnya ke arahku, menunjukkan surel balasan yang dia kirim ke Mr Jung.
Aku berusaha semaksimal mungkin membaca isi surel yang tertera di layar ponsel milik Leon, namun seberapa keras pun usaha yang kukerahkan, hanya terlihat tulisan-tulisan menari-nari tanpa arti di mataku. Leon seperti membaca kesulitan yang kuhadapi, karena ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat ke arahku. Sebuah kesalahan besar, karena sekarang aku bisa menghirup aroma tubuh Leon dengan lebih jelas. Aroma yang semakin membangkitkan kenangan semalam seperti menjelma menjadi nyata. Tanpa sadar, aku pun menggeser tubuhku mendekati Leon. Pandangan kami bertemu, tepat seperti semalam.
"Sepertinya lo enggak enak badan, muka lo merah banget," ucap Leon tiba-tiba dan membuatku kaget dengan gerakannya yang langsung berdiri tanpa aba-aba. Leon menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutebak maksudnya. "Kita harus ke bandara sekitar dua jam lagi, lo istirahat lagi saja. Untung saja kemarin-kemarin kita sempat packing, jadi enggak ada yang perlu dirapikan banget hari ini."
Leon kemudian melangkah menuju pintu kamar, sesaat sebelum menutup pintu, ia berbalik ke arahku dengan pandangan yang masih sama seperti sebelumnya, datar dan tanpa ekspresi. "Sorry, seharusnya gue enggak ganggu istirahat lo. Surel Mr Jung bisa gue selesaikan sendiri, percaya saja sama gue. Kemarin-kemarin lo sudah berperan banyak, kali ini biar gue yang handle. Lo balik lagi istirahat saja ya," ujarnya sedikit kaku dan seperti bukan Leon yang tengah berbicara denganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
