"Masuk lewat pintu satu itu ya, Pak," ujarku mencoba mengarahkan pengemudi ojol untuk memasuki area drop-off di gedung berwarna biru di sebelah kiri kami.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku meloncat turun dari sepeda motor dan berusaha mempercepat langkah menuju lobi gedung. Suatu tantangan tersendiri di antara puluhan orang lainnya yang sepertinya bergerak menuju arah yang sama. Baru saja aku berhasil melewati area pemeriksaan barang bawaan, ponselku bergetar. Aku mencoba mengambil ponsel di antara salah satu saku di dalam tas, sembari berusaha menyelipkan diri ke dalam barisan pengunjung gedung yang ingin menukarkan identitas diri dengan kartu akses.
"Sudah sampai lo?" seruan pertama yang aku terima sesaat setelah menekam tombol hijau di ponsel.
"Baru sampai lobi, gila penuh banget," jawabku sambil mengepit ponsel di antara bahu kanan dan kepala, sementara kedua tanganku sibuk membuka dompet untuk mengeluarkan ktp.
"Namanya juga Senin, the most hectic day of the week. Anyway, nervous enggak lo?"
Aku menyerahkan ktp ke resepsionis yang dengan cekatan segera ditukar dengan kartu akses gedung, "Bukan gugup ya, lebih cemas sih jatuhnya, Vir."
"Wajar, hari pertama kerja. Agenda lo orientasi saja kan?"
"Kayaknya, entahlah. Belum juga sampai kantornya nih gue."
"Lama amat, bukannya lo sudah sampai makanya telepon gue diangkat. Gue sudah telepon dari tadi nih."
"Ya, baru sampai lobi kali. Cek security, antre resepsionis, tukar akses dulu karena belum dapat ID card karyawan," ujarku sebal. Alvira Regina Setiadi ini kadang-kadang minta diberikan kuliah satu sks tentang cara hidup sebagai manusia normal. Terlalu banyak kemudahan yang dia dapatkan."Eh, sorry ya kalau nanti sinyal agak jelek, gue masuk lift nih," ujarku seraya mencari-cari tombol nomor 21, tempat kantor baruku berada.
"Ya sudah, good luck on your first day, Riss. Spare me the story, ya," tutup Vira tanpa menunggu balasan dariku. Aku tahu pasti dia malas kalau harus berbicara di telepon dengan sinyal naik turun.
Aku menggeser posisi tubuhku mendekati dinding belakang, akibat desakan dari pekerja kantoran lainnya yang baru memasuki lift. Sungguh aura hari senin yang padat semakin nyata di dalam lift ini. Berbagai rupa manusia sepertinya ada, lengkap dengan semua tingkah polah. Seperti wanita di depanku yang masih sibuk video call dengan anaknya yang akan berangkat sekolah, atau pria di sebelahku yang sibuk mengecek penampilannya melalui kamera ponsel.
Berbicara tentang pria yang berdiri di sebelahku, sepertinya dia sibuk sekali dari pertama kami sama-sama memasuki lift ini. Mau tidak mau aku menyadarinya karena gerak-geriknya dari tadi sungguh beragam, sangat menarik perhatian. Sebelumnya dia sibuk mendengarkan musik menggunakan earphone, kedua tangannya tidak berhenti bergerak, mungkin mengikuti irama musik yang sayup-sayup terdengar olehku seperti jenis lagu yang biasa dibawakan oleh Camila Cabello. Selepas itu, dia membuka ponselnya dan dugaanku, membalas chat atau mengirimkan pesan. Gerakan-gerakannya sangat bersemangat, ditambah dengan senyuman lebar yang selalu mengiringi, sampai-sampai aku seperti ikut melakukan aktivitas bersamanya.
Lift berhenti di lantai 12, sepertinya lantai tempat salah satu perusahaan besar yang berlokasi di gedung ini berada, lantaran sebagian besar penghuni lift keluar di lantai ini. Sekarang lift terasa lumayan lega, tersisa enam orang saja. Selain aku dan pria bersemangat di sebelahku ini, ada tiga wanita dan satu pria lainnya. Mereka semua nampak sibuk dengan ponselnya, cerminan kaum urban Jakarta yang individualis.
Aku kembali memerhatikan pria di sebelahku yang sepertinya tidak sadar diperhatikan dari tadi. Terus terang saja, pria ini tampak menarik secara visual. Tinggi badannya beberapa meter di atasku, tinggiku sendiri hampir 170cm, dapat dipastikan pria ini setidaknya memiliki tinggi badan 175cm. Rambutnya hitam lurus dengan poni bergaya belah tengah, poni tersebut yang sekarang sepertinya sedang dicek penampilannya melalui ponsel. Bentuk mukanya seperti huruf V tegas, mirip aktor-aktor di drama Korea, dengan dagu tajam siap menusuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
Chick-Lit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
