Resmi sudah Antoni meninggalkan tim. Area kerja tepat di belakangku, yang sebelumnya ditempati oleh Antoni, otomatis menjadi kosong dan terasa hampa. Walaupun seperti kuceritakan sebelumnya, kalau sebenarnya tidak terlalu ada bedanya sih area kerja sekitarku ini ramai orang atau tidak, karena semuanya lebih senang bekerja dengan headphone masing-masing terpasang di telinga. Namun tetap saja, selain Leon, sebenarnya Antoni lumayan enak diajak bicara. Dia agak sedikit normal pula bila dibandingkan dengan Leon, jadi lebih enak saja kalau mau sekedar cerita hal-hal sepele.
Berbicara tentang Leon, pria di sampingku ini lagi-lagi sedang asyik dengan ponselnya. Tidak perlu ditanya, aku sudah tahu apa yang sedang dilakukannya. Update wajib instagram story (igs) setiap pagi, rutinitas sebelum bekerja atau situasi lainnya yang masih berhubungan.
"Bok," panggilku kepada Leon setelah bunyi jepretan ponsel yang kesekian kalinya. Tidak juga mendapat respons yang kuinginkan bahkan setelah panggilan beberapa kali, akhirnya aku menyenggol lengannya untuk mendapatkan perhatian.
"Apaan sih, Riss?" seru Leon akhirnya selepas aktivitas terakhir yang kulakukan akhirnya memberikan hasil sesuai harapan.
"Lo kok masih sempat-sempatnya update igs begitu sih? Pekerjaan bukan menumpuk sehabis ditinggal Antoni? Belum ada penggantinya pula," tanyaku teringat schedule terakhir yang kubuat, dengan persetujuan Mas Deni, membuat Leon menerima paling banyak limpahan tugas Antoni yang belum selesai. Gatal juga melihat pria ini malah asyik selfie, pekerjaannya jadi terbengkalai.
"Promo untuk A dan desain rencana tahap ketiga untuk besok sudah selesai, finishing layering adegan pembuka tinggal touch-up sedikit lagi, masih dua hari lagi kan deadlinenya? Untuk gambar iklan yang kerja sama dengan tim sebelah, sedang gue minta feedback ke mereka," jelas Leon runut dengan pandangan tidak lepas dari layar ponsel.
Mulutku terbuka lembar ketika mendengar jawaban Leon, untung saja tidak ada lalat iseng yang bisa saja terbang langsung masuk ke mulutku. Setelah tersadar Leon sudah selesai bicara, aku langsung mengecek timeline di laptop, semuanya tepat sesuai dengan ucapan Leon.
"Tenang saja, Riss. Semua sudah gue hafal. Kayak baru kenal saja," kerling Leon ke arahku, seperti tahu aku sempat menyangsikannya.
"Oke, baiklah," ujarku pelan.
Aku kembali fokus dengan laptop di hadapanku, membiarkan Leon melanjutkan aktivitas igs-nya yang belum juga selesai. Sebenarnya, maksud utama aku menanyakan progres pekerjaan tadi bukan karena khawatir akan penyelesaiannya, justru sebaliknya. Walaupun dua kali rencana kaburku dari perusahaan ini belum jua berhasil, aku masih tidak menyerah. Beberapa hari yang lalu saat farewell Antoni, ketika Mas Deni sedikit mabuk ketika acara, aku berhasil membuatnya menandatangani dokumen handover peralihan pekerjaan Antoni ke Leon. Tujuan utamanya tentu saja membuat Leon kelimpungan dengan tambahan pekerjaan yang di luar rencana dan mendadak.
Selain Leon, memang ada satu senior compositor lagi yang seharusnya dapat berbagi pekerjaan Antoni. Namun demi menyukseskan rencanaku membuat jadwal kerja yang timpang kemudian disalahkan perusahaan, harus Leon yang melakukan. Saat ini, beban kerja Leon paling banyak, kemungkinan pekerjaannya menjadi berantakan paling besar. Kemudian ketika ditelusuri lebih jauh mengapa berantakan, akan terungkap bahwa pembagian kerja yang tidak adil adalah penyebabnya. Tentu saja mereka yang bertugas membagi pekerjaan harus menanggung akibatnya. Aku harus siap dikeluarkan dari perusahaan.
Begitu sebenarnya rencana awal yang kubuat.
Sekarang tentu saja menjadi sia-sia setelah mendengar penjelasan Leon tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
