Mas Deni membolak-balik dokumen di tangannya, nampak serius memerhatikan setiap informasi yang ada. Sekali-kali dahinya mengernyit, seperti mencerna data yang mungkin terlihat tidak biasa di matanya. Rambutnya yang ikal sebahu terkadang mengganggu konsentrasinya, beberapa helai yang jatuh menutup kening membuat Mas Deni sesekali harus menyampirkannya di belakang telinga.
Aku, Linda, Mbak Ingrid serta Leon hanya bisa menunggu Mas Deni menyelesaikan kegiatannya dalam diam. Sudah jadi rahasia umum untuk menjaga tingkat ketenangan ketika Mas Deni sedang bekerja. Well, sekarang hitungannya dia sedang bekerja sih, walau kelihatannya sepele karena hanya tiga lembar kertas yang ada di genggamannya tengah dibaca.
"Cukup menarik, portofolionya kuat," pungkas Mas Deni setelah membuatku hampir jungkir balik saking mati gaya sekali.
Kami berlima tengah berkumpul di ruang meeting kecil dekat area kerja Mas Deni, membicarakan Micro Graph. Aku dan Leon sudah yakin kalau studio ini pilihan yang tepat sebagai calon partner baru perusahaan. Mereka juga sangat fast response, tidak menunggu berganti hari sejak surel perkenalan dikirimkan, balasan sudah diterima dengan sangat antusias. Menyenangkannya lagi, mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik, sehingga komunikasi lanjutan kami lakukan dalam bahasa Inggris.
Melaui hasil komunikasi tertulis beberapa kali, Leon dan aku membuat infografis sederhana terkait Micro Graph, lengkap dengan prediksi jenis kemitraan seperti apa yang mungkin terjadi. Semua itu tertuang dalam tiga halaman kertas di tangan Mas Deni sekarang. Mbak Ingrid dan Linda sendiri sudah mendengarkan penjelasanku sekitar setengah jam yang lalu, ketika menunggu Mas Deni datang. Coridel Live tidak memiliki banyak koordinator VFX, karenanya banyak tugas yang dibebankan untuk Mas Deni. Membuat jadwal meeting dengan Mas Deni adalah tantangan tersendiri untukku.
"Pak Irwan sudah diberitahu?" lanjut Mas Deni, memandang aku dan Leon bergantian.
"Belum, Mas. Kami mau berdikusi dengan Mas Deni terlebih dahulu. Mengingat dampaknya akan cukup besar, dan pasti bersinggungan dengan Mas Deni juga nantinya."
Mas Deni mengangguk-angguk seperti menyetujui penjelasan Leon. Melihat pengalaman kerja Mas Deni yang sudah sangat lama di perusahaan ini, tidak heran apabila Pak Irwan menganggap Mas Deni sebagai tangan kanannya. Tidak ada proyek yang tidak melewati tangan Mas Deni terlebih dahulu, walaupun pengerjaannya nanti bisa jatuh ke tim lain. Pak Irwan selalu meminta saran atas bermacam aspek dengan Mas Deni terlebih dahulu.
"Sebelum ke Pak Irwan, ada beberapa tambahan data yang diperlukan. Lin, sepertinya lo harus buat forecasting budget terkait proyek ini secepatnya. Modifikasi dari proyek animasi yang baru selesai kemarin saja, tambahkan sekitar 20-25% mengingat kali ini akan membutuhkan biaya perjalanan dan sebagainya."
"Biaya perjalanan, Mas? Memangnya diperlukan untuk proses partnership ini?" selaku memastikan kalimat terakhir yang keluar dari mulut Mas Deni. Seingatku, memang aku baru bekerja di sini hanya beberapa bulan, tapi sudah cukup paham kalau proses kemitraan dapat dilakukan dengan kedua belah pihak menandatangani perjanjian kerja sama di Jakarta. Coridel Live kan lumayan perhitungan soal biaya, tentu mereka akan melakukan negosiasi semaksimal mungkin untuk calon partner yang berasal dari luar Jakarta (atau Indonesia) yang akan datang ke Jakarta, bukan sebaliknya.
"Tentu saja perlu," tegas Mas Deni. "Ini jenis partnership model baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tidak hanya dari sisi style pengerjaan yang akan berbeda dengan yang selama ini kita kerjakan, studionya pun baru kalian ketahui via internet kan? Sebelumnya, kita selalu mendapatkan referensi studio untuk partnership, kali ini berbeda. Tentu saja kalian perlu memastikan validitas studio ini langsung, sesuai dengan portofolio ini atau tidak," tambah Mas Deni sembari melambai-lambaikan dokumen di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
