Vira terbahak-bahak selepas mendengar semua ceritaku, yang sepertinya sudah menyaingi panjangnya jumlah episode sinetron di televisi. Rambut sebahunya tampak bergoyang-goyang lincah mengikuti gerakan kepala. Matanya yang lebar sampai tidak menyisakan pupil mata untuk terlihat, bahkan kalau diperhatikan lebih detail, ada air mata mulai mengalir di sudut matanya.
"Geli banget sih, Vir," gumamku akhirnya, tidak tahan menjadi bahan tertawaan di tengah-tengah padatnya waktu makan siang di area Dome. "Kita jadi pusat perhatian orang-orang kali, Vir," lanjutku mengingatkan.
Vira tampak tidak peduli dengan teguranku, tawanya malah semakin keras. Mungkin aku seperti badut di matanya, karena aku tidak ingat kapan terakhir kali Vira tertawa selepas ini. Terutama semenjak ia diterima kerja di Bank Persada. Setiap hari selepas hari pertamanya di Bank Persada, pembawaan Vira semakin formal, aku seperti mulai kehilangan sahabat baikku. Namun siang ini, aku akhirnya bertemu lagi dengan Vira yang kukenal di kampus.
"Aduh, Riss. Thank you banget ya lo paksa gue untuk ketemu makan siang hari ini. Lo benar-benar menghibur banget," ujar Vira terengah-engah, masih di sela-sela tawanya yang belum seratus persen terhenti.
"Dih, memang gue badut Ancol."
"Mirip," jawab Vira cepat. "Tapi lebih lucu," gelak Vira kembali.
Aku melempar pandangan sebal ke arah Vira dan mulai mencari cara untuk berpura-pura tidak kenal dengan perempuan di depanku ini, karena sekarang semakin banyak pandangan mata melihat ke arah kami.
"Oke, oke, maaf," seru Vira akhirnya sembari menyeka air matanya dengan tisu. "Tapi benar deh, Riss. Kok bisa ada orang apes banget kayak lo?"
"Ini bukan karena gue kali," selaku cepat.
"Iya iya, paham. Leon kan masalahnya," tebak Vira sambil berusaha kerasa menahan tawanya pecah kembali. Aku tahu sekali gelagat Vira hanya dengan membaca raut wajahnya sekilas.
"Tentu saja. Rencana gue semua berantakan karena dia, pekerjaan gue berkembang biak juga karena dia." Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, kemudian menghembuskan napas yang tidak sadar sudah kutahan dari tadi.
"Pekerjaan yang selesai sebelum waktunya, dokumen yang selalu ada back-up-nya, kemudian kesalahan jadwal kerja yang malah mendatangkan pujian klien," Vira mengingat-ingat semua ceritaku barusan. "Ada yang lain?"
"Paling berdampak tiga hal itu, terutama karena gue memang sudah benar-benar merencanakannya ya, tapi ada yang lain sebenarnya."
Vira memajukan mukanya beberapa sentimenter, sebagai tanda untukku melanjutkan cerita.
"Satu pasal yang paling jelas ada di kontrak kerja sebenarnya terkait kehadiran. Bunyinya kurang lebih kalau karyawan tidak masuk kerja selama lima hari berturut-turut tanpa keterangan, sudah dilakukan panggilan oleh perusahaan juga tapi tidak juga masuk kerja, maka karyawan tersebut dapat dikeluarkan oleh perusahaan secara sepihak."
"Gue baru tahu ada peraturan seperti itu," potong Vira. "Kenapa lo enggak melakukan ini saja dari awal?"
"Gue juga baru tahu waktu enggak sengaja dengar koordinator tim sebelah membuat surat panggilan, karena ada anggota tim dia sudah beberapa hari enggak masuk."
"Terus?" desak Vira.
"Sabar dong," gerutuku. Vira langsung menutup mulutnya rapat. "Anyway, gue langsung bolos kan ya sehari setelah gue tahu aturan itu. Hari pertama masih aman, whatsapp anak-anak kantor, terutama Leon dan Mas Deni bisa gue cuekin. Hari kedua sial banget."
"Kenapa?" celetuk Vira tak sabar. Melalui lirikan mataku, Vira kembali menutup mulutnya, kali ini disertai gerakan tangan yang bergerak di depan bibir seakan-akan menutup ritsleting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
