14. Moments of Surprise

2.1K 189 1
                                        




Aku melihat sekeliling ruangan dengan ekor mata, tentu saja agar tidak benar-benar terlihat sedang mengamati. Selain aku yang saat ini tengah duduk di sofa kuning yang terletak tepat di depan meja kecil, di sebelah kananku ada Linda dan Mbak Ingrid, sang sekretaris direksi. Sedikit jauh dari tempatku duduk, di kursi-kursi kayu tepat di sebelah Mbak Ingrid, ada Mas Deni dan Leon. Kami berlima tengah berada di area pantry yang paling besar, letaknya dekat dengan area kerja Linda.

"Jadi seperti yang saya sampaikan tadi," sebuah suara dari sisi kiri membuatku sedikit terlonjak. Aku sampai lupa keberadaan awal kami semua di sini berkat pria paruh baya di sisi kiri ini. Pak Irwan yang meminta kami berkumpul selepas acara town hall yang baru saja berakhir. "Saya suka ide yang disampaikan Dyandra."

"Rissa, Pak," selaku tanpa sanggup ditahan. Linda sontak mencubit tangan kananku, tanda untuk tidak banyak menyela sepertinya.

"Oh, Rissa?" ulang Pak Irwan. "Bukan Dyandra?"

"Dyandra Marissa, Pak. Tapi biasa dipanggil Rissa," balasku kemudian buru-buru menyembunyikan tangan kananku dari cubitan Linda.

"Oh oke, Rissa. Kamu yang in-charge untuk cek dokumen-dokumen perjalanan bisnis kan ya?"

Aku mengangguk. Sekarang si Bapak ingat kalau sudah menyangkut pekerjaan.

"Baiklah, melanjutkan pembicaraan sebelumnya. Saya suka dengan ide yang disampaikan Rissa." Pak Irwan berhenti sebentar untuk berdeham, seperti memastikan kalau perhatian kami terpusat padanya. Padahal tanpa melakukan itu, sudah pasti tidak mungkin untuk kami mengacuhkan managing director. "Sudah lama saya berpikir Coridel Live membutuhkan sesuatu yang baru, inovasi, terobosan yang berbeda dengan yang telah ada. Saya pikir sentuhan tren Korea akan sangat segar sekali untuk perusahaan kita, setelah sekian lama hanya berkutat dengan gaya Barat. Bagaimana menurut kamu Den? Sebagai salah satu yang paling senior di Coridel, saya percaya dengan penilaianmu."

Mas Deni melempar pandang ke arahku sebelum mulai menjawab pertanyaan Pak Irwan. Aku tidak paham maksud pandangan Mas Deni, tapi gelagatnya tidak enak.

"Pasti membutuhkan waktu untuk perubahan, Pak. Tim kita saat ini lebih terbiasa dengan gaya barat, akan membutuhkan waktu untuk mengubah style serta tentu saja mencari cara bercerita yang berbeda dari sebelumnya."

Mas Deni kembali melirik ke arahku. Kali ini aku paham maksud lirikannya, ternyata dia merasa berat untuk berubah. Akan terlalu banyak penyesuaian yang harus dilakukan pasti. Sekarang aku mulai menyesali gagasan yang kutulis tadi pagi. Mas Deni akan menyemprotku pasti habis sesi ini selesai.

"Semua perubahan pasti ada risikonya, tapi saya pikir akan setimpal dengan hasil yang dicapai nantainya. Linda, saya minta hitung budgetting kita tahun ini masih on-track atau tidak, apabila saya memutuskan untuk melakukan investasi baru. Ingrid siapkan laporannya segera ya, minggu ini saya harap sudah ada. Den, siapkan rencana penambahan alat kerja atau ekstra pelatihan apabila diperlukan. Sementara untuk kalian berdua," pandangan mata Pak Irwan bergantian ke arahku dan Leon. "Sejauh ini saya mendengar berita positif  terkait tim kalian. Terakhir sewaktu klien kita sampai datang dan mengucapkan terima kasih atas hasil kerja kalian yang luar biasa. Saya pikir ini kesempatan luar biasa untuk kalian berdua dapat bekerja lebih baik lagi."

"Maksud Bapak?" seruku dan Leon hampir bersamaan. Aku bertukar pandang dengan Leon, sama-sama mencoba mencerna maksud ucapan Pak Irwan.

"Saya pikir, kalian berdua bisa menjadi penanggungjawab untuk proyek ini. Rissa bisa mengurus operasional, sementara Leon area teknis. Target terdekat, setidaknya kita memiliki kerjasama dengan agency asal Korea Selatan. Bagaimana?"

Kick Me Out!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang