[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
Sebelum berangkat ke Seoul, aku sudah menuliskan berbagai kesulitan yang mungkin terjadi saat tiba di ibukota negara ginseng ini. Komunikasi yang tidak lancar, tersesat karena tidak bisa membaca petunjuk jalan atau bingung ketika harus menanyakan arah, makanan yang tidak cocok dengan lidah, kehabisan uang, kondisi tubuh tidak fit mengingat suhu di bulan November ini mulai turun drastis, bawaan pakaian dari Indonesia tidak cukup untuk menghalau dingin, kehilangan dokumen-dokumen penting perjalanan sampai ketinggalan pesawat untuk kembali ke Jakarta. Semua kemungkinan masalah tadi sudah memiliki rencana antisipasi masing-masing, sehingga seharusnya tidak akan terjadi.
"Riss, sudah kosong."
Aku mendongak dari agenda yang berisi semua catatan kemungkinan masalah yang terjadi selama perjalanan. Leon mengenakan kaos putih serta handuk yang meliliti tubuh mulai dari pinggang ke bawah, rambutnya masih basah terlihat dari tetesan air yang beberapa kali jatuh membasahi kausnya. Langsung aku memalingkan muka, berpura-pura mencari keberadaan handuk serta perlengkapan mandi. Leon masih berdiri kaku di depan kamar mandi, menungguku meninggalkan sofa yang terletak persis di sebelah koper Leon. Mengingat ini apartemen tipe studio, ruang gerak sangat terbatas. Area kosong di dekat kamar mandi adalah yang terluas di dalam apartemen ini, dalam arti dapat terlewati dua orang sekaligus.
Aku berdiri dan beranjak mendekati kamar mandi, kami berpapasan dengan bahu yang saling bersinggungan. Kaus putih Leon cukup kuyup karena tetesan air dari rambut, bahuku jadi ikut basah sekarang. Leon seperti tidak berani bergerak sampai aku benar-benar melewatinya. Semua terasa canggung sekali untukku. Aku tidak terpikir kalau urusan akomodasi akan menjadi kesulitan yang berarti dalam perjalanan ini. Semalam, aku membutuhkan waktu cukup lama untuk tertidur karena menyadari ada orang lain di dalam ruangan yang sama.
"Kenapa sih harus sewa apartemen studio?" Aku mengulang pertanyaan yang sudah terlempar semalam, mau bagaimana lagi, keadaan pagi ini semakin membuatku sebal.
"Lokasinya strategis, Riss," balas Leon cepat seperti sudah menduga pertanyaan ini akan kembali keluar. "Gue sudah minta maaf semalam, lupa kasih tahu lo soal apartemen ini. Gue pikir enggak akan jadi masalah buat lo, kan lo punya adik cowok juga."
"Adik kan keluarga, bok. Gue tahu dia enggak akan berbuat macam-macam kali, lo kan beda."
"Eh, gue enggak ada niat berbuat macam-macam ya, Riss," Leon membelalakkan mata sambil membuat tanda X di depan dada dengan kedua tangannya. "Kecuali lo yang mulai lebih dahulu," tambahnya sambil mengerling.
"Enak saja," timpalku sebal kemudian segera menutup pintu kamar mandi.
Oke, setidaknya suasana pagi ini sudah cair kalau kami bisa bertengkar seperti biasa.
***
Tidak salah Leon mengulang-ulang terkait lokasi yang strategis, stasiun subway Hongik University memang terbilang sentral walau tidak terletak di pusat kota Seoul. Selain terhubung langsung dengan kereta bandara, stasiun ini juga berada di jalur hijau yang melewati banyak stasiun-stasiun besar untuk memudahkan ganti jalur. Aku dan Leon baru saja berganti jalur di stasiun Sindorim dalam perjalanan kami ke Gasan Digital Complek, stasiun terdekat untuk mencapai BYC High City. Micro Graph memiliki kantor pusat di gedung BYC ini. Total perjalanan kami sampai tepat di depan gedung perkantoran mewah dengan dominan warna biru terang, adalah 40 menit saja. Sesuatu yang mustahil terjadi di Jakarta.
"Melihat dari gedungnya sih cukup meyakinkan ya," ujarku saat menunggu giliran menukar kartu akses masuk gedung. Langit-langit gedung BYC High City sangat tinggi, kemudian semua dinding gedung bagian luar berlapis kaca transparan warna biru yang membuat kesan mewah terpampang nyata.
"Setidaknya membuktikan mereka benar perusahaan bonafide," timpal Leon yang sama terpukaunya dengan aku. Ia berkali-kali melemparkan kata 'wow' selepas kami berhasil masuk ke lobi gedung. Norak sekali. Untung saja aku berhasil mencegahnya untuk mengambil selfie sebelum masuk gedung ini, bisa membuat malu saja pria ini kalau sampai itu terjadi.
Sebenarnya tanpa kelakuan Leon, kami berdua sudah terlihat sangat berbeda. Para pekerja kantoran di Korea sangat suka memakai pakaian yang sangat normal. Aku belum melihat satupun pekerja yang tidak memakai blazer, baik pekerja pria atau wanita. Sepatu kerja yang mereka kenakan juga sangat formal dan berkilau. Sementara aku dan Leon hanya mengenakan sweter dan bawahan kasual, dilengkapi kets. Kami seperti dua anak hilang yang tersesat, pantas saja beberapa pasang mata tampak mencuri perhatian ke arah kami.
Micro Graph memiliki tiga lantai di gedung ini, lokasi pertemuan kami terletak di lantai paling atas yang mereka miliki. Namun untuk menuju lantai teratas yang dimaksud, pihak Micro Graph meminta kami untuk turun di lantai terbawah dan akan membawa berkeliling terlebih dahulu sebelum memulai pertemuan di lantai atas. Sebuah strategi yang sangat baik, sepertinya mereka paham kalau aku dan Leon memang harus memastikan dengan benar calon perusahaan yang akan menjadi partner baru.
Setengah jam berkeliling tiga lantai milik Micro Graph, membuatku terpikir waktu yang diperlukan Coridel Live untuk sampai di level yang sama. Sungguh canggih semua peralatan yang mereka miliki. Dua orang koordinator compositor yang sempat kutemui bahkan telah memiliki aplikasi tersendiri yang dapat melakukan tracking dengan lebih nyaman, tidak manual seperti yang masih kulakukan.
Akhirnya pertemuan pertama dengan perwakilan Micro Graph terjadi juga. Mr Jung adalah perwakilan Micro Graph yang telah membuat janji dengan aku dan Leon sebelumnya. Aku tebak usia Mr Jung masih di awal 30 tahun, dengan kulit sungguh bening seperti aktor Korea, lengkap dengan potongan rambut bergaya wet look. Aku sempat terkesima dengan ketampanan Mr Jung sampai Leon menyenggol dan membawaku kembali ke realitas.
Sayangnya, pembicaraan kami selama hampir dua jam sedikit mengalami hambatan terkait bahasa Inggris Mr Jung yang terbatas. Pria itu terlihat berusaha keras untuk berkomunikasi dengan kami, namun aku dan Leon benar-benar tidak dapat menangkap artinya. Saat tur keliling kantor sebelumnya pun, orang yang ditunjuk untuk membawa kami mengelilingi kantor pun menjelaskan dengan bahasa Inggris yang terbatas. Namun, kala itu tentu saja tidak membutuhkan banyak diskusi, tidak seperti saat ini ketika kami sedang melakukan meeting.
"Lo bilang, ada referensi penerjemah yang bisa kita hire di Seoul?" tanyaku ketika aku dan Leon sedang dalam perjalanan balik ke apartemen selepas meeting, teringat akan perkataan Leon saat di Jakarta.
"Ada, tapi enggak jadi gue kontak karena Mr Jung bilang di surel kan dia lancar berbahasa Inggris."
"Orang ganteng suka terlalu percaya diri deh," sungutku sebal, mengingat-ingat dua jam meeting yang telah terbuang sia-sia baru saja. Seharusnya hari ini kami dapat saling bertukar pikiran tentang rencana perusahaan kami masing-masing, kemudian di pertemuan selanjutnya fokus ke poin-poin yang akan menguntungkan satu sama lain.
"Lo suka tipe-tipe yang seperti Mr Jung begitu ya? Sampai enggak napas begitu tadi lihat dia."
"Mulus banget, bok. Bening. Ternyata benar ada laki-laki seperti itu di Korea Selatan. Gue pikir di televisi saja." Aku mengingat-ingat lagi rupa Mr Jung yang sepanjang meeting selalu tersenyum, pantas saja dia ditunjuk sebagai perwakilan dari perusahaan. Aku saja kesirep pesona dia tadi, makanya baru terasa kesal sekali sekarang.
"Sama saja ya perempuan di mana-mana," cibir Leon sambil membelakkan matanya.
"Kedengaran seperti cemburu deh lo," balasku tanpa berpikir, yang tentu saja bercanda maksudnya. Namun Leon tidak membalas sama sekali, ia diam saja sampai kami tiba di apartemen.
Sungguh perjalanan yang canggung.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.