Suasana kantor masih lengang, jam meja yang ada di dekat posisi dudukku sekarang menunjukkan pukul delapan pagi kurang sepuluh menit. Coridel Live memang belum ramai pada jam-jam seperti ini, karyawan terbiasa datang di atas jam sembilan, bahkan beberapa di antaranya baru muncul jam sepuluh pagi. Sengaja memang hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya, agar tidak banyak yang tahu apa yang sedang kulakukan. Bisa jadi gosip nanti.
Aku mengubah posisi dudukku, agak sedikit menyamping menghadap pintu masuk kantor. Melalui posisi duduk baruku ini, aku bebas memperhatikan semua karyawan yang keluar masuk kantor, serta memastikan tidak ada yang melihat keberadaanku saat ini. Sebagai tambahan, aku meraih majalah yang tergeletak di meja untuk menutupi muka. Sekadar berjaga-jaga supaya benar-benar tidak ada yang melihatku.
"Takut banget ketahuan sih kamu," ujar suara dari arah belakangku yang terdengar menahan tawa.
Aku menengok ke arah sumber suara dan menemukan Mbak Martha datang menghampiriku membawa sebuah clear file transparan. Mbak Martha ini salah satu dari sedikit manajer di Coridel Live yang selalu datang pagi, setiap hari ia sudah sampai di kantor sekitar pukul tujuh pagi. Mungkin karena perannya di departemen HR yang harus memberi teladan ya, sehingga membuat Mbak Martha harus memberikan contoh perilaku terlebih dahulu.
"Enggak enak Mbak, nanti ada yang berpikiran macam-macam lagi," ujarku sedikit malu karena ketahuan.
"Kenapa malu? Kamu bilang ada tawaran bagus dari perusahaan besar kan? Harus bangga dong, bukan karena dikeluarkan perusahaan kan?" Tangan kanan Mbak Martha memegang sisi luar kacamatanya sembari mengangkat sebelah alis, nampak heran dengan jawaban yang kuberikan.
Aku tertohok dengan pertanyaan yang baru saja diajukan Mbak Martha, seperti teringat dengan semua rencana bodohku dulu agar secepatnya bisa dikeluarkan dari perusahaan. Di mana coba akal sehatku saat itu? Bisa-bisanya berpikir demikian, membuat jelek resume saja.
"Soalnya saya belum bilang ke siapa-siapa, Mbak. Jadi takut ada pembicaraan yang tidak-tidak saja, apalagi saya masih ada beberapa proyek yang harus diselesaikan. Nanti dianggap tidak bertanggungjawab lagi. Lebih enak kalau HR saja yang nanti memberitahu karyawan."
Mbak Martha tersenyum mendengar penjelasanku, kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Melalui senyumnya saja, entah mengapa Mbak Martha seperti bisa mengalirkan perasaan sejuk ke seluruh tubuhku.
"Itu yang saya suka dari kamu, Riss. Kamu sangat profesional dalam pekerjaan, padahal usia kamu masih sangat muda dan ini pekerjaan pertama kamu. Kamu itu selalu siap saat diberikan berbagai macam tugas, kemudian menyelesaikannya dengan cepat dan hasilnya sangat baik. Saya juga dengar dari Deni, tugas kerjasama dengan agensi Korea yang kamu pegang kemarin pun progresnya sangat baik. Coridel Live benar-benar rugi kehilangan kamu, Riss."
Aku merasakan mukaku memanas mendengar penjelasan Mbak Martha. "Mbak Martha terlalu berlebihan, saya hanya mengerjakan apa yang diberikan kepad saya saja kok, Mbak," ujarku kemudian dengan muka tertunduk, tidak berani menatap wajah Mbak Martha.
"Kamu tuh, terlalu rendah hati," Mbak Martha tertawa. "Kamu tahu enggak, Leon itu kalau ketemu saya selalu saja memuji kamu. Kata dia, saya canggih sekali bisa menemukan kamu. Dari semua koordinator yang pernah bekerja bersama Leon, kamu itu yang paling oke. Kamu tahu kan Leon itu salah satu karyawan terbaik kita? Jadi kehadiran kamu, sebuah keuntungan juga untuk perusahaan. Kamu membantu Leon bekerja lebih baik lagi."
"Leon bilang seperti itu Mbak? Tulus atau karena ada maunya?" tanyaku memastikan. Terakhir kali Leon memujiku, aku mendapatkan tambahan pekerjaan baru soalnya. Wajar saja kalau aku skeptis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
Romanzi rosa / ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
