19. Moments of Confide

1.8K 177 5
                                        


Suasana kantor menjelang pukul enam sore masih cukup ramai. Alunan musik terdengar sahut menyahut mengingat masing-masing area punya lagu favorit sendiri-sendiri. Pada beberapa sudut, terdapat kudapan yang dihidangkan. Balik ke selera masing-masing, ada yang patungan beli gorengan, martabak atau pesan Pizza. Area kerja tim kreatif memang terbilang cukup meriah sore ini, mengingat ada deadline proyek yang sedang dikejar, beberapa tim memang harus lembur. Nah, saat lembur berjamaah seperti ini, suasana kantor suka menyerupai pesta. Sepertinya dengan tujuan menyemangati mereka yang lembur. Walaupun saat Mas Deni lewat area ini, dia akan mengeluhkan kebisingan yang terjadi.

Lembur juga terjadi di tim yang aku pegang, tapi kami karena alasan lain, bukan mengejar tenggat proyek tertentu. Yah sebenarnya agak mirip, karena akibat kepergian Leon dan aku ke Seoul, beberapa deadline harus disesuaikan. Cukup lama kami diberi waktu di Seoul oleh Pak Irwan, enam hari, berarti selama itu pula Leon akan meninggalkan pekerjaan. Leon yang sangat bertanggung jawab itu sudah beberapa hari terakhir memutuskan lembur untuk mengejar semua tugas yang masih lama deadline-nya agar tidak membebani rekan lain, kemudian anggota tim lain atas dasar solidaritas, memutuskan ikut lembur. Sementara aku, terjebak dalam lingkaran solidaritas yang memaksa untuk tetap tinggal di kantor, tanpa pekerjaan berarti yang harus dikerjakan.

"Lo balik saja kalau sudah enggak ada yang dikerjakan," sahut Leon mengagetkanku yang tengah membuka-buka portal gosip.

"Nanti pada komentar lagi anak-anak, tim pada lembur, koordinatornya pulang," sergahku tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop, lagi seru membaca kolom komentar.

"Nanti gue yang cover," balas Leon cepat. "Lagi pula, bukan gue menguping, suara lo keras banget. Lo mau ketemu si Vira itu kan malam ini?"

Aduh, Leon Haris kalau sedang penuh perhatian dan super penolong seperti ini benar-benar membuatku suka lupa akan kelakuan-kelakuan minusnya. Tentu saja tanpa berdebat panjang, bukan saatnya untuk bersikap tidak mau kalah dari Leon, aku bergegas meninggalkan kantor dengan tatapan seribu mata mengiringi.

Sayup-sayup aku dengar Leon menjelaskan soal diare dan kentut terus sebagai alasan kepulanganku. Sialan, aku memang tidak boleh terlena dengan pria itu.

***

Vira masih tertawa saja mendengar semua ceritaku soal Leon dan alasan diare yang dibuatnya baru saja, padahal ceritaku sudah berjalan lima menit yang lalu dan saat ini pelayan bahkan telah mengantarkan minuman pesanan kami.

"Tapi berkat dia kita jadi bisa ketemu malam ini, besok kan lo sudah pasti enggak sempat," komentar Vira akhirnya setelah tawanya berhenti.

"Iya sih," ujarku baru sadar kalau lusa adalah jadwal keberangkatan ke Seoul. Mengingat calon perjalanan bisnis pertamaku ini, aku jadi teringat bermacam peristiwa yang terjadi beberapa minggu terakhir. Semuanya terjadi begitu cepat di depan mata. Bermula dari ide asal yang ternyata dianggap serius oleh perusahaan, kebodohanku menambah beban hidup dengan ikutan belajar Bahasa Korea sampai keputusan absurd yang membuatku harus pergi ke Seoul.

"Semuanya jadi serius begini bikin gue takut, Vir," ujarku menghentikan proses memotong-motong chicken steak di piring. Tiba-tiba saja perutku terasa melilit, seperti ada pusaran aneh di dalamnya. Jangan sampai ucapan Leon tadi sore menjadi doa, pikirku tambah kalut.

"Takut karena lo masih harus bertahan di sana, atau karena proyek yang sedang dikerjakan saat ini?" Vira membuat penekanan pada kata atau, mungkin untuk memberi ruang berpikir atas peristiwa mana yang lebih berpengaruh pada rasa takutku saat ini.

"Entahlah, mungkin keduanya, mungkin yang terakhir," ujarku akhirnya. "Satu yang pasti, aneh saja buat gue dapat tanggung jawab sebesar ini," aku berhenti sebentar, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan situasi saat ini. "Gue kan terhitung anak kemarin sore, kerja di sini saja baru masuk delapan bulan. Tahu apa gue soal bisnis? Masih banyak yang lebih senior di tempat gue."

"Mungkin karena lo punya potensi?"

"Gue enggak yakin. Hmm, tapi Leon sempat cerita soal tanggung jawab besar yang di dapat saat magang." Ingatanku melayang ketika Leon menceritakan pengalamannya saat pertama kali magang di Coridel Live.

"Sekarang lo lihat Leon ada di mana kan?"

"Maksud lo?" tanyaku tak paham dengan maksud ucapan Vira.

"Dia salah satu compositor andalan tempat lo. Kalau gue enggak salah ingat dari semua cerita-cerita lo, dia juga beberapa kali pegang proyek-proyek besar bukan? Usianya beda setahun sama kita, tapi saat kita seumur dia, dia sudah sampai mana kita masih main-main saja di kampus."

Aku mengangguk-angguk dan mengingat semua kinerja Leon selama ini. Benar juga sih kesimpulan Vira, Mas Deni saja paling sering mengingatkanku untuk mengecek jadwal Leon dibandingkan anggota lain.

"Gue setuju sama Leon. Gue pikir perusahaan kasih lo kesempatan karena melihat ada potensi di diri lo," tambah Vira setelah beberapa saat.

Aku tertawa kecil mendengar komentar Vira, sampai Vira balik memelototi baru aku sadar dia serius. "Lo bercanda kan? Potensi apa, Vir? Ada juga lo yang sudah masuk di perusahaan besar yang punya potensi, masuknya saja susah dan saingannya ribuan orang," ujarku memastikan Vira serius dengan ucapannya.

Vira tampak menghela nafas, dan aura mukanya yang sebelumnya ceria dan bersinar saat menertawakan semua kesialanku, sekarang meredup. Baru sekarang aku melihat garis-garis kelelahan di bawah kedua matanya.

"Lo seharusnya bersyukur, Riss, punya kesempatan pegang proyek sebesar itu. Sampai pergi ke luar negeri pula untuk memastikan kelancarannya. Berapa banyak fresh graduate seperti kita yang bisa dapat peluang seperti itu? Anggap saja kayak gue deh, management trainee, minimal kan membutuhkan waktu satu tahun dulu belajar berbagai macam hal baru dapat penempatan. Saat penempatan pun lo enggak bisa pilih mau di posisi apa, kemudian setelah itu tantangan baru muncul lagi. Berapa lama lo akan bertahan di posisi itu? Melihat senioritas dan birokrasi di Bank Persada, bayangkan kapan kesempatan emas mengerjakan tugas penting bisa gue dapatkan. Paling gue hanya akan mengerjakan tugas-tugas receh atau kelimpahan tugas penting yang kreditnya tetap dipegang oleh senior."

"Serumit itu, Vir?"

Ketika Vira mengangguk, aku langsung merasa bersalah. Aku baru sadar selama ini Vira mendengar semua ceritaku dengan berbagai macam keluhan di dalamnya dengan sabar, sementara tidak sekalipun aku menanyakan tentang pekerjaannya saat ini. Aku pikir semuanya berjalan baik-baik saja untuk Vira, tidak pernah terlintas dalam benakku ia menyimpan semua unek-unek tadi. Aku hanya tahu Bank Persada sebuah perusahaan yang bergengsi, kantin karyawannya saja sungguh keren, apalagi kondisi lain di dalamnya kan.

"Kesempatan enggak datang dua kali, Riss. Menurut gue, ini saatnnya lo menunjukkan kemampuan terbaik. Rissa yang gue kenal enggak mudah panik dan cemas seperti sekarang. Rasa takut wajar sih, namanya juga pengalaman baru yang belum lo pernah lakukan sebelumnya, tapi jangan biarkan menguasai lo. Bokap gue pernah bilang, don't let your fear of what could happen make nothing happen. Intinya ya jangan sampai rasa takut lo mengalahkan kesempatan untuk berhasil."

Aku tersenyum mendengar penjelasan Vira, sekali lagi dibuat terkagum-kagum oleh sahabatku ini. "Thanks ya, Vir, ucapan lo berarti banget buat gue. Maaf ya gue jadi sering mengeluh dan lupa bertanya soal keadaan lo. Jadi, bagaimana kehidupan lo saat ini?" tanyaku balik berusaha berperan sebagai sahabat yang baik juga.

Aku mengakhiri malam itu dengan semangat membara untuk esok lusa, satu kesempatan pembuktian kepercayaan perusahaan padaku. Andai Leon melihat malam ini, dia pasti bangga akhirnya sisi positifku keluar juga setelah bersembunyi sekian lama.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

So... Seoul with Leon is coming up! Yippiiiee!

Kick Me Out!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang