Proses resign Antoni, atau lebih tepatnya selesai kontrak, berjalan lebih cepat dari dugaanku. Mungkin karena diminta cepat pindah oleh kantor barunya, atau memang Antoni sudah memiliki rencana lain untuk menghabiskan sisa cutinya, anak itu memutuskan untuk mengambil semua sisa cuti. Kalau sebelumnya timku sudah cukup panik dengan rentang waktu tersisa akan keberadaan Antoni, lalu perubahan jadwal yang terjadi atas perintah Mas Deni, hari ini semua aktivitas yang terjadi benar-benar seperti menunggu bom waktu meledak. Penuh emosi dan ketegangan.
Aku sedang mengecek ulang schedule untuk minggu ini di antara kesenyapan area kerja. Sungguh suatu situasi yang sangat jarang terjadi, biasanya kami masih bisa saling melempar canda, memutar musik dengan cukup kencang sampai departemen lain protes atau hanya bertukar pendapat untuk pesan camilan sore sebagai teman bekerja.
Selain aku yang masih sempat makan siang di luar beberapa jam lalu, timku sepertinya tidak ada yang keluar makan. Bekas-bekas bungkus dan kotak makanan terlihat di meja kerja mereka masing-masing, beberapa bahkan dalam kondisi belum dibuka sama sekali, menandakan sang pemilik belum sempat menyentuhnya.. Pandangan mereka lekat ke layar komputer, seperti tidak peduli dengan semua peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
Aku merenggangkan kedua tanganku setelah satu jam lebih berjibaku dengan schedule, memastikan tidak ada timeline yang terlewat. Sedikit menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri, pandanganku terhenti pada sosok Leon. Pria itu nampak asyik memainkan tetikus dengan headphone besar yang menutupi kedua telinga. Dibandingkan dengan empat orang anggota tim lain, Leon tampak paling santai. Di sela-sela mengerjakan bagiannya, aku mengintip dia masih sempat membuka beberapa akun sosial media. Benar-benar laki-laki yang harus selalu eksis, pikirku dalam hati.
Baru saja terpikir untuk menganggunya, karena aku melihat dia sedang mencoba mengunggah foto diri ke instagram lewat laptop, Mas Deni berjalan cepat ke arah mejaku. Muka Mas Deni seperti terlipat empat saat aku berusaha menyapanya. Akhirnya aku memtuskan untuk menutup mulut dan membiarkan ia memulai percakapan. Ada apa dengan tim ini dan Mas Deni, keadaan penuh emosi dan tegang seperti penyakit menular.
"Riss, kenapa enggak semua fail gue terima ya? Lo ada salah memasukkan data?" tanya Mas Deni sambil menunjuk ke arah ponselnya, memintaku ikut melihat untuk mengetahui apa yang dimaksud. Suara Mas Deni yang lumayan nyaring, ditambah kondisi yang sedang sepi, membuat beberapa anggota tim menoleh ke arahku dengan pandangan super kepo. Termasuk Leon. Sesuatu yang bisa membuat Leon memalingkan diri dari instagram berarti layak masuk dalam jajaran peristiwa penting abad ini, setidaknya dalam lingkup Coridel Live.
Suara Mas Deni yang terdengar beberapa oktaf lebih tinggi dari biasanya tentu sesuatu yang dapat dikatakan penting. Ini pertama kalinya aku mendengar Mas Deni berbicara dengan nada suara ini kepadaku.
"Tidak ada sih, Mas. Sudah sesuai semua," jelasku setelah melihat layar ponsel milik Mas Deni. Semua hasil kerja anggota tim sudah aku letakkan di dalam Google Drive, seingatku sih tidak ada yang tertinggal. Justru sekarang timku sedang mengejar fase berikutnya, agar segera komplet.
"Punya Leon enggak sesuai ini sama schedule yang gue info terakhir," tunjuk Mas Deni ke satu folder yang berisikan hasil kerja Leon. "Leon, lo sudah selesaikan part 6 dan 7 belum?" tanya Mas Deni langsung ke arah Leon.
Leon melempar pandangan ke arahku seperti meminta penjelasan, aku membalas tatapannya dengan pandangan yang sama persis. Aku juga tidak paham maksud ucapan Mas Deni.
Mas Deni tampak menahan napas, kemudian menarik kursi kosong dari dekat pantry untuk didudukinya di antara aku dan Leon. Sekarang, dari dekat seperti ini, baru kulihat mukanya begitu merah seperti menahan marah. Empat anggota tim lainnya nampak semakin penasaran, mereka sudah benar-benar melepaskan pandangannya dari laptop untuk bersiap-siap melihat pertunjukkan seru yang akan segera terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kick Me Out!
ChickLit[TAMAT] Terancam penalti kerja, Rissa mencari bermacam cara untuk dikeluarkan dari pekerjaannya yang menyebalkan. Sayang, semua trik yang dilakukan Rissa malah membuat perusahaan semakin mempertahankannya. Belum lagi rekan kerjanya, Leon, yang secar...
