09. Moments of Helping Hand

2.7K 229 5
                                        


Seorang compositor bertugas untuk menggabungkan elemen-elemen yang biasanya diberikan secara terpisah seperti karakter dan latar belakang, untuk kemudian digabungkan menjadi satu keutuhan gambar atau adegan. Ini adalah langkah terakhir dalam pengolahan visual, yang mengedepankan color correction dan pemberian mood agar terasa lebih indah. Tentunya selain sense of art yang cukup baik, ketelitian adalah kualifikasi utama yang wajib sekali dimiliki oleh profesi ini. Memastikan tidak adanya spot warna yang terlewat atau tidak membaur dengan sempurna, contohnya, pasti membutuhkan akurasi tersendiri.

Leon Haris adalah sosok ideal untuk posisi compositor. Aku sudah menceritakan sebelumnya kalau dia sangat rapi dan terjadwal, semua kegiatan Leon dapat ditemukan di dalam agenda atau ponselnya. Ya, ponsel yang berisi ribuan foto selfienya itu juga menyimpan semua aktivitas-aktivitasnya, baik yang sudah berjalan atau masih rencana. Seharusnya aku tidak heran kalau aspek teliti dan penuh persiapan sudah mendarah daging dalam hidupnya.

Aku tidak heran sih, hanya lupa saja.

"Jadi, setiap dokumen yang mau lo kasih ke mana saja, atau siapa saja, pasti lu scan dulu semua?" tanyaku beberapa jam kemudian setelah kejadian dokumen (sengaja di) hilang (kan) di area kerja Linda.

"Buat jaga-jaga saja," ujar Leon acuh sambil mengetikkan sesuatu di laptop.

"Jaga-jaga kalau ada yang menghilangkan dokumennya ya," tambahku pelan tiba-tiba merasa baper. Di luar rencanaku yang gagal, ternyata ada fakta lain terkuak yang cukup membuatku sedih. Rekan kerja tidak mempercayai hasil kerjaku.

Leon seperti kaget mendengar jawabanku. Dia segera menghentikan aktivitas mengetiknya dan melempar pandang ke arahku, mengamatiku lekat.

"Eh lo tersinggung ya?" ujar Leon hati-hati. "Aduh maaf Riss, enggak maksud membuat lo tersinggung. Gue memang selalu membuat back-up akan segala hal, bahkan back-up dari back-up. Misalnya nih, satu tugas selesai, gue save otomatis kan di laptop. Nanti gue save lagi di external hard disk juga, lalu back-up kembali di google drive dan cloud. Quadruple protection!," seru Leon dengan nada suara seperti baru saja memenangkan penghargaan tingkat nasional.

Aku melongo mendengar penjelasan Leon. Wow, terdengar paranoid sekali anak ini.

Sepertinya Leon salah membaca raut mukaku yang seharusnya terkejut ini dengan kecewa, karena ia segera melanjutkan kalimatnya. "Jadi benar enggak ada maksud lain, apalagi sampai membuat lo tersinggung. Sebenarnya malah kemarin gue mau bantu lo."

"Eh membantu gue? Memang gue minta bantuan apa?" Keningku berkerut, mencoba mengingat-ingat kejadian dengan Linda tadi.

"Gue lihat lo panik waktu di meja Linda," Leon mulai menjelaskan.

Oke, aktingku berhasil berarti.

"Seperti bingung dan melas begitu."

Tidak sia-sia latihan rutin yang kulakukan di depan kaca setiap malam.

"Linda pun seperti mau meledak."

Memang, reaksi yang sudah aku prediksi akan muncul. Sesuai dengan skenario nomor lima.

"Lalu gue dengar Linda telepon HR."

Ini dia, langkah terakhir yang seharusnya memastikan rencanaku sukses.

"Gue tahu itu saatnya bertindak untuk menyelamatkan lo."

Baiklah. Reaksi aktor pendukung ternyata di luar perkiraan, serta tidak masuk sama sekali dari enam skenario yang tercipta.

"Kenapa lo berpikir harus membantu, eh menyelamatkan gue?" tanyaku menirukan kata terakhir yang Leon pakai.

"Lo membutuhkan pekerjaan ini kan? Lo pernah cerita masih ada adik-adik lo yang sekolah, lo melakukan ini untuk meringankan beban orangtua. Nah, kalau sampai HR tahu, bisa selesai semuanya."

Kick Me Out!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang