Dikarenakan Hans gak mau nulis akhirnya Vanilla yang nulis. Jadi inget Steven.
Namanya Hans, hanya Hans saja tidak ada nama panjang yang lain, dulunya hanya manusia biasa yang punya kehidupan yang biasa saja. Hans bukanlah bangsa Netherland yang kaya ataupun miskin, hidupnya berkecukupan dan bisa membiayai kebutuhan keluarganya.
Hans hidup normal dengan 2 adiknya dan kedua orang tua nya yang berprofesi sebagai pemilik toko kue paling enak di kotanya dulu. Tapi, dibalik kehidupannya yang normal ada sesuatu yang kelam. Hans tidak bisa disentuh.
Hans punya phobia disentuh oleh seseorang, entah kenapa setiap Hans disentuh Hans sangat ketakutan, ia trauma akan sesuatu yang ia tak ingat. Mungkin karena kejadian itu Hans menjadi tidak tenang saat disentuh.
"Kak Hans! Ayo main!" Ajak adik nya yang bernama Hellen, Hans sangat ingin bermain dengan Hellen tapi Hans juga sedang membantu Ibu nya untuk membuat roti. "Hellen, kakak sedang membuat roti." Tolak Hans lembut.
Hellen menekuk wajahnya, ia menarik tangan Hans kasar dan itu membuat jantung Hans berdegup kencang, ia takut, sangat takut, Hans tidak tau dari mana asal ketakutan ini, Hans bahkan ingin menangis, seluruh badannya bergetar hebat akibat ketakutan.
Hellen yang menyadari hal ini langsung melepas tangannya dari tangan Hans, seluruh tubuh Hans lemas, "Kak! Kakak kenapa! Kakak baik baik saja kan?" Tanya Hellen panik, tapi Hans tak mampu menjawab, bibir nya rasanya kelu.
"Ya ampun! Ada apa ini?!" Teriak Ibu nya yang baru saja datang karena mendengar suara teriakan Hellen, Hellen menangis sambil menggeleng tanda tak tau apa yang terjadi.
Hans di bawa ke dokter dan diperiksakan, dokter memberi tau bahwa Hans ini punya ketakutan saat disentuh, trauma masa lalu kata nya. Itu lah awal awal saat Hans mengetahui bahwa dirinya tidak bisa disentuh.
Di sekolah Hans dibully oleh bangsa nya sendiri, Hans dianggap aneh karena selalu menunjukkan ekspresi takut saat hendak disentuh orang lain. "Kau aneh sekali! Apa kau kelainan?!" Hardik salah satu teman sekelasnya, tentu saja kata kata nya menusuk hati Hans karena Hans punya hati yang rapuh.
"Cih, kau bahkan tak menjawab pertanyaan ku, kau bisu? Haha! Dasar kelainan!" Ejek temen sekelas nya diikuti dengan teman nya yang lain.
"Kelainan!"
"Aneh!"
"Dasar penakut!"
"Cengeng!"
Kata kata yang seolah sudah melekat pada Hans itu selalu saja ada di sekitarnya. Pernah satu kali ia hampir ditabrak mobil karena terkejut ada seseorang yang membencinya menyentuh lengannya.
"Harusnya kau mati tadi, haha!" Hans berdiri dari duduk nya dan pergi bergitu saja tanpa menghiraukan ejekan yang menyakiti hatinya.
"Ya Tuhan, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tidak ingat apa yang membuat ku trauma?" Kata Hans pada diri nya sendiri, ia ingin pergi ke Gereja untuk berdoa pada Tuhan, semoga saja Tuhan memberi petunjuk pada nya, begitu pikirnya.
"Ya Tuhan, aku ingin hidup normal, aku berjanji akan menjadi anak baik, tolong Tuhan, kembalikan aku menjadi normal, aku rindu pelukan hangat keluarga ku."
Selesai berdoa Hans pergi menuju rumah nya, di perjalanan pulang Hans menemukan jembatan yang baru saja dibangun, bawah jembatan itu adalah sungai yang deras, karena baru dibangun jembatan nya masih sepi, Hans pergi ke pinggir jembatan dan melihat pemandangan.
Cantik. Itu lah kesan pertama yang Hans dapatkan, Hans sangat menyukai tempat nya, Hans berkunjung setiap hari ke jembatan itu. Karena akhir akhir ini Hans menjadi sangat bahagia dan selalu tersenyum teman sekelas nya sangat bingung, beberapa diantara merek sangat penasaran apa yang membuat Hans menjadi sebahagia ini.
Waktunya pulang, hal yang dinanti nanti Hans akhirnya datang juga, Hans buru buru pergi dari kelas dan pergi menuju jembatan, ada 1 orang yang mengikuti Hans dari belakang karena penasaran sekali dengan Hans.
Hans kembali melihat pemandangan yang indah di pinggir jembatan sambil tersenyum, 1 orang yang mengikutinya sangat muak dengan senyuman Hans akhirnya memilih untuk menyentuh lengan Hans kasar hingga Hans kaget dan terjatuh.
Hans tak dapat melihat wajahnya, tapi yang pasti itu adalah teman sekelasnya. Hans ditemukan hari itu juga dengan keadaan tak bernyawa, keluarga menangis histeris.
"Putraku tidak meninggal! Ia di sini! Hans! Anak ku!" Begitulah teriakan Ibu Hans yang sangat memilukan hati, hati Hans rasanya seperti di sayat sayat melihat Ibu nya terus menyebut nama nya sambil berteriak histeris.
Aku menemukan Hans di jembatan tempat ia terjatuh, ia menatap ku dengan tatapan sedih, sangat sedih, aku bahkan bisa merasakan kesedihan nya, Hans sangat menyayangi keluarga nya melebihi apa pun, Hans tidak menyangka ia akan pergi terlebih dahulu meninggalkan orang orang yang paling ia cintai. Tatapan Hans ingin membuat ku menangis rasanya.
Yaa, begitulah cerita Hans. Semoga kalian mendapat pesan yang ada di cerita ini.
Salam hangat Vanilla.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Story
HorreurHanya ingin berbagi cerita menjadi seorang indigo Cerita ini real apa adanya, bagi yang tidak percaya kalian bisa meninggalkan/tidak membaca cerita ini, bagi yang percaya boleh kalian membaca cerita ini. Terima kasih.
