7. Saat es mulai mencair.

3.7K 281 15
                                        

Aku lari pemirsah, gila aja. Tiga puluh tiga lawan satu, udah pasti jadi perkedel nanti. Aku berlari tanpa henti yang penting aku gak ketemu mereka gitu aja. Dan sialnya ini gang di Jepang sepi amat dan bodohnya aku malah lari kearah gang pasar yang jelas disana gak ada satupun orang bakal lewat.

.......

Jangan pernah marah pada suami eoh dan bersikap konyol seperti yang kulakukan sekarang. Ridho suami itu ridhonya Tuhan. Jadi kalau sudah begini rasa menyesal yang ada.

Seharusnya aku ikhlas dan bersyukur udah dapat pria yang bertanggungjawab seperti Levin, tak pernah mempermasalahkan masalaluku, tidak pernah memukulku bahkan perhatian walau caranya kadang suka aneh. Cuman akunnya saja yang kadang ingin lebih. Padahal sejatinya pasangan itu saling melengkapi.

Ah, pokoknya aku menyesal. Maafkan aku Levin.

....

Aku berhenti didepan ruko dibalik keranjang besar. Nafasku tersenggal dan berharap ini mimpi. Sungguh aku berharap akan itu.

Aku milih diam sambil merapalkan doa, jantungku masih berdetak kencang. Ini sungguh bukan kisah komedi romance lagi tapi pembantaian tragis atas ulahku sendiri.

Brug

Brug

Kudengar segerombolan Yakuza itu masih tidak lelah mencariku dan kini mereka malah berpencar. Aduch, sial bukan kepalang kalau begini mah. Mana Levin gak nongol nongol. Apa mungkin dia malah bahagia karna aku menghilang.

Abaikan.

......

Aku masih terdiam dibalik keranjang besar itu. Tapi tiba tiba aku merasa ada seseorang yang menepuk pundakku. Seketika aku terdiam dan tak berani menoleh. Aku ketakutan hampir mati.

"Sean kaukah itu?"Suara itu aku kenal. Pemiliknya Levin, spontan akupun menoleh dan nyatanya benar.

"Lev......"Mataku berkaca dan aku langsung melompat kearahnya. Memeluknya dan enggan melepasnya. Aku melepas kekhawatiranku sesaat. Disini ada Levin yang bersamaku. Entah aku nanti bakal dikasih sukarela pada yakuzanya atau dilindungi. Bodo amat yang penting rasa takutku ini mereda saat aku memeluk Levin.

"Iya ini aku, maaf aku terlambat. Aku juga merasa takut saat kamu pergi jauh Sean. Pliss jangan pernah pergi lagi."Levin menepuk punggungku dan membalas pelukanku. Dia ketakutan juga saat tidak kunjung menemukanku. Dan berharap kejadian ini tak akan pernah terulang kembali. Aku bisa mengendalikan emosiku dan Levin bisa lebih tenang menghadapiku.

"Lev....."Aku mulai gemetaran saat kulihat ada para yakuza berjalan kearah ku.

"Sean, tenang. Aku akan menanganinya."Bisik Levin padaku agar aku lebih tenang, dan kini?

Cup
Eumm........

Levin melumat bibirku dan kini sedikit mendorong tubuhnya kearahku sehingga aku menempel pada dinding ruko itu.

"Anak muda jaman sekarang!"Gerutu para Yakuza lewat begitu saja. Dan mereka tak mencurigaiku.

"Hey, apa kau melihat pria kecil berlari kearah sini?"Tanya yang lainnya.

Cup
Eumm...

Levin menciumku lagi tapi tanpa lumatan disana dan menyembunyikan wajahku didepan dadanya.

"Aku melihatnya berlari kearah jalan besar dan sepertinya dia bersama polisi."Bohong Levin dan kini dia malah memelukku dan ingin melanjutkan kegiatannya.

"Ah, sudah abaikan pria tadi. Lukamu juga gak begitu parah" Ujar pria satunya dan aku sempat mendengarnya. Sumpah aku sangat lega dan nafasku mulai beraturan kembali.

"Andai aku tahu wajahnya, sudah habis dia besok!!"Ancam pria yang kuhajar tadi dan aku langsung memeluk erat Levin.

"Mereka sudah jauh. Udah jangan takut lagi eoh"Levin kini menatap mataku dan meyakinkanku bahwasanya aku tak perlu takut lagi ada Levin disampingku.

......

"Aish, Sean nyatanya Kamu."Cibir Levin mencubit hidungku dan kini menawarkan punggungnya. Dia ingin aku berada dalam gendonganya mengingat keadaanku yang sangatlah kacau.

"Apa kamu benar benar memukulnya?"Tanya Levin dan kini dia berdiri dan siap melangkah setelah merasa aku sudah naik dipunggungnya.

"Aku tak tahu kalau mereka berjumlah banyak. Dan....kenapa kamu datang terlambat!!"Ucapku kesal sambil menepuk punggung Levin. Kalau terlambat sedikit saja, ceritanya pasti beda.

"Apa kamu merindukanku?"Levin kumat sok keren, sok jadi pahlawan dan aku butuh banget dia.

"Yakkkkkk."Teriak Levin spontan saat aku menggigit telinganya. Dia kesakitan tapi untungnya dia tak menjatuhkanku diaspal dan malah memegangku kuat.

Keren gayanya, aku suka.

"Aku sangat merindukanmu, tapi yang dirindukan galak."Cibirku dan kini meniup telinga Levin bekas gigitanku.

"Lain kali jangan bersikap sok jagoan eoh."Levin kini berjalan menyusuri trotoar. Dan aku menyandarkan wajahku dipunggungnya. Aku merasa lelah dan ini sangat nyaman, berharap tak lekas sampai rumah.

"Ku kira kamu tak akan peduli padaku dan mengabaikanku. Tak menjemputku dan bahkan memilih tidur diatas ranjangmu."Aku mengomel tiada henti, tapi masih dalam keadaanku yang menyandarkan wajahku. Bibirku manyun karena aku merasa kesal.

"Maunya tadi seperti itu. "Celetuk Levin dan itu membuatku sakit hati. Langsung aku berusaha turun dari gendongan Levin. Ingin berontak namun Levin tak membiarkanku.

"Maksudnya? Kamu terpaksa mencariku?"Aku masih berontak.

"Jangan bergerak gerak Sean ini berat, kalau ada orang ngomong itu didengar!"Levin meninggikan nada suaranya.

" ....." Aku diam.

"Maunya aku itu terus peduli padamu tapi kamu tak pernah merasa cukup, mencintaimu selalu tapi kamu tak pernah terima dan dengan sikapku yang seperti ini kamu selalu merasa aku tak pernah pernah sayang padamu. Aku bukan pujangga yang pintar merangkai kata dan aku pun bukan pangeran yang berhati lembut." Ucap Levin khidmat. Dia seperti baru saja nonton telenovela roman picisan. Dan menghafal dialognya lantas diaplikasikan padaku.

Sungguh sekali kau FERGUSO!!

Sumpah pipiku jadi semerah tomat. Gak kusangka nyatanya aku juga egois disini. Selalu membuat Levin itu yang paling jahat.

Aku jadi merinding mendengarnya.

"Kamu dapat naskah darimana itu?"Tanyaku mencibirnya namun kini kusisipi mencium leher bawah telinganya.

"Sean...." Nadanya jadi lembut. Kalo gegara aku diculik Levin jadi lembut begini sumpah aku bakal rela diculik lagi besoknya.

"Iya." Balasku senang. Aku terus mencium leher itu. Mumpung momentnya past dan Levin gak marah marah.

"Kamu harus menurunkan berat badan. Ini menyiksaku." Gerutu Levin dan menurunkanku tepat didepan rumah.

"Yak.........."

Aku emosi jiwa dan berlari meninggalkan Levin. Sumpah ini gak indah.

Bye....

Tbc
Abaikan typo.
Dikit say, aku beberapa kali rombak part ini jadi lelah.

1.Maunya diculik beneran dan ada kisah Yakuza gitu. Eh, kok jadi keinget the great mafia. Jadi hapus.

2.Maunya bikin papah nongol buat ikut nyelametin aku, nebus pake uang lagi dan ngancam Levin pake cucu. Eh, kok jadi kesitu. Jadi hapus.

3.Maunya Hiroshi yang nyulik dan ngancam Levin. Eh, kok ceritanya gitu gitu aja mulu. Jadi hapus.

Sekian.


tsundere (bxb) TamaTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang