Nb. Bukan maksud menghilangkan Yanken dan Hiroshi begitu saja bahkan pria tua yang memakai plat dikakinya dan malah ada pemain baru. Yups, intip aja apa kejutan yang mau saya kasih.
Monggo koment
Vote
Muach
....
Aku sudah kembali ke Thailand karena kursusku memang telah berakhir sejak tiga bulan yang lalu dan semenjak itu mamah sengaja memberiku sebuah rumah mini dengan rumah diatapnya dan untuk lantai bawah sebuah cafe. Disuruh mandiri gitu, karena Junior sudah mulai berisik dan Levin suka emosi jiwa. Kalau satu rumah nanti Junior bisa terkontaminasi sikap kaku Levin jadi mamah menyarankanku untuk tingal ditempat yang memang dihadiahkan untukku.
Senangnya, abaikan thor yang seperti remahan roti.
......
Awalnya aku antusias dengan bisnis baruku dan memang aku cita citakan sejak dulu. Tapi makin hari aku mulai malas menekuninya dan Levinlah yang akhirnya turun tangan. Sedangkan bisnis lamanya memang dipegang suami adiknya.
Levin lebih tertarik disana dan menjual kue serta kopi sebagai menu pelengkapnya. Apalagi dengan tampang itu, Levin semakin narsis karena mayoritas pelanggannya memang gadis gadis mulai dari SMP hingga emak emak yang memang mau cuci mata.
"Sean ayolah bangun, kenapa kamu jadi malas seperti ini."Levin menggoyangkan tubuhku namun aku masih malas bangun. Hidupku serasa ingin kuisi dengan kemalasan yang hakiki. Tidur adalah hobbyku sekarang.
"Libur dulu lah Vin. Lihat mataku lengket gak mau kebuka."Tunjukku pada kedua mataku yang kini memang malas untuk kubuka.
Cup
Levin lantas mengecupnya spontan aku melek dan kesal karena itu diluar apa yang kupikirkan. Kupikir Levin akan pergi gitu saja dan membiarkanku tidur lagi.
Cup dipipi kiri
Cup dipipi kanan
Cup didahiku
Cup dihidungku
Cup dibibirku
"Lev...."Gerutuku manja. Aku jadi malas tidur lagi setelah Levin terus menciumi seluruh wajahku.
"Ayolah bangun. Isilah kegiatan untuk hari harimu terserah apapun. Kamu terlihat pucat kalau terus begini." Gerutu Levin dan kini menarik tanganku pelan. Dia tak mau menyakitiku. Aku memang sekarang punya kulit putih yang pucat. Hari hariku kuisi dengan main game dan tidur. Mau keluar kamarpun karena lapar. Untung Levin sabar walau wajah kaku itu menghiasi. Dia tak pernah memakiku karena semua pekerjaan rumah jadi dia yang hendel.
"Ha... "Spontan aku mencari ponselku dan melihat wajahku dengan aplikasi foto. Nyatanya benar, aku semakin putih pucat dan ada ceruk mata yang mengerikan disana.
"Ayo bangun dan bantu aku membuka cafe."Levin kini mengambil ponselku dan dia letakkan di meja samping kasur tidurku.
"Libur dulu lah Vin."Lantas aku mengambil selimut itu dan berusaha merem dan ingin tidur lagi. Mengabaikan Levin yang bernafas lelah.
"Sean, setiap hari saat kubangunin kamu juga bilang begitu. Trus apa kabar pelangganmu?"Levin geleng geleng akupun sama. Begitu gigihnya dia untuk membuat aku lekas bangun.
"Enggak, aku gak kasihan dan sekarang kamu mentingin mereka daripada aku. "Aku mulai drama alay dimana aku dianiaya, dipaksa untuk bekerja. Padahal enggak sama sekali. Levin hanya gak mau aku sakit karena terlalu lama bermalas malasan tanpa begitu banyak gerak.
KAMU SEDANG MEMBACA
tsundere (bxb) TamaT
FantasyLevin 38 Sean 18, mereka menikah karena jebakan orangtua Levin. Levin yang anyep sedangkan Sean yang naif. Semoga cinta mereka segera menyatu. ah, cek ep 1
