Levin yang masih murka kini mendatangi sang mertua yang lagi berpesta disebuah club malam. Levin tak habis pikir dengan orangtua itu yang masih bisa tertawa lepas setelah membuat anaknya menderita. Terlebih tak ingin tahu apa yang terjadi padaku setelahnya.
Tapi Levin itu memang selalu menghukum orang tak pernah pandang bulu. Walau didepannya itu sang mertua Levin tak pernah sungkan untuk berteriak didepannya.
(Tidak untuk ditiru)
Break......
Lebih mengebrak meja dan kini dengan tongkat base ball itu Levin menghancurkan seisi club malam.
"Apa tidak ada penjaga, hah. Berisik!!!"Papah murka karena tidak ada yang menghalangi Levin. Waktu itu papah sudah mabuk jadi tidak begitu jelas melihat orang yang ada dihadapannya yang siap mengajar wajahnya.
"....."Pemilik club malam bahkan penjaga memilih diam saat Levin satu persatu memecahkan botol alkohol dan meja meja kaca. Adapun yang ingin menghalangi Levin tapi sang pemilik malah menahannya.
"Dia akan membuatku menderita kalau kamu menghalanginya." Pemilik club malam hanya bisa pasrah tempatnya hacur porak poranda.
Levin mengintimidasi area sekitar mencari orangtuaku. Dan sampailah pada satu titik pada seorang pria paruh baya yang masih menikmati alhkoholnya dengan ditemani gadis gadis yang sedikit ketakutan saat Levin mendekat.
Clarrrrr....
Levin memecah meja kaca itu dengan tongkat base ballnya, membuat para gadis itu menjerit ketakutan dan berhamburan menyelamatkan diri.
Tahu Levin sudah menemukan orang yang yang dicari kini pemilik club menggiring para pelanggannya untuk meninggalkan tempatnya.
"Kalau dia bukan orang tajir dan berpengaruh udah ku bunuh dia ditempat!"Gerutu pemilik club kini juga meninggalkan tempat nya mencari nafkah. Seperti biasa, apapun yang berhubungan dengan Levin di Thailand gak ada yang berani ikut campur. Yang ada bisnisnya bakal hancur sampai akar bahkan buat sekedar bangkit itu sulit.
"Siapa kamu, beraninya menganggu ku bersenang senang?"Tanya papah masih dengan nada mabuknya. Dia masih santai menenggak alkoholnya tanpa berusaha menyelidik siapa yang ada didepannya.
"Sudah puas buat putramu menuruti semua maumu?"Tanya Levin dan kini duduk sembari memainkan tongkat base ballnya.
"Putra?"Papah masih mencoba mengembalikan nyawanya. Dan berusaha mengingat siapa yang ada didepannya. Karena sekilas papah tadi mendengar kata putra berarti orang yang didepannya tengah membahas aku. Sean putranya yang terus dikejar hutang bahkan harus mengambil uang dari suaminya.
"Eh, mulai sekarang dia bukan putramu. Jadi jangan pernah sentuh dia bahkan melihatnya pun aku tak akan memberi ijin!!"Levin sudah siap menghancurkan kepala papah dengan satu pukulan. Tapi Levin tak sejahat itu dan kini melempar tongkat base ballnya didepan papah.
....
"Blokir semua kartu Sean, dan kirimkan tiket ke Amerika."Perintah Levin pada asistennya dan dibalik telpon kini bergegas mencarikan yang diperintahkan Levin.
"Hey, mantu. Sekaya itu masih pelit!"Suara papah menggema dengan nada meledek.
Levin itu gak pelit kalau mintanya dengan cara yang baik. Kalau dengan mengambil bukan haknya Levin pasti marah.
"Aku akan memberikan banyak uang untukmu, tapi tidak dengan cara ini."Levin berbalik dan kini memasukkan tangannya kesaku celananya. Menatap papah dengan tatapan khasnya.
"Menyedihkan sekali harus mengirimmu ditempat itu."Levin prustasi harus membuat mertuanya pergi ketempat orangtua suami adiknya.
"Siapa yang akan pergi!"Papah tak mengindahkan perkataan Levin bahkan ancamannya. Papah masih sibuk dengan minumannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
tsundere (bxb) TamaT
FantasyLevin 38 Sean 18, mereka menikah karena jebakan orangtua Levin. Levin yang anyep sedangkan Sean yang naif. Semoga cinta mereka segera menyatu. ah, cek ep 1
