Sesaat kemudian.
"Apa kamu benar memukul Sean?"Tanya Hiroshi tak percaya dengan apa yang dilakukan Yanken terhadapku.
"Iya, aku melakukannya apa kamu puas!!" Teriak Yanken menjawab pertanyaan Hiroshi kesal. Tidak ada yang percaya dengan dirinya. Dan semua tuduhan itu mengarah padanya.
"Aku minum dengan Sean, aku bahkan menciumnya dan sekarang memikirkan kamu tak percaya padaku. Aku akan mengatakan bahwa aku juga pernah tidur dengannya. Apa kamu puas!!"
Plakkkkk
Hiroshi menampar wajah Yanken cukup keras. Bukan dilema tapi Hiroshi tak ingin mendengar apa yang barusan diucapkan Yanken. Walau itu pernah terjadi, walau itu sebuah kesalahan. Bagi Hiroshi Yanken tetap Yanken yang disukainya walau dia terlambat mengatakannya. Tapi dia tak mengerti kenapa keadaannya semakin rumit dengan kenyataan bahwasanya aku tak bangun dan malah meninggalkan banyak pertanyaan dan Yanken pun tetap bungkam dan diam menyembunyikan masalahku.
Yanken menyentuh pipinya. Dia tak menyangka Hiroshi akan menamparnya. Yanken hanya butuh dukungan dan rasa percaya dari orang yang disukainya. Tapi yang ada dia malah menampar wajahnya.
"Puas!!"Yanken menatap Hiroshi nyalang. Sorot matanya kosong dan sebenarnya dia ingin sekali menangis. Bahwasanya ini terlalu sulit untuk dilaluinya sendiri. Dia tak sengaja memukulku, dan kini semua orang menyalahkannya.
Srrrrt, lantas Hiroshi kini mengambil tubuh Yanken untuk dipeluknya. Ini sudah diluar kendali dan dia juga tak mau semakin jauh dengan Yanken. Sedangkan Yanken kini menyandarkan kepalanya lelah.
"Hiks...hiks" Suara tangisan itu terdengar, Yanken pun menangis dalam pelukan Hiroshi.
"Mau cerita sesuatu?"Tanya Hiroshi pelan, dia sadar emosi tidak akan membuat Yanken bicara.
"Aku harus mengunjungi Sean." Yanken kini melepas pelukan Hiroshi dan bergegas ingin segera kerumahsakit dan menemuiku.
"Hey, suasana disana pasti gak bagus. Kamu jangan kesana dulu!"Hiroshi mencoba menahan Yanken untuk pergi. Dia tahu Levin masih dalam mode on emosi jiwa. Dengan tahu Yanken ada disana pasti Levin tak segan untuk menghajarnya kembali.
"Aku hanya ingin bertemu Sean."Yanken tak peduli dan kini berlari untuk memanggil taxi.
"Yak......"Hiroshi kalah start dan dia kehilangan Yanken. Yanken sudah pergi lebih dulu dengan taxi itu dan Hiroshi kini menyusul dari belakang.
......
Rumahsakit.
"Mau apa?"Levin langsung menghadang Yanken yang datang.
"Aku ingin bertemu Sean"Yanken kekeh ingin menemuiku, melihat keadaanku dan berharap saat dia datang aku mau bangun.
"Enyaah kau Yanken, aku muak melihat wajahmu!!"Levin hendak memukul lagi tapi kali ini Hiroshi datang tepat waktu dan menahan pukulan itu.
"Lev, bisa gak jangan pake emosi."Hiroshi mencoba mencairkan suasana.
"Apa.... Jangan ikut campur kau Hiroshi. Dia memukul Sean hingga jatuh apa aku harus membiarkannya menemui Sean."Levin masih tetap pada emosinya.
"Ckckck" Yanken tertawa sarkas dan itu kembali menyulut emosi Levin. Sontak Hiroshi pun kini menahan Levin dengan sekuat tenaga.
"Aku ingin sekali memukulmu waktu itu tapi sayang, Sean terlalu cinta padamu sehingga dia yang menahannya. Ketika kulihat bibir Sean harus robek karena pukulanmu, apa kamu masih berfikir itu salahku. Memang kita tengah menikmati ciuman itu. Tapi apa kamu tahu semenderita apa Sean. Hmmmm, suami macam apa kamu yang tak peka sedikitpun." Yanken masih menyembunyikan kenapa aku terluka waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
tsundere (bxb) TamaT
FantasyLevin 38 Sean 18, mereka menikah karena jebakan orangtua Levin. Levin yang anyep sedangkan Sean yang naif. Semoga cinta mereka segera menyatu. ah, cek ep 1
