23. Kenapa?

2.7K 195 12
                                        

Aku reflek lari padahal aku gak ngerasa papah Yanken ngejar aku hanya untuk memukulku atau ingin mencincangku. Mungkin papah Yanken hanya ingat sekedar ingat aku pernah memukulnya dan tak ambil pusing. Harusnya akupun ingat kalau Yanken itu temanku gak mungkin juga aku bakal dipukulnya. Tapi nasi udah jadi bubur dan gak bisa jadi nasi lagi. Aku kabur gak kira kira untuk meninggalkan area restoran yang cukup luas itu.

Dan sampailah aku dipinggir jalan besar. Aku masih sering menoleh kebelakang memastikan tidak ada yang mengikutiku sehingga akupun tak memperhatikan jalanku.

Brugh, tak sengaja aku menabrak seseorang dan nyatanya orang itu tengah membawa barang dagangannya hingga terjatuh.

Spontan aku menutup hidungku dan perutku mulai berputar putar. Aku benci bau kue yang masih hangat.

Aku sibuk dengan rasa mualku dan yang kutrabrak tanpa marah hanya diam dan membereskan kue kue itu. Sepertinya dia enggan cari masalah. Sebab dia tahu aku keluar dari restoran mahal itu.

Sungguh ironi kalau kasta menjadikan perseberangan sosial.

"Maafkan aku, aku akan mengganti semua kerugianmu."Ucapku lirik dan mendekat setelah aku selesai meyakinkan diriku bahwa bau itu tidak boleh mempengaruhiku.

"Baiklah, semuanya 300ribu."Pria didepanku menodongkan tangannya. Pakaiannya lusuh dan tubuhnya tak terurus. Tapi aku ini tipe gampang mengenali seseorang walau yang didepanku kini berubah drastis.

"Phom, kaukah itu?"Tanyaku sembari masih menyelidik.

Sontak pria yang menunduk sembari menodongkan tangannya kini mendongak dan langsung menyimpan tangannya. Nyatanya benar, dia Phom.

"Karna kamu hidupku seperti ini!!"Teriak Phom seakan menyalahkan aku tentang apa yang dialaminya. Benar adanya Levin itu tak pernah kira kira kalau buat seseorang menderita.

Aku gak tahu Phom menjadi seperti yang kulihat setelah beberapa waktu berlalu, dulu dia bersih, mungil, cantik bahkan aku iri. Dan sekarang dia hanya terlihat kurus dan tak terurus pakaiannya pun lusuh bahkan kulitnya menjadi gelap dan? Papahnya itu kaya, setahuku produser dan diapun punya keahlian pastry yang mumpuni. Aku gak terlalu yakin kalau semua ini 100% ulah Levin.

"Kamu......?"Aku hendak bertanya kenapa dia seperti yang terlihat sekarang tapi aku takut menyingungnya dan kuurungkan niatku. Sekarang Phom menjadi penjaja kue keliling.

"Aku hanya sekali membuatmu menangis tapi, ah sudahlah."Phom matanya mulai berkaca. Dia mengambil uangnya dan meninggalkanku.

"Phom....."Aku hendak mengejar tapi dia terlalu cepat berlari dan perutku mual kembali dan aku gak sanggup menahannya.

"Huek....."Aku menepi dan mengeluarkan muntahanku.

"Sean..... Kita harus kerumahsakit."Tangan besar menepuk punggungku dan aku tahu itu punya siapa.

"Lev.....apa kamu menyimpan obatku?"Tanyaku langsung dan aku terus muntah. Tak bertanya kenapa Levin tiba tiba ada disekitar restoran.

"Sean yang kamu lakukan itu salah. Kamu harus kerumahsakit"Levin mengambil obat di dalam mobilnya dan memberikannya padaku.

"Aku bilang aku gak papa. Aku hanya perlu memelukmu dan rasa mual ini akan berkurang." Aku masih menolak dan kini memeluk Levin agar perutku sedikit lebih nyaman.

"Baiklah kalau kamu tidak ingin pergi kerumahsakit, ikut aku makan siang bersama didalam."Ajak Levin buat masuk kerestoran yang sengaja aku tinggal.

"Tapi...aku tak lapar. Aku pulang saja ya."Aku berusaha menolak.

"Gak ada tapi. Aku tak akan membiarkanmu pulang sendiri. Lalu kenapa kamu sendirian disini?'Tanya Levin.

"Hmmmm aku tadi bersama Hiroshi dan aku berlari kesini meningalkannya direstoran itu. Ayolah Lev, biarkan aku pulang. Kalau kamu ada kerjaan didalam lakukan tanpa aku" Aku tak bisa kembali ke dalam yang ada gak hanya kena sembur Hiroshi tapi menghadapi papah Yanken aku gak sanggup.

tsundere (bxb) TamaTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang