20. Semua harus kembali.

2.5K 195 13
                                        

Nb. Ada dua lokasi dalam satu waktu. Dan memang aku tak menuliskan. Sean pov, Levin pov, bahkan author pov. Suka suka aku kan? Dan memang ini cerita mengutamakan sudut pandang Aku sebagai Sean. Walau Sean atau Aku koma kok bisa menceritakan kisah?, kasarnya aku itu sebelumnya mengumpulkan berbagai sumber dan Akupun sebagai Sean akhirnya menceritakannya.

Oke, semakin ruwet. Bila mumet, minum bodrek sama sprite.

Dan satu hal, sabar ini ujian.

UJIAN MEMAHAMI TULISANKU SEMAKIN RUWET.

........


Levin dengan tergesa mendatangi Phom di cafe.

"Lev, tumben."Senyum Phom merekah menyambut Levin yang datang.

Ya, Phom sangat menyukai Levin. Sejak hari pertama aku sudah menyadari itu. Bagaimana tidak? Seorang lulusan terbaik bahkan punya lisensi untuk bekerja dihotel bintang lima harus rela terdampar disebuah cafe kecil yang hanya punya pelanggan ratusan. Harusnya Levin menyadarinya sejak awal, tapi tidak. Levin hanya fokus pada dia butuh seorang chef berkualitas dan dia mampu membayar. Tapi kecurigaanku berlanjut, masa depan seorang chef itu sendiri juga dipertanyakan? Nanti kalau selesai bekerja di cafe dia akan sulit mendapatkan pekerjaan lain. Tapi mungkin bukan itu alasan utamanya Phom datang. Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Phom ingin semuanya.

"Aku ingin menanyakan sesuatu?"Levin masih anteng untuk menanyakan pertanyaan yang mungkin sudah aku timbun dalam hatiku selama ini. Levin tahu emosi itu hanya akan membungkam Phom untuk sekedar memberi jawaban.

"Iya."Phom meletakkan celemeknya dan kini mendatangi Levin dikursi pelanggan. Dan mereka duduk bersama.

Levin langsung menunjukkan foto yang aku simpan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Levin langsung menunjukkan foto yang aku simpan. Sontak Phom kaget karena dia sengaja langsung menghapusya dari ponsel Levin. Menghilangkan barang bukti setelah memberitahukannya padaku.

"......"Diam.

"Aku tak pernah berfoto denganmu, dan ekspresi itu?"Levin menertawakan dirinya yang diedit apik dengan senyuman itu. Levin tertawa geli dimana dia sendiri tak pernah tersenyum genit seperti itu. Aku aja pertamanya syok melihat Levin seperti itu, apalagi sang empunya senyum mendapati dirinya senyum sumringah alay nan menggoda begitu.

"....."Masih diam. Karena Phom tak tahu harus membuat alasan agar Levin tak marah. Sudah jelas foto itu memang rekayasanya.

"Hmmm, Phom. Lantas kapan kamu bisa mengakses ponselku?"Tanya Levin lagi. Ponselnya terkunci dan aku tak tahu. Tapi bagaimana Phom tahu?

"Waktu itu....."Phom bersuara.

"......"Levin mengerutkan dahinya.

"Aku sengaja mengacak sandinya, dan...."Phom tidak meneruskan ucapannya dan memang Levin langsung menyadarinya.

Yaps, sandi kunci ponsel Levin adalah hari pernikahan kita. Walau tak ada yang tahu karena memang kita menyembunyikannya. Tapi tidak untuk berkas itu, Phom sengaja mengacak isi kamarku untuk mendapatkan tanggal pernikahannya. Memang kita tak punya pintu sendiri untuk sampai kerumah. Kita hanya punya satu pintu yakni di depan cafe. Jadi saat Levin tak ada diapun bisa masuk kedalam kamar dan mulai mengacaknya. Itu hanya simulasi yang ditangkap Levin dan yang kutangkap. Tapi nyatanya memang seperti itu. Banyak rahasia yang Phom sembunyikan dan bagaimana awalnya dia berniat masuk kedalam kehidupan kami.

tsundere (bxb) TamaTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang