4. Menemukan rahasia.

4.5K 330 39
                                        

"Ohayou"

Pagi yang cerah menyambut hariku. Abaikan Levin yang masih suka masang muka datar. Aku bergegas membuat sarapan sebelum pergi ketempat kursus.

 Aku bergegas membuat sarapan sebelum pergi ketempat kursus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menu sarapan ala orang Jepang, simple dan mudah dibuat. Tidak perlu waktu lama dan yang paling penting Levin suka.

"Tadakimas"

Levin dan aku mulai menyantap menu sarapan itu. Ada ikan goreng, soup tahu dan tumisan ikan teri. Tidak lupa aku juga merebus sawi disana.

"Kalau tidak suka, tidak perlu memasak!'Kalimat ketus Levin terdengar nyaring ditelinga. Bukan kalimat pujian yang kudapat. Setidaknya senyuman manis gitu.

Masih edisi mengharapkan.

"Aku ikhlas kok."Balasku polos, malas memandang muka datar Levin.

"Kalau ikhlas, makan juga sayurnya!"Itu perintah Levin bahkan dia mengambilkan sawi rebusnya untukku dan dia tengah menungguku untuk mengunyah dan menelannya.

"Kenapa kamu suka menyiksa aku."Gerutuku sambil sesekali menahan mual. Sumpah aku tak suka ini.

"Siapa yang suka menyiksa siapa. Disana sawi itu juga berteriak ingin dimakan. Tadi kamu siksa dia dengan mencincang dan merebusnya dan sekarang malah kamu abaikan."Ada Levin yang tengah menyindirku karna aku mengabaikan sawinya. Tapi kenapa dia tak peka akan tingkahnya selama ini ya, heran luar biasah aku. Apa gini ya tanda manusia normal, yakni suka berkomentar tapi tak pernah melihat diri sendiri.

Lantas aku?

"Kenapa kamu jadi pemilih, terus buat apa memasak kalau kamu tidak memakannya?"Levin banyak protes ih, ini namanya kewajiban ngurus suami. Walau tak suka, walau malas tapi tetap saja harus dilakukan. Aku itu takut dosa, takut durhaka, sebab surgaku kini ada di dirimu.

Ayeeeeee.

"Aku hanya ingin membuatkanmu."Balasku dan masih nampilin senyumku. Berharap Levin tak melempar sawi itu ke mangkukku lagi.

"Iya."Levin menikmati sarapannya. Syukurlah dia lupa akan sawi itu.

Setelah selesai sarapan kini aku bergegas membersihkan meja makan dan mencuci perabotan makan itu.

......

Clar....
Pecah itu mangkuk. Pake acara melompat pula dari tanganku. Yang punya barang kan jadi marah marah.

"Sekalian aja banting semuanya jadi tak perlu mencucinya."Gerutu Levin membantu membersihkan pecahan itu. Lagi lagi dia gak mau aku membantu.

"Kenapa harus begitu?"Tanyaku polos, tadi aku juga gak sengaja. Kalau dibanting semua, nanti alas makannya pake daon?

"Masih tanya kenapa harus begitu, kalau kamu masih ceroboh seperti ini bagaimana kamu nanti ditempat kursus. Bikin prustasi saja." Levin melotot kearahku sambil membawa pecahan mangkuk itu untuk dibuang ditong sampah. Yach, biasa ditempat kursus bidang boga pasti banyak perlengkapan pecah belah, tajam serta api. Levin tak mau aku terluka disana, tidak mungkin juga dia ikutin aku dikelas dikira aku anak paud entar.

tsundere (bxb) TamaTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang