Pre-chapter note:
Halo, R.E.D di sini!
Just a friendly reminder sebelum mulai membaca, kisah ini adalah sebuah fanfiction dari game Mystic Messenger. Tapi buat kamu yang belum pernah bahkan nggak tahu game-nya, nggak masalah! Kisah ini mengambil setting yang benar-benar berbeda dari cerita game tersebut, hanya beberapa karakternya yang sama. Buat kamu yang udah pernah main game-nya, mungkin kamu bisa mengira-ngira ke mana arah kisah ini. That's also fine! Tell me your theories di kolom komentar. Awalnya saya berniat membuat kisah ini reader insert, dengan 'MC' sebagai tokoh utamanya. Tetapi setelah berkonsultasi dengan dua orang teman baik saya, saya memutuskan untuk memberi tokoh utama kita sebuah nama. Yeah, meet Maya! Meskipun namamu mungkin bukan Maya, saya harap kalian masih dapat menikmati kisah ini sebagai 'Maya'.
Nah, selamat membaca!
Maya selalu tahu dia akan dipilih sebagai "Yang Dimuliakan".
Mungkin sejak teman-temannya berhenti berbicara dengannya. Atau sejak bisik-bisik dan tatapan sinis warga desa mengikuti langkahnya. Atau jauh sebelum itu, semenjak dia kehilangan orang tuanya.
Kini nyaris semua orang tersenyum kepadanya. Mereka memberikan pakaian dari kain terbaik untuknya. Musik meriah terdengar, ditimpali nyanyi-nyanyian lantang para warga. Pada satu titik nyanyian mereka tidak lagi membentuk lagu, melainkan serentetan sorakan-sorakan sumbang dan tawa yang membahana. Tak terhitung berapa kali mereka mengajak dia bergabung di dekat api unggun, atau ikut menyanyi dan menari. Lihat, bahkan meja di hadapannya saat ini pun dipenuhi berbagai macam makanan terbaik, hingga tidak ada lagi tempat untuk menaruh sebatang tusuk gigi.
Maya mendengus dalam hati. Betapa memuakkan seluruh kepalsuan ini.
Persetan dengan istilah "Yang Dimuliakan". Maya tahu mereka yang menyandang gelar ini akan menghilang setelah malam perayaan dan tidak pernah kembali. Dia tahu para penduduk desa selalu memilih orang yang dikucilkan, atau sebatang kara, untuk menjadi "Yang Dimuliakan". Maya tahu, "Yang Dimuliakan" adalah orang-orang yang tidak berarti, hingga apabila mereka lenyap pun, tidak akan ada yang merasa kehilangan.
Maya tahu, para "Yang Dimuliakan" sesungguhnya adalah tumbal.
Oleh karena itulah, sedari tadi Maya tidak menyentuh jamuan di hadapannya sama sekali. Perutnya bergolak mual. Sangat disayangkan, sebetulnya. Kapan lagi dia dapat menikmati jamuan semewah ini? Bukan, lebih tepatnya, masih dapatkah dia menikmati apapun setelah ini? Bukankah malam ini dia akan mati?
Menurut desas-desus, desa mereka mulai mengirimkan tumbal ke sebuah rumah terlantar di dalam hutan sekitar lima puluh tahun yang lalu. Rumah itu dikabarkan angker, semenjak seluruh penghuninya tewas dibantai gerombolan perampok. Sejak saat itu, arwah para korban menghantui rumah tersebut dan menghabisi siapa saja yang masuk ke dalamnya. Kepala desa kemudian mengeluarkan perintah untuk mengirimkan satu orang tumbal ke sana setiap tahun agar para arwah itu tidak mengamuk dan mengobrak-abrik desa mereka.
Malang nasib para "Yang Dimuliakan" sebelum Maya karena tidak mengetahui kenyataan ini. Dengan polosnya mereka menikmati jamuan dan perayaan ini. Lebih parah lagi, dengan naifnya harapan tumbuh dalam hati mereka. Harapan bahwa mereka tidak akan dikucilkan lagi. Harapan bahwa mereka tidak akan sendiri lagi. Harapan bahwa akhirnya ada yang memedulikan mereka lagi.
Betapa hancurnya mereka ketika mengetahui kenyataan di balik semua ini.
Untunglah Maya tidak senaif itu. Meski belum pernah ada yang terang-terangan memberitahukan soal ini padanya, mereka juga tidak menutup-nutupi ini darinya. Maya memerhatikan bagaimana orang-orang yang tidak dianggap ini tiba-tiba dijamu dan dielu-elukan dalam satu malam. Suatu kali Maya bahkan nekat mengikuti para warga mengarak seorang gelandangan ke dalam hutan dengan tawa dan sorak-sorai. Gelandangan itu ikut tertawa bersama mereka, terlalu mabuk untuk menyadari ke mana dia dibawa. Beberapa jam kemudian para warga keluar dari hutan, tanpa si gelandangan. Senyum palsu mereka lenyap, namun tidak ada satu pun raut wajah yang menyiratkan sesal maupun duka. Keesokan harinya, mereka melakukan aktivitas seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang janggal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki yang Merindukan Matahari
FanfictionIni adalah kisah tentang seorang gadis yang terbuang, terkucilkan, tersisih, dan tersingkirkan seumur hidupnya, bahkan setelah itu pun mereka masih meminta kepadanya, satu-satunya yang dimilikinya, nyawanya. Kisah tentang seorang pemuda, yang telah...