Gumaman kecewa menjalar di antara para warga sementara mereka dengan lesu berjalan menuju pintu depan. Maya bersorak girang dalam hati, namun menyejajarkan langkahnya dengan Rika, beberapa langkah di belakang para warga desa.
"Hidupmu sudah jauh lebih baik sekarang, Maya," kata Rika, cukup pelan hingga hanya Maya yang sanggup mendengarnya. "Aku turut senang untukmu."
"Uhm, terima kasih," sahut Maya canggung. Barusan wanita ini menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, tiba-tiba sekarang dia bersikap baik. Maya benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyikapinya.
"Sesungguhnya keberuntungan yang paling besar untukmu adalah bertemu dengan pemuda itu." Dia mendesah, tiba-tiba melankolis. "Sekarang setelah aku tidak lagi bersamanya, baru terasa betapa pedihnya kehilangan dia. Oleh karena itu, Maya," Rika tersenyum kepadanya. "Jangan kau sia-siakan dia ya? Boleh jadi dia...berbeda, tetapi tidak ada orang dengan hati yang lebih baik darinya. Sungguh suatu penyesalan yang tak terkira saat aku harus melepasnya dulu."
Maya menatap Rika bingung. "Apa yang kau bicarakan?"
Rika terkekeh. "Tidak perlu berpura-pura lagi, Maya. Ini hanya di antara kita saja. Kau tahu siapa yang kumaksud."
"Maaf, tapi kurasa...tidak?"
"Maya, sudahlah," kata Rika, kesabarannya terlihat dilebih-lebihkan. "Aku tahu ada satu lagi penghuni mansion ini. Aku mengenal dia, bahkan. Akuilah, kau dapat bertahan hidup sejauh ini berkat perlindungan pemuda itu, bukan?"
"Rika," kata Maya. "Aku sungguh tidak paham. Aku tidak mengenal pemuda yang kau maksud. Tidak ada siapapun di rumah ini kecuali aku."
Rika berhenti melangkah. Dia menoleh kepada Maya perlahan, untuk pertama kali senyumnya pudar. Kedua matanya membelalak.
"Bohong," katanya. Dia mulai menyebutkan ciri-ciri pemuda itu dengan cepat. "Usianya akhir dua puluh-an. Bertubuh tinggi dan ramping, namun cukup berotot. Kulitnya sangat pucat. Warna rambutnya biru muda, dengan sedikit semburat kehijauan. Kedua matanya pun berwarna serupa. Kau pasti pernah melihatnya kan, Maya?"
Susah-payah Rika menyunggingkan seulas senyum. Maya mendesah.
"Baiklah, harus kuakui tidak selamanya aku berada di hutan ini seorang diri. Sempat kulihat beberapa orang pemuda atau pria dewasa memasuki hutan, barangkali untuk menebang kayu atau berburu, tapi maafkan aku," Maya menatap Rika penuh simpati, "tidak ada pemuda dengan ciri-ciri seperti yang kau sebutkan."
"Tidak! Tidak mungkin!" tukas Rika. Tatapan matanya nanar, sebelah tangannya memegangi kepala. "Aku yakin dia ada di sini. Aku yakin sekali. Waktu itu aku masih melihatnya..."
"Rika," kata Maya prihatin. Tangannya sedikit terulur ke arah wanita itu. "Jika ada orang dengan ciri-ciri seperti itu, tidak mungkin aku melewatkannya, bukan?""Dia ada di sini..." Pada titik ini Rika sudah tampak seperti orang meracau. Helai-helai rambut pirang mencuat dari tatanan rambutnya yang sempurna. "Dia ada di rumah ini. V... V-ku... Dia pasti ada di sini."
Mereka telah memasuki area lobi utama. Tangga ganda dengan pegangan berukir berdiri anggun di tengah-tengahnya. Bayang-bayang menaungi beberapa anak tangga teratas, hingga kemudian seluruh lantai dua ditelan kegelapan. Rika menatap tangga tersebut lalu menoleh kembali kepada Maya. Senyumnya kembali, tetapi kali ini berbeda. Senyum itu tampak terlalu...lebar, namun tidak terpancar dalam sorot matanya. Entah bagaimana, matanya masih menyorot nanar, sesekali bola mata kehijauannya bergulir ke kanan dan kiri, berniat memergoki entah apa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki yang Merindukan Matahari
FanfictionIni adalah kisah tentang seorang gadis yang terbuang, terkucilkan, tersisih, dan tersingkirkan seumur hidupnya, bahkan setelah itu pun mereka masih meminta kepadanya, satu-satunya yang dimilikinya, nyawanya. Kisah tentang seorang pemuda, yang telah...