Bab 18 - Pertemuan

73 11 0
                                    

Keesokan paginya, Maya bangun lebih awal dari biasanya.

Seperti orang bodoh, matanya sembab, raut wajahnya masam. Dia membasuh wajahnya sekilas, mengenakan pakaian bersih, lalu segera pergi keluar. Dadanya terasa sesak. Rasanya dia tidak sanggup bertemu V saat ini. Lagi-lagi dia merasa ingin tertawa. Sikapnya saat ini justru akan merugikan V, bukan? Memangnya apa salah pemuda itu hingga Maya harus menghindarinya?

Tidak memiliki tujuan, Maya memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam hutan.

Saat itu matahari berada di titik tertinggi langit, tetapi panasnya dikalahkan oleh hawa musim dingin yang mulai menggigit. Untunglah Maya sempat mengenakan sehelai mantel sebelum melangkah keluar dari rumah. Napasnya mengepulkan uap. Meskipun begitu, belum tampak lapisan salju di tanah ataupun ranting-ranting pohon.

Maya berjalan tak tentu arah, pergi ke manapun kakinya membawa. Sudah tidak banyak binatang berkeliaran di hutan, sehingga dia tidak dapat bermain dengan mereka. Memancing juga bukan ide yang bagus karena permukaan sungai pasti telah mulai membeku. Seandainya tidak pun, airnya pasti sedingin es. Apa sebaiknya dia mampir ke desa utara? Tapi hari masih siang. Saeyoung dan yang lain pasti memiliki kesibukan masing-masing, dan lagi Zen dan Jaehee tidak dapat bergerak bebas sekarang. Tidak sopan rasanya tiba-tiba muncul di sana dan mengganggu mereka.

Maya menghela napas berat. Padahal dia kira dia telah terbiasa hidup sendirian. Nyatanya, baru beberapa saat dia berjalan-jalan sendirian, dia sudah bosan setengah mati. Seandainya ada V di sini... Uh, tapi mungkin masih agak canggung bersama dengannya setelah apa yang dia dengar semalam, meski tak dapat dipungkiri, itu salahnya sendiri. Seandainya dia tidak berpikir yang tidak-tidak, seandainya dia tidak menguping, seandainya dia tidak mimpi buruk sehingga harus terjaga, seandainya dia tidak memaksa V bercerita...

Ugh, ini tidak akan ada habisnya.

Saat ini Maya butuh seseorang untuk mengajaknya bicara. Siapapun itu, agar pikiran-pikiran buruk yang bercokol di benaknya dapat teralihkan. Betapa dia berharap dapat berpapasan dengan Yoosung di sini. Atau mungkin Jumin. Atau...

"Maya?"

Deg.

Doa Maya dijawab dengan cara yang paling tidak dia sangka.

***

"Maya? Kau benar Maya, kan?"

Tanpa menoleh pun, Maya sudah tahu siapa pemilik suara ini. Sialnya, justru orang itu yang buru-buru maju ke hadapan Maya, entah untuk menghadang jalannya atau untuk melihat wajahnya. Maya serta-merta membeku.

"Astaga," katanya terkejut. "Kau..."

"Masih hidup?" sela Maya. "Begitulah."

Keterkejutan wanita itu bertahan selama beberapa detik, sebelum dia memasang kembali senyumnya yang memuakkan.

"Syukurlah," katanya. "Aku turut senang."

Oh, dasar pembual, sahut Maya dalam hati. Tetapi dia mempertahankan wajah tak acuhnya.

"Maya, kau tampak lebih baik sekarang. Mengapa kau tidak kembali ke desa selatan? Seandainya aku tahu kau masih hidup, aku tentu akan membawamu kembali."

Maya mendengus mendengar ini, membuat Rika sedikit memicingkan matanya. Sebisa mungkin dia menyamarkan dengusan itu menjadi dehaman.

"Itu tidak perlu," katanya.

"Oh, ayolah Maya, jangan dingin begitu," bujuk Rika. "Kami tentu akan menyambutmu kembali dengan tangan terbuka. Para 'Yang Dimuliakan' adalah pahlawan. Kau akan dihujani sorak-sorai nanti."

Lelaki yang Merindukan MatahariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang