"Aku tahu kau tidak memiliki masalah dengan kegelapan, tetapi aku tidak dapat bekerja di tempat segelap ini. Kau tidak keberatan jika aku menyalakan beberapa buah lampu, bukan?"
"Silakan," kata pemuda itu, "yang penting biarkan semua jendela tertutup. Aku...agak sensitif terhadap cahaya matahari."
Ah, begitu rupanya. "Pantas saja kau sangat pucat."
Pemuda itu menyunggingkan seulas senyum pahit. "Begitulah."
Nah, ini saatnya dia merasa canggung karena kehabisan topik. Bergaul dengan manusia lain memang merepotkan. Tetapi kali ini Maya tidak ambil pusing. Dia memiliki pekerjaan yang harus dibereskan. Gadis itu menyingsingkan lengan bajunya. Pertama-tama, dia menyalakan dua buah lampu minyak yang telah dia siapkan di sudut-sudut ruangan.
Maya memutuskan untuk mulai dari ruangan tempat dia menemukan pemuda itu, karena kelihatannya ruangan itu yang paling sering digunakan si pemuda, serta karena ruangan itu yang paling kosong daripada yang lainnya. Maya telah membawa seember air, kain pel, kain lap, serta kemoceng bulu yang dia temukan di lemari dapur. Nah, sekarang...
Oh. Pemuda itu masih berdiri canggung di tengah-tengah ruangan. Lagi-lagi Maya mengagumi bagaimana dia menghadap ke arah Maya dan menelengkan kepalanya penasaran—padahal dia buta. Maya mengamati sekelilingnya, lalu menarik satu-satunya sofa berlengan yang ada di ruangan itu ke sisi, lalu mulai mengelap bingkai kayunya. Kemudian dia menepuk-nepuk bantalan sofa tersebut. Ugh, seperti perabotan di lantai bawah, debu yang menumpuk sudah tidak tanggung-tanggung lagi. Debu-debu itu segera memenuhi saluran pernapasan Maya, membuat gadis itu terbatuk-batuk hebat.
Tiba-tiba Maya merasakan punggungnya ditepuk-tepuk.
"Kau tidak apa-apa?"
Akibat terkejut, Maya tersedak, kontan membuat batuknya semakin parah. Dia melepaskan kemocengnya dan berjongkok. Pemuda itu ikut berlutut di sisinya, terus mengusap-usap punggung Maya hingga batuknya reda.
"S-sudah tidak apa-apa sekarang," kata Maya akhirnya. Matanya berair, tenggorokannya perih. "Ugh, akan sangat membantu seandainya aku dapat mengibaskan debu-debu ini keluar sana."
Gerak tangan pemuda itu berhenti. Perasaan bersalah seketika menyergap Maya.
"Maaf, lupakan itu. Uhm, sebaiknya aku mengambil kain bersih untuk menutup hidungku." Maya berdiri, tak sabar ingin kabur dari situasi tak menyenangkan ini, tetapi sebelum mencapai pintu, dia berbalik dan kembali kepada pemuda itu.
"Sementara aku ke bawah, kau duduklah dulu di sini." Dia meraih lengan pemuda itu lembut—meskipun demikian, tubuhnya menegang, tidak mengantisipasi sentuhan dari Maya. Pemuda itu berdiri, membiarkan dirinya dituntun hingga ke sofa dan duduk di sana.
"Sofanya telah kubersihkan. Tolong tunggu di sini hingga aku kembali."
***
Saat Maya kembali, dia masih duduk di sofa itu. Kepalanya menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah Maya. Senyum terkembang di wajahnya. Astaga. Bagaimana mungkin seorang pemuda gagah seperti dia tampak begitu menggemaskan?
"Maaf membuatmu menunggu," kata Maya, suaranya sedikit teredam kain yang menutupi mulutnya. "Sekarang...er, kurasa lebih baik kau menunggu di sana selama aku bekerja."
Namun pemuda itu justru berdiri dari tempat duduknya.
"Bolehkah aku membantu?"
Maya tertegun.
"M-maksudku," lanjut pemuda itu malu-malu, "akan lebih cepat jika dikerjakan berdua, bukan?"
"Tapi..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki yang Merindukan Matahari
FanfictionIni adalah kisah tentang seorang gadis yang terbuang, terkucilkan, tersisih, dan tersingkirkan seumur hidupnya, bahkan setelah itu pun mereka masih meminta kepadanya, satu-satunya yang dimilikinya, nyawanya. Kisah tentang seorang pemuda, yang telah...