Kusir pilihan Jumin memang dapat diandalkan.
Dia membawa kereta ini dengan kecepatan yang mengagumkan, serta luar biasa stabil. Meskipun jalanan hutan tidak mulus, dia dengan lihai meminimalisir benturan dan guncangan kereta, sehingga Saeyoung dan Vanderwood dapat memasang lapisan penangkal matahari di jendela-jendela kereta tersebut.
Di tengah perjalanan, si kusir yang selama ini membisu tiba-tiba bersuara.
"Tuan-tuan," katanya, terdengar tenang meskipun kereta yang dikendarainya tengah dipacu gila-gilaan, "Mungkin penglihatan saya salah, tetapi tampak asap di arah yang kita tuju."
Saeyoung seketika menyentak salah satu jendela hingga terbuka dan menjulurkan kepalanya ke luar.
"Saeyoung, hati-hati!" pekik Vanderwood. "Lapisannya... Fiuh, untung tidak robek. Hei, cepat masukkan kembali kepalamu ke dalam sini sebelum matamu tercolok ranting pohon."
Tetapi Saeyoung tidak menggubris laki-laki itu. Dia memicingkan mata, berusaha melihat jauh ke depan.
Benar saja, terdapat asap pekat membubung tepat di lokasi mansion V berada.
Dengan hati mencelus, Saeyoung menutup kembali jendela kereta tersebut.
"Dia benar," kata Saeyoung kepada Vanderwood. "Ada asap di depan sana. Mansion itu...dibakar."
Saeyoung mengatupkan kedua tangan, berusaha meredakan getaran yang mulai menjalari tubuhnya.
"Ini salahku," ucapnya lirih. "Seharusnya aku ikut bersama Yoosung sejak tadi. Seharusnya aku tidak mengabaikan firasatku. Seharusnya aku menempatkan pengawasan di sekitar mansion V. Ya Tuhan, bagaimana jika aku terlambat? Mansion itu dibakar dan matahari belum terbenam. V terjebak di dalam sana. Lalu Maya... Dia pasti akan mencari segala cara untuk menyelamatkan V. Bagaimana jika dia malah terluka? Aku—"
"Saeyoung!"
Tamparan keras di kedua pipinya membuat Saeyoung terkejut luar biasa. Kedua matanya membelalak. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir akibat perih di kulitnya.
"Fokus!" bentak Vanderwood. "Apa begini sikapmu ketika akan melangkah memasuki medan perang? V dan Maya tidak memerlukan kau yang terpuruk begini. Lagipula untuk apa memikirkan hal yang belum pasti? Justru ini saatnya kita mengerahkan segenap usaha kita untuk mencegah hal-hal itu terjadi."
Saeyoung mengerjap beberapa kali. Kedua pipinya memerah akibat ditampar barusan. Merasa tidak enak hati, Vanderwood menepuk bahu pemuda itu seraya berdeham.
"Tenanglah. Kita pasti bisa menyelamatkan mereka. Kusir yang dikirim temanmu ini luar biasa. Kau adalah prajurit terlatih, salah satu prajurit bayangan terbaik yang pernah kutemui. Dan ada aku, mentor terhebat di muka bumi ini. Kau sangat beruntung karena berada di bawah bimbinganku, kau tahu?"
Binar mata Saeyoung kembali. Dia melepas kacamatanya, mengusap kedua matanya dengan lengan baju, lalu mengangguk.
"Ya," katanya seraya tersenyum. "Aku sungguh beruntung."
***
Dalam waktu lima menit, mereka berhasil menempuh perjalanan yang biasanya memerlukan waktu setengah jam.
Benar saja, mansion tersebut tengah dilalap api. Apinya telah menjalar hingga sebagian lantai dua. Lantai tiga masih belum tersentuh. Mengenal V, sepertinya laki-laki itu telah melakukan tindakan pencegahan dari dalam. Barangkali menyiram tempat-tempat yang belum terbakar untuk memutus laju apinya. Tapi tetap saja, kini mereka terjebak di lantai tiga. Lama-kelamaan, jika lantai bawah terbakar habis, bangunan ini akan roboh juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki yang Merindukan Matahari
FanfictionIni adalah kisah tentang seorang gadis yang terbuang, terkucilkan, tersisih, dan tersingkirkan seumur hidupnya, bahkan setelah itu pun mereka masih meminta kepadanya, satu-satunya yang dimilikinya, nyawanya. Kisah tentang seorang pemuda, yang telah...