Bab 3 - Penghuni Mansion

137 15 0
                                    

Sebuah suara rendah terdengar begitu dekat di telinga Maya.

"Siapa kau?" katanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Kendati cengkeramannya kuat, suaranya sama sekali tidak terdengar mengancam. Justru terkandung kelembutan di dalamnya, serta rasa penasaran yang murni. Barangkali Maya telah kehilangan akal sehat, tapi ya Tuhan suara itu merdu sekali. Maya bergidik mendengarnya, dan bukan akibat takut (seperti yang seharusnya dia rasakan), melainkan akibat sesuatu yang lain.

"N-namaku Maya," cicitnya. "A-aku adalah 'Yang Dimuliakan' tahun ini."

"'Yang Dimuliakan?'" ulang suara itu, bingung. Kemudian dia bergumam, kali ini sedikit kesedihan mewarnai suaranya, "Ah, sudah waktunya ya..."

"M-maaf?"

"Tidak, bukan apa-apa. Kemari, ikuti aku."

Sambil berkata begitu, laki-laki tersebut menarik tangan Maya. Meski kelihatannya tidak ada cahaya matahari yang menembus jendela, namun semakin jauh mereka melangkah dari sana, semakin pekat pula kegelapan yang mengelilingi mereka. Menakjubkan bagaimana laki-laki itu dapat melangkah dengan mantap, seolah dia dapat melihat dengan baik di dalam kegelapan. Untunglah laki-laki itu tidak melepaskan tangan Maya. Kendati tidak dapat melihat, bersama laki-laki itu Maya merasa...aman.

Tunggu.

Pikiran manja macam apa itu? Tidak seharusnya dia mempercayai orang asing semudah ini. Ke mana sifat waspadanya? Seumur hidupnya tidak pernah Maya bersikap seceroboh ini. Apa ini akibat benjol di kepalanya?

Laki-laki itu mendadak berhenti. Dia memegang bahu Maya, lalu memutar tubuh gadis itu sekitar enam puluh derajat. Maya menautkan alisnya bingung.

"Sekarang kau hanya perlu berjalan lima langkah, lalu kau akan menemukan sebuah pintu keluar. Setelah itu, teruslah berjalan ke utara. Dalam beberapa kilometer kau akan menemukan sebuah desa. Di sana mereka dapat memberimu pertolongan."

"Whoa, tunggu dulu," sergah Maya. Dia berbalik dan berkacak pinggang, meski tak yakin dia menghadap ke arah yang benar. "Kau mau mengusirku?"

"Mengusir?" Laki-laki itu terdengar sangat heran. "Aku hendak membebaskanmu."

"Dengan segala hormat, aku menolak, Tuan," gerutu Maya. "Kau tidak tahu betapa senangnya aku saat mereka meninggalkanku di sini. Demi apapun aku tidak mau kembali ke desa itu lagi."

Kali ini sepertinya laki-laki itu tersenyum. "Aku tidak memintamu kembali ke sana. Kau berasal dari desa di selatan. Aku barusan menyuruhmu pergi ke sebuah desa lain di utara. Jaraknya tak terlalu jauh. Penduduknya lebih...manusiawi daripada desa tempatmu tinggal dulu."

Maya tertegun.

Kedengarannya menjanjikan. Sebuah desa lain, dengan warga yang mau menerima dia apa adanya. Bapak-bapak ramah yang mau menyapa dia. Ibu-ibu yang memperbolehkan dia mencicipi masakan mereka. Teman-teman sebaya untuk berbagi cerita.

Ugh, tidak.

Bayangan itu terlalu indah untuknya.

Setelah menghabiskan seumur hidup ditolak dan dikucilkan, bagaimana bisa Maya berpikir nasibnya akan berbeda di desa lain? Jika semua orang—secara harafiah, semua orang—di desanya menjauh darinya, bukankah itu berarti dialah yang aneh? Ada yang salah pada dirinya, sehingga orang-orang membencinya. Kalau begitu, tidakkah lebih baik dia menghabiskan sisa hidupnya sendirian saja? Toh, sendirian pun tidak terlalu buruk. Sudah sejak lama dia berhasil merangkul 'kesendirian' dan menjadikannya sahabat.

"Tidak," kata Maya lambat-lambat. "Aku lebih suka tinggal di sini saja."

"Tapi tidak ada apa-apa di sini," sahut laki-laki itu, heran.

"Tidak masalah. Selama ini pun aku tidak memiliki apa-apa."

"Tidak ada siapa-siapa di sini," kata laki-laki itu lagi, dengan sedikit penekanan.

"Itu justru lebih baik. Aku tidak pandai berinteraksi dengan orang lain."

Laki-laki itu terdiam, cukup lama hingga Maya berpikir dia telah meninggalkannya. Namun kemudian suara merdu itu kembali terdengar.

"Tetapi kau tidak memiliki masa depan di sini," katanya sedih. "Pikirkan ini, jika kau pergi ke desa di utara, kau dapat hidup dengan lebih baik. Kau masih muda, jalanmu masih panjang. Kau mungkin dapat bertemu seseorang di sana dan membina keluarga bersamanya."

Keluarga? Maksudnya, menikah? Wow. Sama sekali tidak pernah terlintas di benak Maya untuk menikah, bahkan menjalin hubungan, dengan siapa pun. Seperti apa kira-kira rasanya memiliki keluarga? Memiliki tempat untuk pulang?

Ugh, tidak, tidak. Sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi. Dia sudah tidak senaif itu. Sudah berapa kali dia membiarkan dirinya berharap, hanya untuk merasakan kecewa yang berkali-kali lipat lebih menyesakkan setelahnya?

"Tidak," jawab Maya. "Tidak ada lagi tempat untukku. Aku ini hanya sampah yang tidak berguna. Aku bahkan tidak memenuhi kualifikasi untuk bekerja sebagai buruh cuci. Jangankan seorang istri, aku bahkan tidak layak menjadi pembantu. Tidak ada satu orang pun yang mau mendekat kepadaku, karena aku memang hina. Menurutmu, apa aku yang seperti ini masih memiliki masa depan? Di mana pun itu?"

"...itu tidak benar," sahut laki-laki itu lirih.

Maya tertawa pahit. "Kau bahkan tidak mengenalku, Tuan."

"Kau tahu tempat apa ini, bukan? Tempat ini berbahaya. Tak terhitung berapa banyak korban telah berjatuhan di sini. Selagi kau memiliki kesempatan, pergilah."

"Tidak," tegas Maya. "Aku telah lama kehilangan kepercayaan akan manusia. Hantu, binatang buas, atau apapun itu masih jauh lebih baik daripada manusia yang kukenal."

Laki-laki itu mengerang frustasi. "Mengapa kau begitu keras kepala?"

Maya mengangkat dagunya. "Sudah sejak lama aku belajar untuk tidak melambungkan harapanku. Jadi maaf-maaf saja, Tuan, kau tidak dapat mengusirku semudah itu."

"Baiklah, baiklah!" katanya. "Silakan dinginkan dulu kepalamu di sini. Kau boleh menggunakan area lantai satu sesukamu, tapi lantai atas terlarang untukmu." Dia menambahkan lirih, "Jika kau masih ingin hidup..."


Post-chapter note

Laki-laki itu kelihatan mencurigakan. Menurut kalian apakah Maya membuat keputusan yang tepat? Komen yaa~

Lelaki yang Merindukan MatahariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang