Pre-chapter notes:
Dalam bab ini, cerita dituturkan melalui sudut pandang V.
Aku ini monster.
Itu sebabnya rumah ini selalu dihindari orang. Kemudian muncul desas-desus yang mengatakan rumah ini angker. Ya, rumah ini memang berbahaya. Betul, telah banyak korban tewas di sana. Tetapi sama sekali tidak ada hantu ataupun arwah yang mengganggu siapapun. Justru sesosok monster, yang jauh lebih berbahaya, yang mendiami rumah tersebut.
Pada tahun-tahun awal aku menjadi...seperti ini, aku bagaikan bencana. Dugaanmu waktu itu tepat, aku memang menghabisi gerombolan perampok yang pernah singgah kemari. Kemudian, aku menghisap habis darah mereka. Bayangkan, gerombolan mereka terdiri dari delapan, sembilan orang. Namun setelah menghisap habis darah mereka pun, dahagaku tidak terpuaskan.
Selama menjadi manusia, tidak pernah aku merasakan dahaga sedemikian menyiksa. Membuatmu gila, secara harafiah. Waktu itu mungkin kau belum dilahirkan, tetapi kau pasti pernah dengar soal ini. Ada masa-masa di mana desamu begitu sering tertimpa malapetaka. Begitu banyak korban berjatuhan, begitu besar kerugian yang ditimbulkan. Kemudian, Rika mencetuskan sebuah gagasan, yang berlanjut hingga sekarang menjadi sebuah tradisi. Tradisi "Yang Dimuliakan", yakni memilih seorang warga desa untuk dijadikan korban agar segala bencana itu berhenti.
Sekarang kau tahu kenyataannya. Tidak ada arwah jahat, tidak ada bencana alam, yang ada hanyalah aku. Kulihat kau sudah berhasil menghubungkan kenyataan-kenyataan tersebut. Benar, Maya. Akulah malapetaka yang menimpa desamu. Akulah monster yang mendiami rumah ini.
Kepadaku lah para "Yang Dimuliakan" itu dikorbankan.
Bahkan dengan para korban yang dikirimkan oleh Rika sekalipun, aku masih seperti mesin pembunuh. Tidak ada orang yang selamat setelah memasuki hutan ini. Akal sehatku hilang setiap kali ada manusia yang memasuki jarak penciumanku—dan asal kau tahu saja, penciumanku menjadi sangat, sangat, tajam setelah aku berubah menjadi vampir. Kau tahu apa yang terjadi. Hingga kini raut wajah setiap mereka masih menghantuiku.
Kau memucat. Sekarang baru kau sadar betapa berbahayanya aku, bukan? Baguslah. Pertimbangkanlah untuk pergi ke desa di utara. Percaya padaku, warga di sana akan menerimamu dengan tangan terbuka. Mengapa? Karena tidak ada orang seperti Rika di desa utara. Yah...pengaruh Rika di desa selatan sangat besar, bukan? Aku sendiri pun...
Uh, lupakan soal itu.
Bohong?
Sayangnya tidak. Maya, seluruh penuturanku ini benar adanya. Tanganku telah berlumuran darah. Aku telah membunuh puluhan, mungkin ratusan, jiwa. Seharusnya sejak dulu mereka memburuku. Monster sepertiku tidak sepantasnya dibiarkan hidup dan membahayakan semua yang ada di sekitarnya. Tetapi aku masih dapat memijak bumi ini—meski tak sepenuhnya hidup—karena kebaikan hati Rika. Rika-lah yang menyimpan rahasia mengenai keberadaanku rapat-rapat. Dia menutupi segala kerusakan yang kubuat, sehingga warga desa tidak berbondong-bondong kemari dan mengamuk kepadaku.
Selain itu, Rika pula yang mengajariku cara mengendalikan diri. Dia memintaku agar tidak meninggalkan cahaya, meskipun kini jiwaku terkutuk selamanya. Kini aku harus membunuh untuk bertahan. Tanganku akan selamanya berlumur darah. Tetapi dia menciptakan sebuah...ritual untukku. Ritual yang harus kulakukan setiap kali aku menodai tangan dan mulutku dengan darah.
Seperti apa bentuk ritual tersebut?
Sederhana, sebetulnya. Aku hanya perlu melihat matahari.
Cahaya matahari adalah cahaya yang paling murni. Seluruh makhluk di muka bumi membutuhkan hangat dan sinarnya. Kecuali aku. Aku yang terkutuk ini justru akan tewas di bawah cahaya sang Surya. Rika mengatakan, jika aku dapat melihat cahaya tersebut bahkan sekejap saja, jiwaku akan kembali dimurnikan. Dosaku karena mengambil nyawa makhluk hidup akan dihapuskan.
Karena itulah aku menghabiskan sebagian besar waktuku dalam keadaan buta. Kau bahkan pernah memergokiku saat tengah menjalani ritual tersebut, kau ingat? Berbahaya sekali. Kondisiku cenderung lebih tidak stabil saat aku menjalankan ritual, karena...yah, rasa sakitnya nyaris membuatmu kehilangan akal sehat.
Namun rasa sakit itu pula yang membuatku tersadar: mereka yang kurenggut nyawanya pun pasti mengalami penderitaan yang serupa. Maka aku mulai belajar untuk mengendalikan dahagaku. Kemudian, perlahan-lahan aku berhenti meminum darah manusia dan bertahan hidup dengan darah binatang-binatang hutan. Namun ritual itu tetap aku lakukan, sebagai pengingat pahit akan diriku yang terkutuk, yang selamanya harus berkubang dalam darah dan kematian.
Sekarang kau telah mendengar seluruh ceritaku. Kau sudah tahu monster macam apa yang selama ini tinggal bersamamu. Silakan pertimbangkan kembali tawaranku waktu itu, untuk pergi dan menetap di desa utara. Atau...seandainya kau masih ingin menempati rumah ini pun tak masalah. Biar aku saja yang pergi.
Hiduplah dengan tenang, Maya. Kini kau telah lepas dari pengaruh buruk warga desa selatan. Setelah aku juga menyingkir dari hadapanmu, kau dapat menjalani kehidupan yang layak. Kehidupan yang selama ini kau impikan. Mungkin tidak pantas bagiku mengatakan ini, tetapi ketahuilah, aku benar-benar tulus mengharapkannya.
Maya, kuharap kau dapat berbahagia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki yang Merindukan Matahari
FanfictionIni adalah kisah tentang seorang gadis yang terbuang, terkucilkan, tersisih, dan tersingkirkan seumur hidupnya, bahkan setelah itu pun mereka masih meminta kepadanya, satu-satunya yang dimilikinya, nyawanya. Kisah tentang seorang pemuda, yang telah...