Bab 2 - Mansion di dalam Hutan

153 14 0
                                    

Maya mulai menyesal karena membiarkan perutnya kosong malam ini.

Ugh, paling tidak seharusnya dia meminum anggur yang mereka sajikan. Maya benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Para warga tengah menggiringnya ke dalam hutan. Mereka masih tertawa-tawa dan menyanyi lantang. Sementara, Maya merasa seperti seekor sapi yang digiring ke tempat jagal. Seandainya dia mabuk, setidaknya dia dapat melupakan kenyataan tersebut dan dapat berbaur dengan mereka untuk terakhir kalinya.

Ketegangan yang dirasakan Maya membuat perutnya berbunyi nyaring di tengah keheningan hutan. Ya Tuhan, peduli setan, batinnya dalam hati, meski tak urung hangat merambati wajahnya. Beberapa warga menatapnya sinis, namun sebagian besar masih mempertahankan senyum palsu mereka untuknya.

Tepukan lembut di bahunya nyaris membuat Maya menjerit. Rika.

"Tidak apa-apa," katanya seraya menyembunyikan senyum. "Ini, kebetulan aku membawa sebuah roti. Makanlah selagi kita berjalan. Aku tidak ingin kau kelaparan."

Maya menggumamkan terima kasih, lalu mulai menggigit roti itu dengan penuh syukur. Penyesalannya semakin besar mengingat tumpukan daging panggang yang menumpuk di atas meja tadi.

Dengan luwes, Rika melingkarkan lengannya ke bahu Maya, membuat gadis itu serta-merta menegang. Mulutnya berhenti mengunyah. "Setidaknya tersenyumlah sedikit," bisik Rika. "Malam ini kau menjadi pahlawan bagi desa ini, kau tahu?"

Maya memaksakan seulas senyum kaku. Ya, dia tahu. Dia sangat tahu, bahkan jauh sebelum mereka memilihnya, Namun dia bukannya patuh dengan sukarela. Apabila dia menolak, atau berusaha kabur, Maya yakin para warga akan segera meringkusnya dan bisa jadi malah langsung menghabisi dia. Lalu mereka akan mencari orang lain untuk dijadikan tumbal tahun ini. Konyol sekali, bukan? Tidak perlu lah jatuh korban lain untuk perbuatan nekat Maya yang sia-sia.

"Ah, kita sudah sampai."

Maya mendongak.

Sebuah pagar berukir menjulang di hadapannya. Warnanya hitam, tampak begitu megah dilatari sinar bulan. Seorang warga mendorong pagar tersebut hingga menimbulkan derit nyaring, membuat sebagian besar orang mendesis dan meringis. Dengan dipimpin oleh Rika, mereka melalui pagar tersebut.

Pekarangan di dalamnya cukup luas. Kerimbunan hutan seolah berhenti di pagar tadi, menyisakan hanya beberapa batang pohon di dalam sini. Tidak seperti hutan yang semrawut, jarak antar pohon di pekarangan ini seragam, seolah mereka memang sengaja ditanam oleh penghuni rumah ini. Daun-daun kering maupun yang setengah membusuk bertebaran bagaikan karpet. Terdapat mangkuk air mancur dari marmer di tengah-tengah pekarangan dengan patung malaikat mungil. Sudah tidak ada setetes air pun di sana.

Maya menahan napas saat akhirnya dia melihat rumah tersebut.

Daripada rumah, mungkin lebih pantas disebut mansion. Bangunannya terdiri dari tiga lantai dengan pintu ganda raksasa persis di tengah-tengahnya. Setiap beberapa meter, jendela-jendela tinggi menghiasi dindingnya, letaknya sejajar di setiap lantai. Tidak ada cahaya yang terlihat dari sana. Mungkin jendela itu ditutup tirai, atau mungkin bagian dalam mansion itu memang gelap gulita. Dulunya mansion itu pasti indah sekali. Kini, setelah cat-catnya mengelupas dan sudut-sudutnya termakan usia sekalipun, mansion itu masih berdiri anggun, bak seorang aktris di atas panggung dengan cahaya rembulan sebagai lampu sorotnya.

Seorang pria di sebelah Maya bergidik, sementara beberapa wanita di belakangnya saling berbisik.

"Rumah ini seram sekali."

"Untunglah kita tidak perlu berlama-lama di sini."

"Betul. Sebaiknya cepat bereskan urusan kita sebelum para arwah itu menampakkan diri."

"Hush, jangan bicara begitu. Kau tahu dia masih tersadar penuh, kan? Dia bisa mendengar kita."

Maya mendengus. Memangnya kenapa kalau dia mendengar mereka? Toh, dia sudah tahu seluruh rencana mereka. Lagipula besok dia sudah tidak ada di dunia ini. Selain itu, apa maksudnya rumah ini menyeramkan? Tua? Betul. Terbengkalai? Pasti. Menyeramkan? Sama sekali tidak. Malah menurut Maya, rumah ini sempurna!

Yah, tentu akan lebih baik jika dia membersihkan dan melakukan sedikit renovasi dulu. Tapi tidak masalah. Sejak dulu Maya selalu bermimpi untuk tinggal di rumah semacam ini.

Jantung Maya berdebar antusias. Rupanya begini rasanya menjadi "Yang Dimuliakan". Dibuang dari desa yang menyesakkan itu lalu dihadiahi sebuah mansion di tengah hutan. Maya tidak sabar menunggu para warga meninggalkannya agar dia dapat mulai menjelajah mansion ini. Persetan dengan hantu-hantu ganas yang bergentayangan. Maya akan melakukan apapun agar dapat hidup tenang di sini, bahkan jika dia harus berdamai dengan para hantu.

***

Maya mengerang seraya mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.

Sial, bahkan sampai akhir pun para warga masih bersikap kurang ajar. Bagian belakang kepalanya nyeri, sepertinya mereka menghantam dia hingga pingsan. Maya mengusap kepalanya seraya mengernyit. Untung tidak berdarah, meski Maya yakin kepalanya akan benjol besar beberapa hari ke depan. Ya Tuhan, apakah itu bunyi kicau burung? Fajar pasti sudah menyingsing. Berapa lama dia tak sadarkan diri?

Oh.

Maya melompat bangun, mengabaikan kepalanya yang masih berdenyut-denyut nyeri. Sekelilingnya gelap gulita. Butuh beberapa saat hingga matanya beradaptasi dengan kegelapan tersebut. Dia dapat menghirup aroma debu, jamur, dan kelembaban. Tangannya meraba-raba, merasakan tekstur kayu dan...karpet, kemungkinan. Ah, sekarang dia paham mengapa tempat ini begitu gelap. Setiap jendela ditutupi tirai tebal hingga tidak ada secercah pun cahaya matahari yang masuk.

Maya berdiri, lalu mulai meraba-raba jalannya hingga mencapai salah satu jendela. Dia menyibak tirai tersebut, lalu terbatuk hebat. Debunya pasti beterbangan ke mana-mana, meskipun masih terlalu gelap untuk melihatnya. Oh pantas saja. Di balik tirai pun, jendela itu ditutupi papan kayu yang malang melintang. Maya mengernyit. Dia meraba-raba papan yang menutupi jendela,, berusaha menemukan celah sedikit saja, agar sinar dapat masuk ke ruangan tersebut.

Lalu dia menjerit keras-keras saat sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangannya.

Post-chapter note

Wah, kira-kira tangan siapa itu ya? OAO
Yuk, tebak di kolom komentar~

Lelaki yang Merindukan MatahariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang