Bab 22 - Tamu

86 9 1
                                    

Hari itu dimulai seperti biasanya.

Maya terbangun sebelum matahari berada di atas kepala. Suara V menyapanya dari lantai atas saat dia menggigit sebuah apel segar untuk sarapan.

"Selamat pagi, Maya. Tidurmu nyenyak?"

"Yup. Hari ini aku merasa luar biasa," jawabnya riang.

Udara pagi masih segar sehingga dia memutuskan untuk membuka beberapa jendela. Seketika bunyi gemerisik daun tertiup angin, percik air dari sungai di kejauhan, serta kicau riang burung-burung memenuhi rumah itu. Seekor kupu-kupu bahkan melayang masuk dan mengecup singkat ujung hidung Maya. Maya tersenyum, memandangi kupu-kupu itu terbang kembali ke dalam hutan.

Ini hari yang indah.

Maka Maya pun mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan riang. Pikirannya melanglangbuana. Apa yang sebaiknya dia lakukan hari ini? Berjalan-jalan sebentar di hutan? Pergi ke sungai untuk menangkap ikan? Atau ke desa utara untuk bertemu Yoosung dan kawan-kawan? Tapi diam di dalam rumah dan mengobrol dengan V pun sepertinya menyenangkan.

Belum sempat memutuskan, terdengar bunyi ketukan di pintu depan.

Oh ya, kalau tidak salah Saeyoung akan berkunjung lagi hari ini. Tumben sekali dia datang sepagi ini. Biasanya dia datang saat makan siang, atau malah setelah tengah hari. Tetapi dia sangat sibuk, barangkali dia memiliki urusan lain siang nanti maka memutuskan untuk berkunjung sekarang. Seraya setengah menandak-nandak, Maya bergegas ke pintu depan.

Suara V terdengar dari lantai atas. "Maya, siapa itu?"

Saat itu Maya tidak menyadari sebersit kecemasan dalam suara V. Dia menyahut dengan riang, "Entahlah, mungkin Saeyoung."

Tanpa menunggu lama, Maya membuka pintu.

Namun yang menunggunya bukanlah Saeyoung.

Melainkan Rika, beserta sekelompok warga desa selatan.

***

Warga desa yang berkumpul di sana tidak banyak. Mungkin tidak mencapai sepuluh orang. Sementara Rika memberikan senyum ramah kepada Maya, mereka tidak menampilkan raut serupa. Sebagian besar merengut marah, sebagian lainnya tampak agak takut—mungkin akibat reputasi angker mansion ini, segelintir lainnya justru tampak terkesima—mungkin baru menyadari betapa megahnya bangunan ini di bawah cahaya matahari.

Maya merasa seolah-olah isi perutnya membeku.

Pikirannya seketika tertuju pada V.

Apa mereka mengincar V? Apa Rika memberi tahu para warga soal keberadaan V di mansion ini? Semoga pemuda itu dapat menerka situasi di bawah sini sehingga tidak mencoba-coba bersuara. Sial, dia tidak akan bisa menyelinap kabur karena matahari bahkan belum mencapai puncak tertingginya. Masih beberapa jam lagi hingga ia terbenam sepenuhnya. Dapatkah Maya mengulur waktu selama itu? Seandainya saja inovasi Saeyoung telah rampung...

"Maya."

Suara Rika tidak keras, namun kegelisahan membuat Maya tersentak lebih hebat dari yang seharusnya. Beberapa warga desa memicingkan mata melihat ini. Luar biasanya, raut wajah Rika tidak berubah.

"Seperti janjiku, aku kemari untuk bertamu," kata Rika, seolah Maya adalah teman lamanya. "Maaf tidak memberi pemberitahuan sebelumnya. Kuharap kau tidak sedang sibuk?"

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, seandainya pun Maya berkata dia sibuk, Rika pasti akan menemukan cara untuk membantahnya. Apalagi dia telah membawa massa. Mana mungkin dia mau membubarkan mereka begitu saja.

Lelaki yang Merindukan MatahariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang