Bagian 4

2.8K 198 1
                                    

"Kamu liburan gih sama Wikan. Honey moon atau apalah itu namanya," kata ibu mertua yang tiba-tiba meneleponku. Di siang hari. Panas-panas. Baru saja selesai shalat dzuhur, katanya. Mukenanya saja belum dilepasnya.

"Wikan lagi banyak kerjaan, Bu." Aku bisa membayangkan ekspresi kecewa ibu. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan itu. Tapi, aku juga kebingungan mencari jawaban yang bisa melegakan ibu.

"Ibu cuma pengen cucu, masak kata Wikan nanti adopsi anak saja." Ibu mengeluarkan tangisan yang seperti dibuat-buat. Aku tahu itu tangisan palsu, tapi keinginannya memiliki cucu itu bukan main-main.

Lalu, adopsi? Wikan tidak pernah membahas hal semacam itu padaku. Sekali pun.

"Maaf ya, Bu, Alesha sama Wikan akan berusaha lebih lagi," kataku berusaha menenangkan.

"Ya, makanya kalian liburan. Wikan jangan capek-capek kerja. Lagian, kerja nyari apa lagi? Gak usah ngejar-ngejar dunia gitu amat. Mati gak ada yang dibawa. Mati, gak ada yang didoain karier. Cuma do'a anak sholeh-sholehah."

Duh. Jleb sekali rasanya. Ya Tuhan, kalau tahu akan berhadapan dengan ibu mertua seperti ini, dulu aku pasti tidak nekat menerima tawaran menikah dengan Wikan.

Dulu, keinginan kuatku untuk resign dari pekerjaan karena lelah berhadapan dengan orang-orang bermuka dua dan pencari muka sekaligus, serta atasan yang tidak memiliki jiwa pemimpin, seperti dijawab dengan tawaran Wikan. Menikah dengannya. Dicukupi kebutuhannya. Tidak akan dilarang melakukan pekerjaan apapun, selama itu positif.

"Nanti Ale ngomong sama Wikan ya, Bu. Ibu jaga kesehatan ya." Aku selalu takut berlama-lama dengan ibu mertuaku jika sedang membahas tentang anak.

***
"Sayang, kamu sehat kan? Udah makan?" Ibuku, dari aku remaja hingga usia hampir berkepala tiga, hal lain yang pertama kali ditanyakan adalah perihal mengisi perut.

"Kamu gak kangen sama Ayah-Bunda di rumah?" tanya ibu lagi. Suaranya renyah tapi membuatku jadi sedikit resah. Tentu saja aku rindu. Sudah hampir dua bulan tak pulang ke rumah.

"InsyaAllah minggu ya Ale pulang," kataku.

"Wikan sehat, Sayang?"

"Alhamdulillah, Bun."

"Di rumah terus sekarang?"

"Iya, Bun .... "

"Kamu kapan terakhir menstruasi?"

Ya Tuhan. Apa sih ini? Aku paham sekali ke mana arah pertanyaan ibu.

"Baru 5 hari yang lalu, Bun .... "

Ibu terdengar menghela napas. Dalam. Bisa kubayangkan wajah kecewanya.

"Berarti, ini waktunya masa subur, kamu sama Wikan harus lebih ... " Tawa renyahnya terdengar pelan. Sedikit ditahannya.

"Bun, udah ya, Ale mau ke luar dulu. Nanti Ale telepon lagi." Aku menutup percakapan yang membuatku semakin gerah.

***

Hana terbahak. Rasanya, semua keluhanku terasa lucu baginya.

"Yaudah sih Le, turutin aja mertua lo itu," ujar Hanna.

Aku memainkan jari telunjukku di meja makannya. Ruang makan yang langsung terhubung dengan dapur di rumah Hana, adalah tempat favoritku. Terlebih, Hana suka memasak. Tangannya gatal-gatal jika sehari saja dia tidak memasak. Yang membuatku lebih betah, suaminya jarang di rumah.

"Orang disuruh liburan geh galau," celetuk Hana dengan santainya.

"Gini amat nasib gue ya .... " Aku menggerutu sendiri.

"Yaudah sih berangkat aja, anggep aja nyenengin mertua."

Aku meletakkan kepalaku di atas meja. Aku tidak pernah memikirkan ini semua, sebelumnya. Bagaimana semua ini terasa begitu runyam. Jauh dari kata sederhana. Menghadapi ibu yang cukup rewel membuat lemak-lemak di tubuhku pergi dengan sendirinya. Dulu, aku pikir, masalah selesai ketika aku dan Wikan tidak tinggal serumah dengan ibu.

"Lagian emang lo gak pengen sekali aja nyoba tidur sama Wikan? Siapa tau tokcer .... " Hana cekikikan di ujung kalimatnya.

"Hanaaaaaaa ... " Aku ingin menangis saja rasanya. Hana malah semakin terbahak.

"Emang lo segitu gak menggairahkannya di mata Wikan, Le?"

Aku melirik tajam ke arahnya. Dia cengengesan. Aku benar-benar menyesal mendengar pertanyaan Hana. Entah, apa yang tercampur di otaknya. Entah kenapa juga aku bisa memiliki teman sepertinya.

"Ya kalo emang gak mau tidur sama Wikan, ide adopsi anak kayaknya oke juga. Lo ngaku aja kalo lo mandul."

Astaghfirullah. Aku menepuk dahiku sendiri. Entah apa dosaku di masa lalu, hingga harus menjalani kehidupan berteman dengan orang seperti Hana.

Aku menerima sarannya untuk mengadopsi anak, tapi aku tidak terima harus membuat pengakuan bahwa aku mandul. Dasar Hana!

Perempuan Penyuka Es TehTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang