Aku sibuk mencari sarang pemadam kelaparan. Kak Winda hanya membawakan roti untuk sarapan. Tentu saja itu tidak membuat perutku tenang.
"Alesha mana kenyang makan roti doang, Kak." Wikan terkekeh mengambil dua potong roti yang dibawa Kak Winda.
"Kepalanya pusing kalo belum ketemu nasi," sambung Ibu. Mereka tertawa kompak.
Aku manyun di sudut sofa. Wikan menyerahkan sepotong roti untukku.
Ibu tampak begitu sehat. Wajahnya cerah ceria. Sedari subuh merengek mengajak pulang. Sudah bosan di rumah sakit.
Wikan dan Kak Winda hanya mengiyakan tanpa benar-benar menuruti permintaan Ibu. Mereka tidak akan melakukan itu tanpa seizin dokter.
Dokter baru mengunjungi ruangan Ibu sekitar pukul setengah sembilan pagi. Perawat yang mendampingi dokter itu memintaku meninggalkan ruangan Ibu sejenak. Aku menurut saja. Lagi pula aku lapar. Aku harus mengurus urusan perutku sendiri.
Aku pun berkeliling di sepanjang jalan di depan rumah sakit. Sepasang mataku lincah beredar dari satu tempat makan ke tempat lainnya. Hingga pilihanku jatuh pada gerobak bubur ayam. Dorongan lapar perutku membuat langkahku begitu ringan menghampiri gerobak bubur ayam. Tak disangka, di sana aku malah bertemu Mas Davin.
Laki-laki berkacamata itu tengah duduk menyendoki bubur ayam sembari tangan kirinya memegang sate telur puyuh. Aku hampir saja berbalik badan dan mengambil langkah seribu meninggalkannya. Namun, gerakan matanya lebih cepat menangkapku. Aku tak bisa mengelak.
"Alesha?"
Suara seraknya sempat membuat degup jantungku berjingkrak disko. Aku mati-matian mengatur napas agar tak tampak gugup di hadapannya.
Aku pun mengangguk menanggapinya. Lalu, pelan-pelan melangkah lebih dekat dengannya. Menarik sebuah kursi di hadapannya.
Berkat itu, aku tahu perihal apa yang membawanya ke rumah sakit ini. Tentu saja dia bukan sedang jalan-jalan iseng di rumah sakit. Atau sengaja datang untuk sarapan bubur ayam. Dia tidak sebegitunya kekurangan kerjaan.
Mamanya sakit. Magh kronis. Muntah-muntah sedari pagi di sekolah, tempatnya mengajar. Dia sedang ada pekerjaan di luar kota, saat kabar tak mengenakkan itu sampai di telinganya. Tanpa berlama-lama, dia meninggalkan pekerjaannya, membeli tiket pulang lewat udara, langsung menuju rumah sakit ini. Baginya, Mamanya adalah segalanya. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
"Trus sekarang Tante sama siapa kamu tinggal sarapan di sini?"
Mas Davin hanya tersenyum. Dan lagi-lagi, aku kepayahan mengendalikan diri begitu menatap senyum itu. Dulu, kupikir, aku akan memiliki senyum itu selamanya. Menjadi pemilik satu-satunya. Nyatanya, kini aku malah terluka setiap kali menyaksikan senyum itu.
"Mama cuma mag, udah baikan, udah bisa jalan-jalan sendiri, jadi kalo cuma ditinggal sarapan di sini, kayaknya gak bakal bikih heboh rumah sakit kok." Dia tertawa lirih. Aku menarik satu lengkungan kecil di bibirku.
"Nanti siang juga pulang," lanjutnya. Aku lega. Mamanya baik-baik saja.
"Alhamdulillah, syukurlah."
Maka, aku pun sarapan bubur ayam berhadapan dengannya. Sesekali dia menyendok di mangkukku. Lalu, mengeluh kepedasan. Persis yang biasa dia lakukan dulu.
Aku tidak pernah menyangka akan melewati sarapan seperti ini lagi dengan seseorang yang pernah begitu kuharapkan menjadi satu-satunya di hatiku. Laki-laki yang hingga kini, namanya masih menempel begitu lekat di sudut terdalam hatiku. Laki-laki yang membuatku enggan membuka hati pada setiap ketukan yang datang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Perempuan Penyuka Es Teh
RomanceBagaimana aku bisa memenuhi rengekan ibu mertua tentang cucu sementara pernikahanku dan Wikan hanya sebatas status di Kartu Keluarga? Aku masih menggenggam erat cinta masa lalu. Wikan masih terhujam kisah yang lalu. Kami sama-sama tak lagi percaya p...