Bagian 2

3.5K 213 0
                                    

Aku duduk di sofa. Sambil menunggu mie instan di cup matang, aku menyalakan televisi. Pandanganku tertuju ke layar 40 inch. Tapi, pikiranku mengembara entah kemana.

Kalimat-kalimat ibu terus menghantuiku. Keinginannya menimang cucu membuat kepalaku berputar-putar tak tentu arah. Hal semacam ini terlewatkan olehku dan Wikan. Dulu, kami menyederhanakan segala hal. Kami merasa bisa mengatasi semuanya.

"Suka Blue Film sekarang, Le?" Suara Wikan mengagetkanku. Sekaligus membuat sepasang mataku menyipit menatapnya.

Wikan menghempaskan tubuhnya di sofa. Aku terkejut. Tak menyadari kedatangannya.

"Itu, layar biru gitu ditonton," katanya santai.

Aku kembali memandangi layar televisi. Biru utuh. Aku lupa memindah channel.

"Masak apa, Le?" tanyanya.

Aku menggeleng. Bibirku sedikit maju menunjuk mie instan dalam cup yang tergeletak di meja. Dia menarik napas. Tatapannya tak selera memandangi calon makananku.

"Emang belum makan?" tanyaku.

Dia menggeleng.

"Mau nasi goreng gak?" tanyanya lagi.

Aku mengangkat sebelah alisku.

"Oke, aku bikin dua porsi kalo gitu." Wikan langsung bangkit. Menggulung lengan kemeja biru mudanya. Menyibukkan diri di dapur.

Wikan. Aku masih ingat, dua tahun lalu aku bertemu lagi dengannya. Tanpa sengaja. Apalagi direncanakan. Di suatu sore. Saat hujan mengguyur lebat kota ini.

Aku menikmati semangkuk bakso sendirian. Dia entah dari mana munculnya, tiba-tiba duduk di depanku. Menyapaku dengan ramah.

"Kak Alesha?" katanya kala itu.

Aku menatapnya asing.

"Wikan. Adik kelas paling kece pada masanya." Dia tertawa. Aku langsung membongkar ingatan masa SMA.

"Kita pernah duduk bareng pas ulangan semester, siswa yang tidur pas dikasih soal Fisika. Trus Kakak yang ngerjain. Nilaiku 80. Besoknya aku dipanggil guru Fisika. Nyatanya dapet nilai kecil atau gede sama aja, sama-sama diceramahin guru." Dia masih begitu antusias. Sementara aku kepayahan mengingat momen yang dia ceritakan. Entah mengapa aku malah menunjukkan kepikunanku di hadapannya.

"Bassis. Aku Bassis paling manis masa itu." Tawanya makin lebar.

Ingatanku langsung pulih. Segala hal tentang band sekolah dan bassisnya yang paling manis kala itu menyembul ke permukaan. Aku ingat sekali.

Aku juga ingat tentang adik kelas yang duduk sebangku denganku saat UAS. Aku ingat banyak yang cemburu denganku karena itu. Teman-teman perempuan di angkatanku, hampir semua mengatakan aku ketiban rejeki nomplok.

Wikan, dia diidolakan sekali saat itu. Tubuh tinggi tegapnya dan kecintaannya pada basket membuatnya terpilih sebagai kapten basket sekolah. Kelihaiannya membetot senar-senar bass membuat para perempuan lebih fokus padanya daripada sang vokalis. Terlebih, dia memang tampan. Manis. Ramah.

Dia juga berpacaran dengan siswi paling populer, saat itu. Erika. Tidak ada yang tidak kenal Erika. Cantik. Anak tari. Juara olimpiade Biologi. Anak guru. Supel. Tak ada penduduk sekolah yang tak mengenal pasangan paling ideal itu. Hanna saja selalu mengikuti kabar-kabur tentang hubungan mereka. Mungkin, hanya aku yang tak peduli dengan mereka.

"Gak nyangka ya ketemu di sini," imbuhnya.

Maka malam itu, di sebuah kedai bakso, di tengah deras hujan, aku dan Wikan membuka lembaran usang masa putih abu-abu. Ada saja cerita-cerita yang membuat kita terbahak. Cerita-cerita yang membuatku ingin kembali ke masa itu. Masa ketika masalah terberat adalah PR Kimia.

"Hujan-hujan begini minum es teh?" tanyanya saat melihatku menyeruput segelas es teh.

Aku mengangguk mantap.

"Aku lemah tanpa es teh," jawabku yang langsung membuatnya terkekeh.

Aku senyum-senyum mengenang malam itu. Aku bersyukur bertemu Wikan. Aku beruntung menikah dengannya walaupun pernikahan kami hanya sebatas status di Kartu Keluarga.

Aku sudah jemu dengan pertanyaan kapan menikah. Aku bahkan sengaja menulikan diri. Tak peduli. Masa bodo. Mereka yang kerap nyindir apalagi nyinyir, tak pernah tahu, sesering apa aku berdoa kepada Tuhan agar segera menikah. Mereka yang memandang sebelah mata dan kerap menyebutku perawan tua, tak pernah mengerti seberapa dalam luka yang kurasa akibat cinta yang kandas karena perbedaan agama.

Aku, dua puluh tujuh tahun dan belum menikah ketika bertemu kembali dengan Wikan. Dengan penuh luka berdarah-darah yang tak tampak merahnya. Aku tertatih-tatih melangkah. Aku berusaha tetap tenang, tak peduli sayatan luka semakin memanjang. Rasanya, aku kehabisan rasa. Aku tak sanggup lagi mencinta. Tak ada ruang lagi di hatiku yang bisa diisi.

Sementara Wikan, dia jatuh tak berdaya karena cinta yang sudah ia pupuk selama 7 tahun kandas begitu saja. Mimpinya bersanding di pelaminan bersama wanita yang paling dicintainya kandas, didahului laki-laki lain. Dia tak percaya lagi pada cinta sejak itu. Desakan ibu yang semakin menua untuk melihatnya menikah pun membuatnya semakin tak berdaya.

"Finiiiish .... " Wikan memukul-mukul penggorengannya. Cukup berisik.

Dua piring nasi goreng dibawanya dari dapur. Mie instan dalam cup-ku sudah tumbuh gemuk sebesar cacing. Menggelikan.

Perempuan Penyuka Es TehTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang