9

92 25 0
                                        

Siang ini hari sangat panas. Mita dan Irsat berjalan menyusuri koridor berdua, jika kalian bertanya tentang Dimas dia sedang tidak mau diganggu, entah lah masalah apa lagi yang ia pendam.

Irsat memandangi lantai bersih di sepanjang jalan. Tidak ada topik yang mereka bicarakan membuat mereka merasa bosan, "Mit, lo tau nggak? "Irsat memulai topik pembicaraan.

"hem? "balas Mita sembari menendang sebuah kaleng yang ada didepan nya. Sekarang mereka berdua sedang duduk disebuah bangku.

"aduhhh. "rintih seseorang yang tak lain adalah Pak Bondan yang sedang berada direrumputan.

Pak Bondan berdiri sembari memegangi kepala nya yang terkena sebuah kaleng tadi. Dengan mata melotot dan memerah Pak Bondan melihat sekeliling, "SIAPA YANG BERANI BUANG SAMPAH SEMBARANGAN TERUS DILEMPARIN DI SAYA?! "

Irsat dan Mita meneguk saliva nya susah payah, mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini semua salah Mita, "Mit gara-gara lo nih. "ucap Irsat yang mulai berdiri.

Mita mencoba tenang, ia tau ini salahnya. Mita pun menarik tangan Irsat agar duduk lagi, "i iya lo diem aja. "

Irsat yang takut akan terkena masalah pun ingin rasanya ia berlari sekarang tapi diurungkan karena-Mita, "ya udah kita lari aja. "ajak Irsat agar menyelamatkan Mita.

Mita menggeleng kuat dengan tatapan yang tetap menatap takut kearah Pak Bondan, "ngak lo nggak boleh kabur. "

Argh Mita keras kepala, "kenapa? "

"udah lo diem aja disini. "jawab Mita sembari memegang tangan Irsat yang hendak berlari.

"Mit gue takut lo sih. "kalo guru kiler satu ini Irsat tak berani. Sungguh.

"salah siapa dia ada disemak-semak. "

Irsat menatap Mita melongo, ia yang salah mengapa ia menyalahkan Pak Bonda yang berada disemak? "Pak Bondan kan piket kebersihan sekarang. Dia bawa gunting tuh. "jawab Irsat menunjuk sebuah gunting yang dibawa Pak Bondan.

Mita tau Mita salah, tapi Mita tidak mau disalahkan, ohhh entah lah, "salah siapa tu rambut gak ada pelindung nya. "bantah Mita.

"pelindung gimana? Helm? "

Mita menggeleng, "bukan, tapi rambut. "

Sekarang Mita menyalahkan Pak Bondan yang botak, "ohh lo nyalain rambut Pak Bondan yang gak tumbuh gitu? "

"iya, rambut itu jangan botak maka nya. "

"bener juga sih, setau gue Pak Bondan gak tumbuh-tumbuh rambutnya, udah kayak Ipin aja. Kata kakel kita Pak Bondan juga gak pernah punya sehelai rambut. "jawab Irsat mengiyakan.

"eh eh lo itu salah malah nyalain orang lain. "sambung nya ketika tersadar.

"ah iya iya gue yang salah lo disini aja maka nya. "pinta Mita yang membuat Irsat pasrah, akhirnya ia memilih untuk menuruti kemauan Mita.

Pak Bondan masih memegang kaleng tadi kebetulan ia berjalan tergesa-gesa kearah Mita dan Irsat membuat mereka berdiri tegang, "pasti dari sini. "geram Pak Bondan.

Saat hendak melanjutkan jalan nya Pak Bonda melihat sekilas Mita dan Irsat yang kemudian berhenti, "kalian tau nggak siapa yang ngelempar kaleng ini?! "

Mita dan Irsat diam seribu bahasa. Irsat berjanji agar tidak akan mau menjawab pertanyaan guru sangar ini.

Mita mencoba untuk menenangkan dirinya agar Pak Bondan tidak curga, "itu kaleng nya terbang kali Pak. "jawab Mita.

Pak Bondan melotot kuat, kaleng terbang? MANA MUNGKIN, "kaleng itu gak ada sayap nya gimana mau terbang ha? "

Mita kelagapan, dia salah mengucapkan sesuatu, "maksud saya melayang kali. "

Dua Lelaki Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang