Bab 1| Ku Benci Sejarah Sampai ke Tulang Ekor

2.4K 296 5
                                        

Bab 1

Ku Benci Sejarah Sampai ke Tulang Ekor.







Sejarah! Sejarah! Sejarah!

Aku bosan juga mengantuk! Kenapa sih harus ada mata pelajaran Sejarah di dunia ini? Apa untungnya coba mempelajari kerajaan-kerajaan kuno? Apa tadi kata Bu Maryam? Kerajaan Majapahit? Apa itu?

"Kirana!"

Aku tersentak, spontan melepaskan pena yang sendari tadi sibuk menari-nari di sampul LKS yang bahkan belum aku bayar lunas, kelas menjadi hening saat namaku disebut Bu Maryam, guru sejarah kami. Kemudian terdengar suara benda jatuh yang tak lain adalah penaku.

Aku meringis menggaruk pelipisku yang sama sekali tidak gatal, "Iya Bu?"

Bu Maryam berdecak, "Ambil penamu, Kira."

Dengan terpaksa aku bangkit dari tempat duduk dan maju ke depan kelas memungut penaku. Bagaimana tidak malas coba? Penaku jatuh menggelinding ke depan kelas! Aku yang duduk di kursi paling depan pojok dekat pintu masuk kelas, otomatis harus maju kan?

"Kira, siapa yang menyuruhmu kembali duduk?"

Aku yang hendak kembali menjatuhkan bokongku jadi berdiri lagi, kemudian kembali ke depan kelas. Memandangi satu persatu raut wajah temanku dari depan sini yang memandangku penuh minat, minat dengan adegan selanjutnya tentu saja.

"Baiklah anak-anak, mari kita dengarkan Kirana yang akan menjelaskan materi Sejarah kita hari ini, asal-usul Kerajaan Majapahit."

Bu Maryam kembali menatapku yang terpaku mendengar penuturannya, tak lupa senyum Pepsodent yang beliau pamerkan kepadaku dengan gincu merah menyalanya yang membuatku silau.

Hei, yang benar saja!

Aku masih diam terpaku di depan kelas seperti murid tolol (yang memang betulan tolol). Belum cukup penderitaanku Bu Maryam lagi-lagi bersuara.

"Ayo Kira, teman-temanmu menunggu."

Aku memejamkan mataku. Remasan tanganku di rok juga semakin kencang. Aku menatap Dee teman semejaku meminta pertolongan tapi samar aku melihat gelengan di kepalanya.

Hei, memangnya Bu Maryam mengharapkan apa dariku?

"Maaf Bu, saya tidak bisa." Ungkapku dengan suara yang lebih mirip cicitan tikus.

***

"Lagi-lagi lo enggak kapok ngelamun di pelajarannya Bu Maryam,"

Aku yang sedang mengaduk es jeruk menghela napas panjang, sial! Dee mengingatkanku ke beberapa menit paling sial di kelas sejarah lagi. Aku menyedot es jerukku dengan rakus menyisahkan setengah gelas lagi.

"Gue nyerah deh, kalo disuruh belajar sejarah!" aku menyenderkan punggung di bangku kantin, capek!

Dee terkekeh, "Ya seenggaknya lo bisa kan pura-pura fokus biar Bu Maryam gak ada alasan lagi buat ngehukum lo."

"Gue udah coba Dee, ribuan kali setiap ada Sejarah. Tapi hasilnya sama, gue selalu ngantuk! Kalo enggak ngantuk gue jadi ngelamun."

Aku kembali menyedot es jeruk, rasa asamnya membuat aku ketagihan ingin terus menyedotnya. Kalau dipikir-pikir Bu Maryam emang udah keterlaluan sih. Masa setiap ada Sejarah aku selalu kena hukum, dia sengaja mencari sisi lengahku saat aku tidak memperhatikan, belum lagi setiap ulangan aku selalu dapat nilai di bawah enam dan harus ikut remidial. Mungkin aku akan menjadi remidial pelajaran sejarah sepanjang masa  sampai nenek-nenek.

"Coba aja enggak ada Sejarah, damai banget pasti hidup gue. Lo setuju gak Dee kalo Sejarah dihapuskan dari muka bumi?"

Dee yang sedang mengunyah siomay berhenti, bersiap-siap menjawab pertanyaanku sambil mengunyah siomaynya kembali. Ewww jorok banget!

Buru-buru aku mengangkat tangan, kode supaya dia diam, "Lo telen dulu dong baru ngomong!" semprotku.

"Enggak setuju lah, nilai sejarah gue kan tinggi. Kalo Sejarah dihapus nanti diganti, gue rugi dong! Secara nilai gue di matematika kan selalu jeblok." Sahutnya saat siomaynya sudah berhasil ditelan. Iya sih, Dee suka banget sama Sejarah ya sebelas dua belas sama Bu Maryam. Pantas saja Dee jadi anak kesayangan Bu Maryam. Sedangkan aku? Dihukum terus kalau ketemu Bu Maryam.

Aku mengerucutkan bibir, "Huuu gak asik lo!"

"Elo juga enggak asik!" balasnya.

"Oke deh, kita sama-sama manusia enggak asik."

Aku kembali menyedot es jerukku, lalu tiba-tiba saja Bu Maryam sudah berdiri di sebelah Dee. Aku makin pura-pura sibuk dengan es jeruk yang tinggal se per-empat gelas itu.

"Diana, nanti setelah istirahat, tolong kamu ambil hasil ulangan kemarin ya? Setelah dibagikan catat yang masih harus remidi lalu kas—"

"UHUK-UHUK!" aku batuk-batuk heboh sampai-sampai menghentikan obrolan 'asik' dua manusia maniak sejarah itu. Sial banget, aku keselek biji jeruk! Habis gimana dong? Bu Maryam melirik ke arahku saat berbicara tentang hasil ulangan remidial itu (yang pasti beliau tujukan padaku) saat aku lagi curi-curi dengar. Aku sempat melihat Bu Maryam medelik ke arahku, masa bodoh deh. Aku lagi sekarat!

Aku masih terbatuk-batuk bahkan saat Bu Maryam meninggalkan kami. Sial kuadrat! Sakit banget dadaku. Dee menepuk-nepuk punggungku berharap biji sialan itu keluar, sayangnya biji jeruk yang tak lebih besar dari upilku itu sudah  telanjur tertelan.

Aku mengusap mataku yang berair, "Thanks Dee."

"Hati-hati kenapa sih Ki, lo itu selalu aja sembrono."

"Bu- uhuk! -khan salah gue dong! Gue kan kaget."

"Makanya jangan biasain nguping!"

Ish! Diana sialan![]

Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang