Aku pasti sudah mati.
Aku tidak tahu kalau mati akan sedamai ini, samar aku mencium aroma yang familiar di sekitar sini, wangi yang menenangkan sekaligus wangi yang susah payah ingin aku lupakan.
Wangi yang mengingatkanku pada Naresh.
Naresh bedebah brengsek it—TUNGGU
Bagaimana bisa setelah aku matipun yang aku ingat hanya Naresh?!
Saat aku mencoba mengumpulkan kepingan puzzle saat itu pula tiba-tiba aku merasakan nyeri yang luar biasa di pinggang atau perutku? Sakitnya terasa dimana-mana sampai aku tidak tau pasti letak tepatnya.
Aku mengerang, samar aku kembali bisa mendengar suara-suara di sekitarku.
Apa ini artinya aku belum mati?
Kelopak mataku perlahan terbuka bersamaan dengan suara Yoda yang sampai di telingaku. Aku mengerjap mulai membiasakan cahaya masuk perlahan-lahan.
Kemudian aku mendapati ada di sebuah ruangan cukup besar yang asing. Aku mengerjap, rasanya energiku habis seperti telah disedot sesuatu yang besar, tenggorokanku juga kering, aku haus luar biasa sampai tidak mampu bahkan untuk berucap.
"Kau sudah sadar? Akhirnya kau siuman juga, Kirana."
Melihat Yoda tersenyum lega, aku tersadar, jadi aku belum mati, ya?
Dengan terburu-buru Yoda menuangkan air dari teko dan membantu meminumkannya padaku. Aku ingin meminum dengan rakus tapi sesuatu menyerang perutku secara luar biasa brutal.
Aku meringis nyeri, bahkan tanpa sadar air mataku lolos begitu saja, tanganku memegang perut dan saat itu baru kusadari perutku seperti tengah dibalut kain, astaga sakitnya.
Yoda di sebelahku menatapku panik, "Apakah sakit sekali?" tanyanya khawatir.
Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya.
"Kau pasti sangat kesakitan, maafkan aku tidak bisa menjagamu," ia terkekeh sedih lalu melanjutkan, "alih-alih menjagamu aku malah membuatmu mengorbankan dirimu demi menolongku, maafkan aku, Kirana."
Aku mengerjap, Yoda terus merancau tanpa henti sedangkan aku stuck pada kalimat menyelamatkannya?
Kapan aku menyelamatkan Yoda?
.
.
.
.
.
.
Aku teringat kembali di hari dimana aku bisa mendapat luka ini, semua ini karena aku tertembak panah, saat itu aku terlalu buru-buru ingin menyelamatkan diri namun naasnya aku malah terpeleset dan jatuh menimpa Yoda. Aku mengerjap tersadar, apa dia berpikir aku mengorbankan diriku demi menyelamatkannya?
Aku memandang pemuda itu bingung, apakah aku harus menjelaskannya?
"Aku panggilkan tabib dulu untuk memeriksa kondisimu, kau sudah tak sadarkan diri selama lima hari," ucap pemuda itu beranjak dari tempat duduknya.
Aku memelotot.
APA? LIMA HARI?!
***
Sudah dua hari aku tersadar dan belum bisa kemana-mana, jangankan keluar menghirup udara segar hanya untuk mandi pun aku harus dibantu dengan pelayan menggunakan handuk basah, dan itupun sepertinya tidak termasuk hitungan mandi.
Pasti wajahku mengerikan, aku bahkan tidak berani membayangkannya.
Aku cemberut menatap Yoda di hadapanku yang datang membawa makanan ah bukan, bubur lebih tepatnya dan rasanya tidak enak. Apa semua makanan orang sakit semengerikan ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasíaAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
