Bab 21| How to be A Princess

652 121 0
                                        

Bab 21

How to be A Princess.








Apa Naresh itu punya kepribadian ganda?

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dia itu bagaimana ya?

Nggak bisa ditebak isi kepalanya.

Kadang dia manis kayak coklat lumer, madu cair, sama janji manis mantan. Tapi, kadang dia itu menyebalkan banget, otoriter, bikin keki, ngomong seenak jidat, dan tukang menyuruh.

Enggak banget kan?

Tiba-tiba saja, bayangan saat Naresh meminta maaf muncul lagi. Wajahnya yang merah canggung dan super menggemaskan itu..

Ugh, kenapa mukaku ikutan merah sih?! Aku menepuk-nepuk kedua pipiku pelan. Sial, kenapa aku malah tersenyum menjijikan seperti ini? Bukannya aku sudah berjanji tidak akan jatuh cinta padanya? Sudah memantapkan hati bahwa rasa sukaku tidak akan bertambah.

Tapi...

Mana bisa?!

Aku mendesah, stop mikir yang enggak-enggak, Kira!

Move on inget?

Aku berdecak kesal, kenapa sih selalu begini? Kenapa kisah cintaku itu tragis melulu? Kenapa aku harus move on sebelum bunga cinta itu mekar lalu kelopaknya berguguran?

Selalu saja seperti ini, habis kuncup terpaksa harus dipetik, diinjak, dibuang. Memangnya tidak ada kesempatan ya?

Jawabannya sudah pasti, tidak!

Apa salahku sih? Apa aku nggak pantes ya punya pacar?

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan enggak penting itu, aku bersyukur. Setidaknya aku nggak punya alasan galau-galau lagi kan?

Suara pintu diketuk lagi, mau tak mau aku harus beranjak dari kasur dan sedikit bercermin merapikan diri saat melewati meja rias. Entah untuk apa.

Aku membuka pintu, terkejut mendapati siapa yang berdiri di sana, "Puri!" pekikku senang, "Kemana saja sih?" lanjutku menarik Puri masuk dan duduk di ranjang.

Gadis itu tampak kikuk, "Maaf Putri, saya kemarin pulang ke rumah. Maaf tidak sempat meminta ijin pada Putri." Jelasnya masih canggung.

Aku tersenyum paham, "Kok kamu sudah bekerja lagi sih? Cuma sehari saja liburnya?"

Meski agak aneh mungkin karena mendengar nada bicaraku, tapi Puri tetap menjawab, "Iya, saya tidak bisa lama-lama, sebentar lagi kan Putri akan bertunangan. Semua orang istana pasti sibuk."

Aku terdiam.

Sial! Bagaimana aku bisa lupa soal itu?

Aku berdeham, "Oh iya, tapi orang tuamu, baik-baik saja?"

Puri mengangguk, "Iya, sukurlah mereka baik-baik saja."

"Putri.." sapanya lagi.

Aku menoleh, "Ya?"

"Putri, sebaiknya kita belajar banyak soal tata cara untuk besok."

Alisku bertaut bingung, "Tata cara? Untuk pertunangan?"

Puri mengangguk, "Putri pasti akan bingung jadi.. sebaiknya kita harus belajar lagi."

Aku mengangguk paham, "Baiklah."





...





Siapa sih yang menciptakan tata krama seperti ini?!

Bagaimana aku tidak pusing coba? Aku benar-benar harus menjadi seorang Puteri sejati. Yang mana enggak aku banget!

Bayangkan! Mulai dari cara berjalan, cara berbicara, bertingkah laku, pakaian yang dikenakan, sifat yang harus lemah-lembut, sopan santun, dan aku tidak ingat lagi, semua harus sempurna.

Tobat!

"Puri, apakah ini sudah selesai?" tanyaku putus asa.

Puri meringis, dan perasaanku tidak enak, "Kita masih harus mengukur ukuran baju, setelah itu saya akan berikan daftar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, juga gambaran seperti apa pertunangan itu."

Aku terduduk di kursi, untuk di ruangan ini hanya ada kami berdua. Aman.

"Aku tidak membayangkan menjadi Putri Kesara, dia itu bagaimana?" tanyaku tiba-tiba membuat Puri terkejut.

"Dia cantik, wajahnya mirip seperti Putri Kirana." Jawabnya menerawang di langit-langit. Seolah di sana ada Putri Kesara.

Aku mengangguk, "Lalu?"

"Dia itu, baik sekali mirip-mirip dengan Putri Kirana, tapi saya tahu kalian berdua adalah orang yang berbeda, entah apa rencana yang di atas kenapa bisa seperti ini."

Aku mengangguk setuju, sebenarnya apa rencana Tuhan?

"Dia juga berbudi luhur, dan sebenarnya Putri Kesara itu bisa bertarung." Lanjutnya lagi.

Aku menaikkan alis tertarik, "Wah, sungguh?"

Puri mengangguk dan menatapku, "Ya, Pangeran Naresh sendiri yang mengajarinya. Untuk pertahanan diri katanya. Tapi, Pangeran Naresh selalu melarang Putri Kesara berlatih tanpa dirinya."

Aku termenung. Fokusku terganti dengan hal lain, membiarkan Puri terus berceloteh.

Apa Naresh melihatku sebagai Kesara?

Kesara begitu sempurna.

Dia sangat memukau kan?

Lalu memangnya kenapa?! Batinku berteriak heboh.

Ya, tidak pantas memang membandingkan diriku yang payah ini dengannya.

"Kau tampak tenang-tenang saja, Puri. Kesara eh maaf maksudku Putri Kesara bukannya sedang entah berada dimana?"

Ini juga pertanyaanku pada Naresh. Kenapa mereka tampaknya santai-santai saja mengetahui hal ini? Apa ada yang disembunyikan? Omong-omong Puri belum tahu perial Naresh yang sudah mengetahui rahasiaku. Entah kenapa aku juga tidak berminat memberitahukan itu padanya.

Puri hanya tersenyum, "Putri Kesara pasti baik-baik saja."

"Lalu apa menurutmu aku tetap melanjutkan pertunangan ini, Puri?" tanyaku keluar topik.

"Tanyakan saja pada hati Putri, bukankah hati tidak pernah berbohong?"

...

Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang