Bab 12
Hei, Siapa Kamu?
"Jadi... kau bukan pencuri?"
Aku memandang orang di hadapanku jengkel, "Bukan."
Hancur sudah ekspetasiku tentang Gema Mahardika. Cowok di depanku ini tidak lebih dari cowok tengil yang punya senyum ceria seperti kelebihan gula dan tidak pernah serius menanggapi kata-kataku. Kuharap Gema tidak seperti ini, karena kalau iya, aku merasa sudah salah mencintai orang dan galau berlebihan tiga bulan belakangan ini.
Omong-omong setelah aksi pedang-pedangan itu, aku dibawa ke sebuah rumah yang terbuat dari bata merah. Rumah ini lumayan luas saat aku dibawa masuk ke sini aku melewati kebun sayur juga ada beberapa bunga. Hm.. rumah ini sejuk dan asri ada pohon besar di depan rumah. Tapi setelah aku masuk isi rumah ini menurutku terlalu lengang.
Bayangkan, saat aku masuk hanya ada meja bundar yang dikeliling empat kursi yang terbuat dari rotan, dan di sanalah aku di berada sekarang.
"Lalu, kenapa kau memetik buah tanpa ijin? Setahuku yang bisa melakukan itu hanya pencuri."
Dia asik memakan anggur di meja, dengan gaya yang sama sekali nggak mencerminkan jiwa pemimpin, dia mengintrogasiku lalu tertawa jika menurutnya jawabanku tidak masuk akal.
"Aku ditugaskan mencari buah persik, aku sudah keliling hutan dan tidak menemukan apapun, jadi saat aku melihat banyak buah itu menggantung di pohon menurutmu aku akan mengabaikannya? Lagian aku tidak tahu bahwa buah itu bertuan." Jelasku mencoba sabar.
Dia mengambil anggur lagi, bahkan tidak repot-repot menawariku. Kepalanya kemudian mengangguk-angguk, "Satu lagi, kenapa kau melempar buah itu pada ajudanku?"
Aku menghela napas panjang, "Dia mengagetkanku dan menuduhku pencuri, tanganku refleks saja melempar buah persik malang itu!"
Cowok itu berdecak, "Hebat! Refleks yang bagus. Tapi refleks kami lebih bagus, menghunuskan pedang misal?"
"Iya, aku berterima kasih padamu karena sudi menolongku. Aku boleh pulang sekarang?"
Serius deh, entah kenapa melihat wajah tengilnya aku jadi tidak sopan begini. Tapi, dia yang-aku-nggak-tahu-namanya sepertinya fine-fine saja.
Lagi-lagi dia mencomot anggur itu kemudian menggeleng, "Belum, kau harus dihukum!"
Aku melotot, aku kan bukan pencuri lagi pula aku tidak jadi mengambil buah itu. Dia tidak kenal aku ya? Bahkan dia sepertinya tidak perlu repot-repot bertanya namaku.
"Enggak— eh? Jangan maksudku! Aku tidak mau dihukum!" aku menggeleng kepala panik. No! Ini akan lebih rumit dari yang aku kira kalau aku sampai dihukum.
"Kau bersalah, orang yang bersalah harus dihukum," katanya santai seolah perkataanya itu tidak lebih dari selamat siang, sudah makan atau belum. Aku memutar otak supaya aku bisa keluar dari sini, tapi bagaimana?
"Oh ya siapa namamu?"
Akhirnya dia bertanya juga, "Aku Kesara." Sahutku acuh
Dia berhenti mengunyah anggurnya, cowok gondrong itu menatapku lekat dan memajukan tubuhnya sikunya bertumpu pada meja, kini wajahnya hanya sejengkal dariku. Membuatku mau tak mau menundurkan badan mentok pada kursi.
Ini orang mau apa sih?
"Kau? Putri Kesara? AHAHAHAHAHAHAHHAAH!"
Dia tertawa tepat di depan wajahku, hingga aku harus memalingkan wajah ke samping. Hei! Dia pikir tindakannya sopan?! Aku memandangnya bingung memangnya ada yang lucu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasyAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
